Menikah Karena Perjodohan

Menikah Karena Perjodohan
Malam penuh gairah (season 2)


__ADS_3

 “kenapa? Kau tak siap melakukannya denganku?” Tanya rafasya dengan deru nafas memburu dan mata


yang sudah berkabut gairah


“bukan begitu sya, tapi kamu belum sembuh betul, aku


takut kamu terlalu capek” balas Mila


Rafasya yang mengungkung tubuh Mila merubah posisinya dan membuat Mila berada di atasnya dengan sekali gerakan “kalau kamu takut aku capek, ya sudah kamu saja yang kerja” tawar rafasya duduk memeluk Mila dan mencium tengkuk Mila dengan penuh gairah


“aku yang kerja?” Tanya Mila dengan suara tersengal


karena rafasya yang terus menciumi leher jenjang mulusnyab dan makin turun kebawah,


membuka pengait benda berkacamata itu dan membuangnya ke sembarang arah


“ahhhhh” Mila merasakan geli saat rafasya mulai memainkan benda kembar yang menantang jiwa kelelakian rafasya itu


Rafasya mendongak kearah Mila “katanya kamu gak pengen aku capek, tapi kenapa malah diam saja?” rafasya lembali memainkan benda dihadapannya itu layaknya squisy itu, meremas dan memilinnya serta sesekali mengulumnya dan memberikan gigitan kecil di sana


“emmmm” Mila mencoba menahan gelanyar aneh yang


sedang ia rasa "sebenarnya aku pengen yang kerja agar kamu tak kecapean tapi gimana caranya? Aku gak tahu gimana sya?” Tanya Mila polos


Rafasya menghentikan aktivitasnya, membelalakkan matanya lebar, mendongak kearah Mila “masa kamu gak tahu gimana caranya?” Tanya rafasya


“ya gak tahu lah, pernah nyobain aja gak, jadi gimana bisa ngelakuinnya sya" balas Mila


memukul lengan rafasya


Rafasya terkekeh “emang kamu belum pernah kaya gitu?”


Tanya rafasya


Mila menatap tajam kearah rafasya “kamu piker aku


apaan? aku kan belum pernah menikah, jadi mana mungkin sudah pernah begitu” balas Mila mengerucutkan bibirnya


Rafasya tersenyum, lalu membalik tubuh mila agar berada di bawahnya “ya sudah aku yang akan ajarin kamu” ucap rafasya kembali ******* bibir Mila


Mila mendorong pelan tubuh rafasya “tapi kaki kamu gimana sya?” Tanya mila masih khawatir dengan kondisi kaki rafasya


“kita coba dulu, kira-kira aku bisa gak? Kan selama sakit belum di cobain, kira-kira masih kuat gak” ucap rafasya kembali *******


bibir Mila


Rafsya mulai melepaskan benda yang tersisa di tubuhnya dan juga yang masih melekat di tubuh Mila, rafasya mengarahkan senjata perangnya ke liang kenikmatan milik mila “pelan ya sya” pinta Mila menggigit jarinya takut saat akan ada yang berusaha menjebol gawang pertahanannya


Rafasya tersenyum “iya” balas rafasya mulai menancapkan senjata perangnya


“aaaakkkhhhh” teriak Mila mencengkeram bahu rafasya


kuat


“sakit ya?” Tanya rafasya menghentikan kegiatannya

__ADS_1


“iya” ucap Mila menahan sakit


rafasya melihat Mila yang kesakitan jadi tak tega “kalau sakit banget, kita sudahi dulu saja, lanjut besok lagi saja ya ” ucap rafsya berniat menarik senjata pamungkasnya itu


“jangan” mila menahan lengan rafasya agar tak


menjauh “aku akan tahan” ucap mila


“tapi kamu kelihatan sakit banget” Tanya rafasya


“gak papa, aku masih bisa menahannya. Nanti kalau


kamu takut aku sakit, malah kamu yang sakit” balas mila


“kenapa kamu bisa bilang gitu?” Tanya rafasya bingung


“kata orang kan, kalau nahan itu bikin kepala cenut-cenut dan bahkan bisa sakit kalau di tahan” balas mila yang pernah mendengar cerita tentang itu saat pernah mengikuti seminar


Rafasya terkekeh “aku gak sampai segitunya tega sama kamu mil” balas rafasya ingin beranjak


“sudah lanjutkan saja” mila menarik tengkuk rafasya


dan rafasya melanjutkan kegiatan panas mereka dengan suara-suara memabukkan di penjuru ruangan


Untung saja kamar mereka kedap suara, karena memang


kamar yang dipesan rafasya adalah kamar khusus bulan madu sehingga terlihat luas dan dengan pemandangan yang indah


Rafasya terus memompa mila sampai bermandikan


keringat “sya aku mau pipis” ucap mila mengeratkan pegangannya di bahu rafasya


“ih aku mau pipis sya, masa dikeluarin bareng?” Tanya


Mila dengan suara tak jelas karena rafasya yang makin kuat memompa tubuh Mila


“tak apa, ayo bersama keluarkan” balas rafasya makin


kuat mengguncang tubuh Mila


“aaaaaaakhhhh” teriak Mila


Rafasya mengecup kening Mila cukup laman dan berbaring di samping Mila “Terima kasih” ucap rafasya menoleh kearah Mila


Mila menoleh kearah rafasya “terima kasih buat apa?”


Tanya mila bingung dengan suara yang masih memburu


“terima kasih selalu ada di sampingku selama ini,


terima kasih sudah merawatku, dan terima kasih sudah mau jadi istriku” ucap rafasya mengecup bibir Mila


Mila tersenyum kearah rafasya “iya” ucap mila


memiringkan tubuhnya berniat memeluk tubuh rafasya

__ADS_1


“akkkkh!” teriak mila kesakitan saat menggeser tubuhnya


“kenapa?” Tanya rafasya khawatir


“sakit” balas Mila


“apanya?” Tanya rafasya


“itu” tunjuk mila pada bagain tubuh bawah miliknya dengan


lirikan matanya


“coba aku lihat” pinta rafasya menarik selimut mila


Mila menahan selimut yang akan di tarik rafasya “jangan malu ah” ucap mila


Rafasya terkekeh “kenapa malu, aku juga sudah melihat semuanya” balas rafasya menarik paksa selimut mila


“mana?” Tanya rafasya memindai tubuh bagian bawah mila


“sudah ah jangan di lihat lagi, ucap mila menutup bagian intinya dengan kedua tangan


Rafasya melirik bekas noda merah di atas seprai, membuat rafasya menyunggingkan senyumnya


“ya sudah, aku basuh dengan air hangat saja” ucap


rafasya mengambil air hangat dan handuk kecil


Rafasya membersihkan inti mila dengan perlahan “sebenarnya


aku ingin menggendongmu saja untuk berendam, tapi sepertinya aku belum bisa menggendongmu,


jadi maaf ya” ucap rafasya sembari membersihkan inti mila


Mila tersenyum “seperti ini juga sudah cukup baik


untukku, dulu aku kira kau benar-benar tak bisa melakukannya. Dan tadi saat kau


mengajakku menikah aku sudah memantapkan hati untuk jadi perawan seumur hidup,


tapi ternyata sekarang sudah gak perawan lagi” ucap mila terkekeh


“tapi tentang tidak punya anak itu mungkin benar mila” ucap rafasya menunduk


Mila berusaha duduk dan memeluk rafasya “gak punya anak juga gak masalah sya, kalau benar ingin kita juga bisa adopsi, banyak anak yang membutuhkan orang tua di luar sana. Ada kamu di sisiku itu sudah cukup” balas mila


“terima kasih” balas rafasya membalas pelukan mila


Mila mengeratkan pelukannya, membuat tubuh polos mereka saling bersentuhan “kau mau menggodaku lagi ya mil?” Tanya rafasya


Mila melonggarkan pelukannya “menggoda apanya?” Tanya


mila bingung


“lihat tuh, dia jadi bangun lagi gara-gara kamu” ucap rafasya menunjuk senjata perangnya yang sudah berdiri tegak bersiap akan berperang kembali

__ADS_1


“ah, harus di tidurin lagi ya?” Tanya mila menutup mulutnya


rafasya mendorong tubuh mila sampai jatuh di ranjang “ya sudah lanjut lagi saja” ucap rafasya kembali menggempur mila habis-habisan, sampai pagi menjelang


__ADS_2