
***
"Bagaimana bisa aku jadi istri om, orang kartu keluarga dan segala macam yang dibutuhkan buat kita nikah semuanya ada di
perancis” Tanya Rebecca
“waktu kamu kabur dan aku tahu kalau kamu sedang hamil, aku langsung ke perancis untuk menemui orang tua kamu dan meminta kartu keluarga kamu untuk mendaftarkan pernikahan kita” balas zian tersenyum
“emang mama gak marah?” Tanya Rebecca
“tentu saja marah. Tapi seperti yang kamu bilang saat itu, mama kamu adalah orang yang kolot jadi dia langsung lempar kartu keluargamu dan mengancam ku untuk cepat menikah denganmu, karena kau sudah hamil" balas zian
melihat raut wajah rebecca, Mama kaila langsung menggenggam tangan Rebecca “omongan mamamu mah gak masalah buatku, Yang ngomongnya jauh lebih pedas dari mamamu juga ada di sini" ucap zian melirik mama kaila "Tapi aku tetap paling menyayanginya di atas siapapun”
balas zian menatap mama kaila
mama kaila begitu terharu dengan ucapan zian, lalu beralih menoleh ke arah rebecca "ya sayang, mamamu memang pedas kalau ngomong tapi semua yang sudah tahu sifat mamamu tak akan mempermasalahkan ucapannya” balas mama kaila
“benarkah?” Tanya Rebecca memastikan
“tentu saja Rebecca, kau tak ingat bagaimana dulu aku menjawab setiap ucapan mamamu?" sahut ningrum membenarkan ucapan mama kaila
“kalian gak bohong kan?” Tanya Rebecca
“enggak, sayang tante kan sudah mengenal mama kamu
jauh sebelum kamu lahir jadi tante gak pernah sakit hati lagi dengan ucapan mama kamu yang pedesnya kaya cabe setan itu. Ya walaupun terkadang tante akan selalu balas ucapan mama kamu sih” balas mama kaila
Rebecca tersenyum kearah mama kaila
zian menoleh ke arah ayah virza “berarti zian gak di usir kan?” Tanya zian memastikan pada ayahnya
ayah virza menghela nafas “ya sudah” balas ayah virza pasrah
ayah virza menajamkan matanya ke arah zian “tapi jangan buat suara gaduh di malam hari loh, mentang-mentang hampir sebulan gak ketemu” ucap ayah virza memperingati zian putra sulungnya
zian menautkan kedua alisnya “ayah lupa ya kalau kamar anak-anak ayah kedap suara
semua? Kan Cuma kamar tamu saja yang gak kedap suara” balas zian tersenyum menang
Mama kaila menahan tawanya “tapi kamu lupa sesuatu ya?” Tanya mama kaila
zian menaikkan sebelah alisnya “lupa apa?” Tanya zian
“kan Rebecca belum lama ini pendarahan, dan dia yang
masih hamil trisemester pertama, jadi gak boleh di gempur” balas mama kaila terkekeh
zian membelakkan matanya lebar “apa gitu mah?” Tanya zian
“iya lah” balas mama kaila tertawa lantang
__ADS_1
“mama gak ngerjain zian kan?” Tanya zian memastikan
Jonathan terkekeh “iya tau, dulu saja aku dan ningrum gak kaya gitu sampai usia kandungan ningrum masuk trisemester 2, karena satu waktu pernah kita kaya begitu waktu masih awal-awal kehamilan, ningrum suka keram” tambah
jonathan
“aku juga gitu kali kak, gak kayak gitu sama miranda, kasihan dia kenapa-napa. mana kakak ketambahan Rebecca yang abis pendarahan kemarin” tambah aditya terkekeh
“rasain tuh, kena batunya kamu” ucap ayah virza tertawa penuh kemenangan
“kok gitu sih?” kesal zian
“hahahahaha” tawa keluarga besar bagaskara menertawakan raut wajah zian yang seolah tak Terima dengan hal tak boleh menyentuh istrinya padahal dia sudah susah-susah datang ke Perancis untuk mengurus pernikahan
Rebecca yang melihat tawa keluarga suaminya begitu
menenangkan seakan mengangkat ketakutan yang ada dalam hatinya
***
Rafasya dan Mila pergi ke daerah-daerah pedalaman
yang cukup eksotis dan menarik untuk di kunjungi
“kamu kok nyari tempat liburan yang di pelosok kaya gini
sih sya?” Tanya mila yang sedang memapah rafasya berjalan ke kamar inap mereka
“bukannya gitu sya, kamu kan belum sembuh total, jalanmu saja masih kesusahan kaya gini, nanti kamu kecapean loh? Ya walaupun aku papah kamu tapi bukan berarti kamu gak capek kan? ” balas Mila
Mila mendudukkan rafasya ke tepi ranjang “kamu mau mandi
dulu? Apa makan dulu?” Tanya Mila
“kayanya mandi dulu deh” balas rafasya yang merasa
cukup kegerahan karena perjalanan mereka yang cukup jauh
“ya sudah mandi saja dulu” Mila langsung membuka baju rafasya tanpa meminta persetujuan rafasya
Rafasya menahan tangan Mila yang akan membuka bajunya “kamu mau ngapain?” Tanya rafasya
“lah katanya mau mandi” balas Mila
“iya memang aku mau mandi tapi kamu ngapain ?” Tanya rafasya mengulang pertanyaannya
“ya bantuin kamu mandi” balas mila polos
“gak perlu, aku bisa mandi sendiri” balas rafasya
“kenapa? Biasanya juga aku bantuin mandi kamu” balas
__ADS_1
mila yang memang sudah terbiasa membantu rafasya mandi
“yakan itu dulu, sekarang beda” balas rafasya
“apa bedanya? Sama saja. Lagian aku juga sudah lihat
kamu dari atas sampai bawah waktu ngerawat kamu jadi apa masalahnya?” Tanya Mila
wajah rafasya merona merah dengan ucapan mila “iya itu kan dulu karena aku gak bisa mandi sendiri, sekarang aku bisa mandi sendiri” balas rafasya
“ya sudah terserah kamu saja” balas Mila
“ya sudah aku mandi dulu, nanti tinggal kamu yang mandi” ucap rafasya berusaha berdiri
“tunggu dulu” mila menahan langkah rafasya yang ingin masuk kamar mandi “kenapa tadi
kamu bilang kita gantian mandi? Aku kan bias mandi di kamarku sendiri, ngapain juga nungguin kamu mandi” Tanya mila
“aku Cuma pesan satu kamar saja” balas rafasya datar
Mila tersenyum kearah rafasya “jadi pesan satu kamar nih?” Tanya mila dengan nada meledek
Rafasya menjadi gugup “jangan salah paham ya? Biasanya kan kamu nungguin aku tidur dulu
baru tidur di kamarmu, jadi dari pada kamu bolak balik kamar dan ngabisin uang, ya sudah pesan 1 kamar saja. Lagian kamar ini cukup besar kok” balas rafasya
Mila melirik kamar inap mereka yang terbilang cukup
besar dan ranjang yang cukup besar pula “ah ya memang cukup besar” balas mila tersenyum
Muka rafasya sudah merah seperti tomat yang sudah matang “sudah lah aku mau mandi dulu” ucap rafasya bergegas menuju kamar mandi
Setelah mereka selesai membersihkan diri, rafasya dan
mila memutuskan untuk makan di dalam kamar
“kok malah makan di kamar sih mil?” Tanya rafasya
“kamu tuh sudah capek seharian ini karena perjalanan
kita yang memakan waktu cukup lama jadi sekarang kamu harus mengistirahatkan tubuh kamu jangan terlalu capek” balas Mila
“kamu cerewet banget” balas rafasya memanyunkan bibirnya
“biarin cerewet, yang penting kan cerewetnya demi
kebaikan kamu” balas Mila tak perduli dengan ucapan rafasya
Rafasya menyunggingkan senyumnya mendengar ucapan
mila
__ADS_1