Menikah Karena Perjodohan

Menikah Karena Perjodohan
Panik akan berita yang didapatkan


__ADS_3

Waktu yang sudah dinanti nantikan kini telah tiba. Tuan Angga dan istrinya beserta dengan keponakan keponakannya telah sampai di Bandara. Perasaannya kini terasa lega, dan akan memulai aktivitas seperti biasanya.


Tidak lama kemudian mobil yang ditunggu sudah datang. Tirta dan Nessa masuk ke mobil yang sudah menjemputnya. Begitu juga dengan Tuan Angga dengan istrinya dan juga Zeil dengan suaminya satu mobil.


Didalam perjalanan terasa hening, semua menyandarkan kepalanya disisi jendela kaca mobil masing masing. Rasa kantuk dan lelah yang sudah mengganggu kedua matanya masing masing. Hingga semua kembali tertidur.


Setelah memakan waktu yang lumayan cukup lama, dan kini sudah sampai dihalaman rumah. Pak Tono yang melihatnya hanya garuk garuk kepala, karena tidak ada satupun yang terbangun dari tidurnya.


Bagaimana ini, semuanya kok tidur. Satu pun tidak ada yang bangun, apa iya perjalanannya sangat melelahkan. Bukannya naik pesawat itu enak, ada ada saja tingkah orang kaya seperti keluarga Tuan Angga. Batin pak Tono sambil mencari ide untuk membangunkan majikannya.


Aaaah iya, nak Alfan. Kalau dengan nak Alfan aku tidak begitu canggung. Meski sudah menjadi istri nona Zeil, setidaknya tidak membuatku sungkan. Batin pak Tono yang pada akhirnya mempunyai cara untuk membangunkan majikannya.


"Nak Alfan... bangun... kita sudah sampai," ucap pak Tono sambil menggoyangkan badan Alfan pelan pelan.


Karena merasa ada yang memanggil, Alfan pun segera membuka kedua matanya. Dan dilihatnya ada pak Tono yang tengah membangunkan.


"Ada apa, pak?" tanya Alfan sambil membuka kedua matanya dengan sempurna.


"Kita sudah sampai, dan saya meminta tolong sama nak Alfan. Tolong bangunkan istri nak Alfan untuk membangunkan Tuan dan Nyonya." jawab pak Tono meminta tolong.


"Ooooh, baik pak. Sekarang pak Tono boleh masuk kedalam." perintah Alfan.


"Terimakasih, nak Alfan.." jawab pak Tono, kemudian psk Tono segera masuk kedalam. Sedangkan Alfan mencoba untuk membangunkan sang istri.


"Sayang, bangun.. kita sudah sampai." Bisiknya di dekat telinga sang istri, Zeil yang merasa ada yang memanggilnya segera membuka kedua matanya. Dan benar saja, Alfan tersenyum mengambang menatap wajah istrinya yang baru saja terbangun dari tidurnya.


"Kita sudah sampai?" tanya Zeil sambil mengucek kedua matanya.


"Iya, kita sudah sampai. Dan sekarang aku minta tolong untuk membangunkan tante dan paman. Bisa, kan?" jawab Alfan dan meminta tolong dengan istrinya. Zeil hanya mengangguk, sedangkan Alfan segera keluar dari mobil.


"Tante... bangun.. kita sudah sampai." Ucap Zeil membangunkan tantenya, setelah itu membangunkan pamannya.


"Paman.. bangun...kita sudah sampai." Ucap Zeil membangunkan pamannya. Dan keduanya kini bangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Apa... kita sudah sampai?" tanya Tuan Angga kaget.


"Iya, paman.." jawab Zeil sembari bersiap siap untuk segera turun dari mobil. Begitu juga dengan Nyonya Qinan, yang juga ikut turun.


"Cie..... pengantin baru sudah pulang.. yang habis bulan madu nih.." ledek Ganan yang sudah berdiri di depan pintu bersama sang istri.


"Apa apaan sih, kak Ganan kan sudah pernah." jawab Zeil ketus.


"Kak Maura... Zeil kangen banget sama kakak.. Zeil dengar kak Maura sedang hamil, ya... selamat ya kak.. semoga Zeil segera menyusul." Ucap Zeil memberi ucapan selamat dan memeluk Maura dengan perasaan rindu.


"Aamiin.. semoga kamu juga segera menyusul kakak. Oooh iya, bagaimana acara pernikahannya. Berjalan dengan lancar kan?" tanya Maura.


"Alhamdulillah lancar semuanya kak." Jawab Zeil tersenyum bahagia.


"Mama tidak dipeluk nih..." ucap Nyonya Qinan meledek.


"Mama..." panggil Maura langsung memeluk Ibu mertuanya. Nyonya Qinan pun menerima pelukan hangat dari menantunya.


"Sudah tidak lagi ma, hanya kadang kadang suka iseng mengganggu calon papanya." Jawab Maura sambil melirik kearah sang suami. Sedangkan Ganan hanya tersenyum.


"Dijaga kesehatan kamu ya, sayang... jangan lupa susu dan vitamin dan juga sayuran maupun buah buahan jangan sampai ditinggalkan. Ya sudah, ayo kita masuk." Ajak ibu mertua sambil menasehati.


"Iya, Ma..." jawab Maura tersenyum. Sesudah itu, masuk ke kamar masing masing untuk beristirahat. Namun tidak untuk Maura, justru Maura menyibukkan dirinya di dapur. Dirinya ingin membuat makanan kecil untuk bersantai bersama keluarga.


Sedangkan Ganan masih sibuk diruang kerjanya. Tiba tiba ponselnya berbunyi, seperti ada panggilan penting yang masuk.


Ganan jarang berinteraksi diponselnya dengan orang orang yang tidak penting menurutnya. Dengan sigap Ganan segera menerima panggilan tersebut.


"Halo.. ada berita apa untuk hari ini. Katakan, jangan banyak omong." Ucap Ganan serius.


"Begini Tuan, sepertinya orang yang akan mencelakai Tuan sudah mulai beraksi. Dan saya tidak bisa sembarang untuk menangkapnya." Jawab dari sipenelfon.


"Lakukan pengintaian terus, jangan sampai kamu kehilangan jejaknya. Aku sudah tidak sabar untuk menangkapnya." Ucap Ganan yang semakin geram dan kesal.

__ADS_1


"Baik, Tuan." Jawabnya, kemudian Ganan langsung mematikan ponselnya.


"Ternyata belum kapok juga. Apa perlu aku harus turun tangan, tapi... aaah iya, aku harus menemui Papa. Aku yakin, papalah yang bisa menjelaskannya." Gerutu Ganan sambil mencari cara untuk mengatasinya.


Aaaah aku lupa, Papa kan baru pulang. Gumamnya.


Sedangkan Maura sedang sibuk didapur ditemani salah satu pelayan untuk membantunya membuat makanan kecil.


"Nona, setelah ini kita akan membuat apa?" tanya pelayan.


"Kita akan membuat Niu rou mien sama minuman khas Taiwan, cencu naicha." Jawab Maura sambil meletakkan buku resepnya.


"Maaf Nona, nanti kalau Nyonya dan Tuan tidak menyukainya, bagaimana?" tanyanya penasaran.


"Aaah iya, benar kata kamu Mia, aku tanya dulu sama mereka." Jawab Maura dan langsung pergi. Namun tiba tiba Maura dikagetkan oleh ibu mertuanya.


"Kamu mau kemana, sayang?" tanya ibu mertua.


"Kebetulan ada mama, Maura ingin membuat masakan orang Taiwan beserta minumannya. Tetapi..... Maura takut jika mama dan Papa tidak menyukainya." Jawab Maura gugup.


"Kata siapa, mama suka masakan orang china. Masakannya banyak rempah rempah yang menggoda selera." Ucapnya tersenyum, Maura pun merasa lega. Karena tidak ada lagi yang menolaknya.


"Kalau begitu, Maura melanjutkan masaknya ya, Ma..." jawab Maura dan kembali ke dapur.


"Bagaimana Nona? apakah Nyonya dan Tuan mau?" tanya Mia penasaran.


"Iya, Mia. Sekarang kita lanjutkan masaknya, kamu tidak keberatan, kan?" jawab Maura balik bertanya.


"Ini sudah menjadi tugas saya, Nona.. bahkan seharusnya Nona tidak perlu berada di dapur." Ucap Mia merasa tidak enak, karena Maura selalu membantunya memasak.


Ternyata Nona Maura berbeda dengan yang lainnya, meski sudah menjadi istri orang kaya sekalipun tetap saja tidak pernah bosan berada didapur ini. Begitu juga dengan Nona Zeil, sejak datangnya Nona Maura Nona Zeil menjadi suka menyibukkan dirinya didapur.


Hei readers setia.. Tirta Danuarta dan istrinya beserta anaknya akan muncul di novel "Pernikahanku Yang Kedua" loh... Penasaran? intip yuk... nanti malam babang Tirta masuk ke episode selanjutnya di novel "Pernikahanku yang kedua" loh... ayo ayo merapat.. ☺

__ADS_1


__ADS_2