Menikah Karena Perjodohan

Menikah Karena Perjodohan
Periksa Kandungan


__ADS_3

Karena cuaca pagi yang begitu cerah dan juga hangat, Ganan mengajak istrinya untuk jalan jalan pagi.


"Sayang, kita mau jalan jalan kemana ini?" tanya Ganan.


"Bagaimana kalau kesana saja, disana ada persawahan. Sepertinya udaranya pun sangat segar, bagaimana?" jawab Maura sambil menunjukkan jalan.


"Boleh, sepertinya sangat menyenangkan." Ucap Ganan tersenyum. Tiba tiba kedua mata Maura melihat penjual sayur yang sedang dikerumumin ibu ibu.


"Sayang, aku pingin beli jajan sama penjual sayur itu. Boleh, kan?" pinta Maura merengek.


"Tapi, sayang... kita beli makanan di mini market dekat sini saja, bagaimana?" jawab Ganan.


"Tapi aku maunya jajanan kampung, kalau jajanan di mini market di Toko Ibu pun banyak. Boleh, ya..." ucap Maura yang masih merengek. Ganan pun bingung, karena takut jika istrinya sakit perut.


"Ya sudahlah, jika itu maunya kamu. Aku turutin, tapi aku tidak membawa uang." Jawabnya.


"Tenang, aku sudah membawa uang." Ucap Maura tersenyum.


"Aku tahu, pasti memang sudah ada dipikiran kamu. Bahwa kamu mau jajan sama tukang sayur, iya kan?" jawab Ganan menebak.


"Benar, sayang..." ucap Maura tersenyum mengembang.


"Hemmmm bisa ku tebak." Jawab Ganan sambil mengekori dibelakang istrinya.


"Eeee... Maura, tambah cantik saja sekarang. Suami kamu juga tampan, ditambah lagi besok resepsi pernikahan kamu." Ucap salah satu ibu ibu yang berbelanja sayuran tanpa sadar siapa yang jualan sayuran.


"Rendi," ucap Maura reflek dan tidak merespon ucapan salah satu ibu ibu.


"Maura.. apa kabarmu?" sapa Rendi penuh rasa malu. Sedangkan Ganan hanya menatapnya datar.


"Sayang," panggil Ganan singkat.


"Sebentar, sayang." Jawab Maura sedikit malu dengan ibu ibu didekatnya.

__ADS_1


Sedangkan Maura segera memilih jajanan yang disukai, setelah itu Maura langsung membayarnya.


"Tidak usah bayar, buat kamu saja." Ucap Rendi, sedangkan Ganan yang mendengarnya menjadi geram. Ingin marah, tetapi malu banyak ibu ibu.


"Kalau aku tidak membayar, nanti kamu rugi. Ambil saja kembaliannya." Jawab Maura dan menarik tangan suaminya lalu segera pergi meninggalkan tampat.


"Maaf ya, sayang.. aku tidak tahu kalau Rendi yang jualan sayuran. Kalaupun aku tahu, aku tidak akan membelinya." Ucap Maura penuh rasa takut.


"Siapa yang marah, aku hanya kesal saja. Orang dibayar kok tidak mau, bodoh sekali Dia." Jawab Ganan dan langsung mengambil sebagian jajanan yang ada ditangan Maura, dan memakannya dengan lahap. Maura yang melihatnya pun keheranan. Entah lah, mungkin saja Ganan terbawa api cemburu.


Tadi melarangku membeli jajanan sama tukang sayur, lalu kenapa dia yang lahap. Hemmm... batin Maura penuh keheranan.


"Sayang, kita pulang yuk.. aku sudah lapar." Ajak suaminya.


"Tapi kita belum sampai persawahan, sayang.." jawab Maura.


"Tapi aku sudah lapar..." ucapnya.


"Baiklah," jawabnya singkat.


Acara resepsinya masih terbilang sederhana, Ibunya Maura maupun kedua orang tua Ganan lebih memilih nuansa pedesaan. Meski ada gedung di pedesaan, namun pihak kedua keluarga tetap memilih rumah di kediaman Almarhum Bapak Sobirun dan Ibu Romlah.


"Kalian dari mana saja? kita sudah sarapan pagi, kenapa kalian baru pulang?" tanya Ibunya Ganan.


"Maaf Ma, tadi kita jalan jalan dan bertemu tukang sayur. Tiba tiba Maura pingin jajanan tukang sayur, jadi kita menikmatinya dipinggir jalan Ma..." jawab Maura beralasan.


"Iya, Ma... rupanya jajanan di kampung enak juga loh. Apalagi makannya di pinggir jalan persawahan." Ucap Ganan ikut menimpali.


"Ya sudah, kalian berdua segera sarapan. Karena setelah sarapan, kalian berangkat ke rumah sakit terdekat. Periksakan kehamilannya Maura, Mama sudah tidak sabar mendengarnya." Perintah Ibunya Ganan.


"Baik, Ma..." jawab Maura dan Ganan. Kemudian keduanya langsung sarapan pagi, dan setelah sarapan pagi keduanya segera bersiap siap untuk berangkat ke rumah sakit.


Karena merasa sudah cukup kenyang dan juga sudah bersiap siap, Maura dan Ganan segera berangkat ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan.

__ADS_1


Dan tibalah keduanya di rumah sakit yang tidak jauh dari rumah Maura. Ganan dengan langkah kakinya yang sejajar dengan Istrinya terlihat serasi, semua yang berada dirumah sakit terpesona dengan sosok yang tidak asing di pemberitaan media sosial maupun di layar televisi.


Setelah mendaftarkan diri, Maura dan Ganan duduk di ruang tunggu seperti yang lainnya. Namun tiba tiba ada sesuatu yang aneh bagi Maura dan Ganan.


"Maaf, apakah Tuan dari keluarga Wilyam dan keluarga Danuarta?" tanya salah satu petugas rumah sakit. Ganan pun heran dibuatnya.


"Iya, ada apa Pak?" jawab Ganan balik bertanya. Sedangkan Maura sendiri bingung dibuatnya.


"Mari Nona, silahkan masuk. Tanpa nomor urut Nona dapat masuk ke ruang pemeriksaan." Ucap salah satu petugas rumah sakit.


"Tunggu, kenapa istri saya didahulukan? bukankah dibelakang kami masih banyak yang mengantri." Tanya Ganan penuh keheranan, karena Ganan tidak mengetahui asal muasal rumah sakit yang didatanginya.


"Bukankah Tuan adalah pemilik rumah sakit ini?" tanya salah satu petugas.


"Pemilik? sejak kapan? kenapa aku tidak mengetahuinya." Jawab Ganan tidak percaya.


"Rumah sakit ini bukankah nama gabungan dari nama Tuan dan Istri Tuan." Jawabnya. Ganan pun segera memeriksa nama rumah sakit tersebut.


"Apa... rumah sakit GANMA WILSOB? artinya apa, Pak?" tanya Ganan yang masih belum mengerti.


"Bukankah nama tersebut nama Tuan dan istri Tuan.. GANMA WILSOB adalah Ganan Maura Wilyam Sobirun." Jawabnya menjelaskan.


"Ooooh.. sejak kapan rumah sakit ini dibangun?" tanya Ganan lagi.


"Sekitar usia Tuan masih 10 tahun," jawabnya.


"Biarlah, saya mengikuti nomor urut yang sudah ada ditangan istri saya. Kasihan yang sudah menunggu antrian dari tadi, waktu orang lain bukanlah waktu saya. Jadi, saya tidak ingin mengambil hak orang lain, meskipun ini rumah sakit milik saya sepenuhnya." Jawab Ganan menjelaskan, sedangkan Maura dan pegawai tersebut benar benar tidak menyangka.


Karena semua mengira bahwa sosok Ganan adalah laki laki yang dingin dan angkuh. Bahkan susah untuk didekatinya, namun kenyataannya sangat berbeda dengan apa yang diduganya. Bahkan mengambil waktu orang lain pun tidak berani, padahal jika difikir Ganan memiliki segalanya. Tapi tidak berani mengambil hak orang lain.


"Baik, Tuan.. jika memang itu yang Tuan inginkan. Jika sudah tidak sabar untuk menunggu, Tuan tidak dilarang untuk masuk duluan." Ucapnya.


"Tidak, terimakasih." Jawab Ganan.

__ADS_1


Sedangkan orang orang yang sedang mengantri pun mendengarkan percakapan Ganan bersama salah satu pegawai rumah sakit sangat kagum akan sosok Ganan yang sebenarnya. Setelah berbincang bincang dengan salah satu pegawai tersebut, Ganan dan Maura segera duduk kembali menunggu nomor urut dipanggil.


__ADS_2