
Zeil masih gugup berada di dalam ruangan hanya berdua dengan suaminya. Zeil yang merasa dirinya ditatap oleh suaminya, membuat jantung Zeil berdegup sangat kencang. Nafasnya pun berubah menjadi terasa panas, tubuhnya terpojok oleh tembok. Zeil mencoba melihat disekelilingnya, berusaha mencari kursi untuknya duduk. Dan Zeil pun tersenyum mengembang dalam hatinya, apa yang diinginkannya sudah ada didekatnya. Dengan pelan Zeil menggeser tubuhnya untuk mendekati kursi yang akan dituju.
Alfan yang melihat ekspresi Zeil pun segera menangkap apa yang Zeil pikirkan. Alfan pun mengikuti arah Zeil menggeser badannya untuk segera duduk. Zeil pun tidak berhati hati saat akan duduk, tanpa Zeil sadari apa yang dibayangkannya kini seperti sebuah ancaman maupun malapetaka.
"Aaaaawww.." seru zeil kaget.
"Awas..." seru Alfan yang segera menangkap istrinya. Namun naas, Alfan pun ikut terjatuh dan menindih tubuh Zeil. Keduanya pun terhanyut dalam ciumannya yang tidak sengaja, Zeil hanya bengong saat b*bir keduanya saling beradu. Alfan maupun Zeil sama sama hilang kesadarannya, entah apa yang mereka berdua pikirkan. Hingga terlena akan suasana yang hening. Namun tiba tiba Zeil sadarkan diri dari lamunannya. Dan dengan sigap Zeil segera bangun dan berdiri.
Zeil yang sedang bingung akan statusnya yang sudah menikah, namun tidak menyadari jika Alfan adalah suaminya yang sah.
"Jahaat...... kak Alfan kenapa kamu
menciumku! salahku, apa....? kak alfan tega sudah menodai aku. Kak alfan benar benar jahat, kak Alfan sudah berani menciumku." Ucap Zeil berulang ulang membuat Alfan melotot keheranan akan penuturan dari Zeil.
"Enak saja, kamu tuh yang merencanakan ini semua. Kamu sengaja jatuh dari kursi untuk mendapatkan cium*nku, kan? sudahlah Nona Zeil, jujur saja." Goda Alfan yang pura pura tidak mengerti.
"Enak saja, yang keenakan itu kak Alfan. Semua lelaki itu sama, suka mencari kesempatan." jawab Zeil yang juga belum menyadarinya.
"Apa Nona bilang? mencari kesempatan. Bukannya kamu, Nona?" ledek Alfan yang semakin gemas akan ekpresi Zeil.
"Kak Alfan tuh dari dulu tidak pernah berubah, selalu membuat Zeil kesal." Ucap Zeil semakin kesal akan godaan dari suaminya.
__ADS_1
"Aaah sudahlah, ayo kita keluar dari ruangan ini. Agar kamu sadar siapa kamu, Nona muda..." ajak Alfan yang segera menggandeng Zeil. Sedangkan Zeil pun fokus dengan tangan suaminya yang tengah menggandengnya. Dan saat itu juga, Zeil tersadar akan setatusnya. Zeil sadar akan penampilannya yang masih mengenakan baju pengantin.
Zeil yang berawal seperti Tommy and Jerry tiba tiba berubah seperti putri malu. Tanpa ada suara apapun yang terucap, hanya diam membisu saat mengikuti langkah suaminya.
Alfan yang menyadari bahwa istrinya yang sudah sadarkan diri pun tersenyum mengumpat.
Tadi aku mengatakan apa padanya, bukankah aku tadi memarahinya karena telah menciumku. Gawat ini, pasti nanti malam aku akan dihabisinya. Apa aku sudah siap... ah... semoga saja tidak. Mengerikan sekali jika dia meminta haknya, habislah aku dalam kamar. Batin Zeil yang masih mengikuti langkah suaminya.
Pantas, Tuan Muda Ganan lebih memilih dihotel dari pada bermain sky. Tenyata ini toh rasa manisnya yang lembut itu. Akupun ketagihan, aaah bicara apa aku ini. Sesuatu yang tidak sengaja saja marah marah, apalagi dengan kesadaran. Bisa bising telingaku. Batin Alfan yang berusaha menahan senyumnya.
Alfan dan Zeil kemudian mengganti pakaiannya, karena terasa sangat risih. Keduanya segera mengganti pakaiannya.
Sesekali Zeil melirik kearah Alfan suaminya. Begitu juga dengan Alfan yang ikut milirik kearah istrinya. Keduanya pun akhirnya sama sama membuang muka, meski pada akhirnya Alfan dan Zeil menyumputkan senyumnya.
Acaranya pun berjalan dengan lancar, tidak ada hambatan sedikitpun. Semua para tamu undangan telah meninggalkan tempat. Tidak hanya itu, sebagian keluarga yang menetap di Amerika pun berpamitan untuk pulang. Kini tinggallah keluarga Wilyam yang sedang sibuk bersiap siap untuk segera pulang ke rumah Tuan Zio.
Sesampainya di rumah, matahari pun tidak menampakkan lagi, gelap dan sunyi. Kemudian semuanya segera masuk ke kamar masing masing untuk beristirahat. Namun tidak untuk Zeil dan Alfan yang serba salah tingkah untuk beristirahat.
"Cepetan mandi, nanti keburu ngantuk." Perintah Alfan sembari membuka pakaiannya satu satu, Zeil pun terpesona saat melihat tubuh Alfan yang kekar dan berotot sempurna. Ketampanannya pun menggoda Zeil yang juga sedang melepas perhiasan yang menempel ditangannya.
Alfan yang merasa diperhatikan oleh Zeil segera mendekatinya. Zeil pun bingung dibuatnya, lagi dan lagi Zeil dibuat kikuk atas sikap suaminya. Ditambah lagi suaminya benar benar tampan dan menggoda. Zeil menggigit b*bir bawah karena gugup. Alfan yang melihat ekspresi istrinya hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Baru sadar ya, kalau suami kamu ini sangat tampan dan menggoda. Apa kita mau memulainya sekarang?" ucap Alfan menggoda, sedangkan Zeil kikuk dibuatnya. ingin menjawab takut salah, tidak menjawab pun tetap salah.
"Mulai apa?" tanya Zeil pura pura tidak mengerti.
"Mandi dulu sana, badan kamu bau. Bagaimana aku mau memulainya, kamu saja belum mandi." Jawab Alfan yang masih menggoda istrinya.
"Iya, aku mau mandi. Jangankan aku yang bau, kak Alfan saja masih bau badan." Ucap Zeil asal.
"Apa kamu bilang, kak Alfan? sejak kapan kamu jadi adikku?" tanya Alfan mengerjai. Zeil pun geram dibuatnya.
"Memang aku harus memanggilnya siapa? manggil kak Alfan salah, ya?" jawab Zeil balik tanya.
"Panggil.... sa...yang," bisik Alfan di dekat telinga istrinya. Sedangkan Zeil bergidik ngeri, karena Zeil tidak pernah mengucapkan sebutan sayang dengan siapapun. Bahkan Zeil sendiri tidak pernah berpacaran, karena menurut Zeil benar benar menggelikkan dengan sebutan sayang.
"Sa... yang," ucap Zeil singkat.
"Iya, jadi mulai sekarang kamu harus memanggilku dengan sebutan sayang. Kalau kamu masih memanggilku dengan sebutan kakak, maka aku akan memberi hukuman untuk kamu. Pijit sesuai seleraku, dan dilarang membantah." Jawab Alfan yang masih meledek istrinya dengan cara menakuti istrinya. Sedangkan Zeil hanya menelan salivanya dengan susah payah. Alfan yang melihat ekpresi istrinya yang begitu menggemaskan serasa ingin tertawa puas. Namun dirinya berusaha untuk menahannya tawanya.
"Baiklah kalau begitu. Sekarang aku mau mandi dan istirahat." Ucap Zeil yang langsung masuk ke kamar mandi.
Gawat ini, tuh kan.... pasti meminta haknya. Bagaimana ini? aku tidak tahu harus memulai dari mana, benar benar membuatku sulit. Ternyata menikah tidak semudah yang aku bayangkan. Lihatlah, aku belum memulainya saja sudah kebingungan. Batin Zeil dengan perasaannya yang tidak karuan didalam kamar mandi.
__ADS_1