Menikah Karena Perjodohan

Menikah Karena Perjodohan
Bonus Chapter#11


__ADS_3

Baru saja mengantar anak anak selah, Nyonya Maura mendapat panggilan dari pihak sekolahan. Bahwa putranya telah berkelahi dengan temannya.


Lagi lagi, nyonya Maura menarik nafas panjangnya. Agar tidak mudah emosi dan tidak membuatnya mudah untuk menghakimi anaknya.


"Kenapa lagi dengan Kazza, apakah Kazza melakukan kesalahan lagi?" tanya Omma Qinan sambil mengusap punggung menantunya. Agar kecemasannya tidak begitu menguras emosinya.


"Iya, ma. Kazza berantem dengan temannya, dan Kazza pun meminta pimdah sekolah. Kata tidak nyaman belajar disekolahan xxxx, Kazza dan Reynan maupun Ney juga meminta pindah sekolah." Jawabnya tertunduk bingung.


"Memang mau pindah dimana? semua sekolahan sama saja. Ya sudah, nanti biar Ganan yang menemanimu untuk pergi ke sekolahan menangani masalah Kazza. Kamu tidak perlu mencemaskannya, kamu cukup tenangkan pikiranmu, Maura.."


"Iya, Ma." jawab nyonya Maura dengan sedikit lesu.


Setelah memakan waktu yang cukup lama, tidak terasa sudah sampai di halaman rumah. Maura dan Omma Qinan kemudian membuka sabuk pengaman, kemudian segera turun dari mobil.


"Sayang, kenapa wajah kamu terlihat murung. Apa ada masalah dengan Zakka?" tanya sang suami mencoba menebak.


Apakah kamu sudah mengetahuinya?" tanya sang ibu ikut menimpali.


"Iya, ma. Tadi pihak sekolah telah menelfonku saat aku sedang di perjalanan, akhirnya aku putar balik." Jawabnya menjelaskan.


"Ya sudah, kalau kalian berdua mau berangkat. Ingat, jangan gegabah menentukan keputusan dan jangan mudah menghakimi anak anak atau pun orang lain. Kalian berdua mengerti?" ucap sang ibu menasehati.


"Mengerti, ma." Jawabnya serempak.


"Loh loh.. ada apa ini? kenapa pembicaraan kalian terlihat serius. Katakan, jangan kalian bertiga tutupi dihadapan papa." Tanya sang ayah penasaran saat melihat anak dan istri terlihat membicarakan sesuatu yang serius.


"Tidak ada apa, pa... hanya masalah kecil. Biasa, Zakka cucu kesayangan papa. Ya sudah, kita berdua berangkat dulu ya, ma.. pa."


"Zakka? ada apa dengannya, apa dia melakukan kesalahan? papa ikut."

__ADS_1


"Tidak perlu, papa lebih baik temani istrimu ini untuk perawatan. Biar Zakka ditangani kedua orang tuanya, tugas kita hanya membuatnya bahagia." Jawab Omma Qinan yang langsung menarik tangan suaminya untuk segera masuk kedalam rumah. Kemesraan diantara keduanya masih terlihat masih muda, meski sudah memiliki cucu. Keduanya selalu memperlihatkan kemesraannya didepan khalayak umum.


Sedangkan tuan Ganan dan istrinya segera bergegas pergi ke sekolahan ketiga anaknya untuk menyelesaikan permsalahan anaknya dengan murid yang lainnya.


Didalam perjalanan, nyonya Maura masih terlihat cemas. Sang suami yang memperhatikannya pun heran dan penasaran.


"Kenapa kamu masih terlihat murung, sayang.. percayalah denganku."


"Aku hanya takut, jika anak anak kita dimusuhi anak anak yang lainnya. Aku takut akan kehilangan mentalnya, apa lagi Zakka ingin pindah sekolah."


"Pindah sekolah? kenapa."


"Kata anak anak tidak nyaman, mungkin karena belum terbiasa. Bukankah masih anak anak yang sangat membutuhkan kesabaran bagi orang tua dan juga para guru."


"Iya, sebentar lagi akan masuk sekolah SD. Menurutmu, kota akan masukkan anak anak kita di sekolahan mana?" ucap nyonya Maura dan fokus pandangannya kedepan setelah menghadap ke suaminya.


"Kita ikutin saja kemauan anak anak, kita tidak bisa memaksanya."


Tidak lama kemudian, nyonya Maura segera melepas sabuk pengamannya. Sang suami pun terlihat masih sangat sibuk dengan ponselnya, nyonya Maura sendiri sedikit enggan untuk menegurnya.


"Kamu masuklah terlebih dahulu, nanti aku menyusul kamu. Ingat pesan dari mama, jangan gunakan emosimu. Kamu cukup tenang dan hadapi masalah anak anak dengan bijak, apakah kamu mengerti?" ucap sang suami sambil fokus ke layar ponselnya.


"Iya, tenang saja. Aku pasti bisa melakukannya, tapi jangan lama lama. Nanti aku keburu di hakimi mereka mereka. Kamu tahu, 'kan? aku hanya dikenal sebagai tukang jualan. Gara gara aku membantu ibu ibu menjajakan dagangannya saat ibu ibu itu pingsan." Jawabnya kemudian tersenyum.


"Bagus itu, berarti identitas kamu tidak diketahui. Jadi... ada pertunjukan yang lebih seru." Ledek sang suami sambil meninggikan alis tebalnya.


"Ah sudahlah, aku mau masuk. Takut sudah ditunggu oleh wali murid yang bersangkutan." Ucapnya langsung turun dari mobil.


Dengan langkah kakinya yang sedikit santai, membuat pikirannya kemana mana.

__ADS_1


"Ibunya Zakka ya, Bu?" tanya salah satu guru yang tiba tiba membuat nyonya Maura kaget dibuatnya.


"Iya, Bu. Saya orang tuanya Zakka, dimana putra saya sekarang?" jawabnya dan bertanya.


"Mari ikut saya ke ruangan dewan guru, Bu.." ajaknya untuk masuk ke ruangan. Perasaan nyonya Maura pun sedikit cemas, ditambah lagi anak kembarnya selalu mendapat masalah di sekolahan. Namun, Maura tidak mempedulikannya. Karena memang masa kanak kanak penuh drama dan emosi, jadi tidak membuatnya ikut emosi yang berkepanjangan.


Seteleh sampai di ruangan guru, nyonya Maura berdiam diri diambang pintu. Kedua matanya melihat sosok wanita yang tidak asing baginya, siapa lagi kalau bukan kedua orang tua Daniel.


"Silahkan masuk, Bu.. mari silahkan duduk."


"Terimakasih," jawabnya berusaha untuk tenang.


"Sebelumnya saya mau meminta maaf. Sebenarnya ada masalah apa dengan putra saya, pak.. Bu.." tanya nyonya Maura sedikit penasaran.


"Kamu ingin tahu, anak kamu yang sudah menghajar anakku. Lihatlah, lukanya. Kamu harus bertanggung jawab, kalau kamu tidak bisa bertanggung jawab. Akan saya laporkan kamu ke polisi." Jawab ibunya Daniel mengancam, sedangkan nyonya Maura terlihat sangat tenang. Bahkan perasaan takut dan cemas sudah lenyap begitu saja.


"Baik, jika memang anak saya yang bersalah. Maka saya akan bertanggung jawab sepenuhnya, tetapi jika anak saya tidak terbukti maka anda yang akan saya tuntut." Ucapnya kemudian tersenyum.


'Cuih! gayanya mau bertanggung jawab, apa aku tidak salah dengar? uang dari mana mau menyogok. Aku yakin, setelah ini dia akan malu dan akan kalah telak.' Gumamnya dengan puas.


"Sudah, sudah... dari keterangan keduanya, saya rasa putra ibu telah bersalah." Ucap pak guru kepada nyonya Maura, sedangkan nyonya Maura masih terdiam belum bisa memberanikan diri untuk menjawabnya.


'Tuh kan... apa aku bilang, wanita ini tidak bisa berbuat apa apa. Suaminya saja tidak ikut datang, siapa juga yang akan membelanya. Ditambah lagi Bapak kepala sekolah tidak berangkat, tambah seru nih melihat rasa malunya wanita ini.' Gumamnya dengan penuh percaya diri.


"Pak guru.. kak Zakka tidak bersalah. Daniel yang menampar Ney, pak guru. Ini buktinya, pipi Ney sakit." Ucap Ney yang tiba tiba kedatangannya mengagetkan semua yang berada di ruangan guru.


"Iya, adikku di tampar oleh Daniel. Saya tidak bohong, pak guru.." ucap Reynan ikut menimpali.


"Bohong!! Ney tadi menampar sendiri." Ucap Daniel dengan aktingnya sudah seperti orang dewasa.

__ADS_1


Reynan, Zakka dan Neyla pun kaget mendengar ucapan dari temannya. Tidak disangka, seorang anak kecil sudah bisa berbohong seperti orang dewasa melakukan kebohongan. Kedua orang tua Daniel pun tersenyum mengumpat saat putranya berhasil ditaklukkan.


__ADS_2