Menikah Karena Perjodohan

Menikah Karena Perjodohan
Bonus Chapter#2


__ADS_3

Maura dan Ganan kini sudah sampai ditempat yang dimana Maura inginkan.


"Sayang, ayo kita turun." Ajak Ganan sambil melepas sabuk pengaman. Sedangkan Maura seperti menahan rasa berat pada kedua kakinya.


"Sayang, kamu kenapa? sakit?" tanya Ganan cemas sambil memperhatikan istrinya yang seperti kurang nyaman.


"Aku tidak tahu, tapi kakiku rasanya tidak karuan." Jawabnya sambil melepas sabuk pengaman.


"Coba aku periksa kaki kamu." Ucap Ganan sambil membungkuk mencoba memeriksa keadaan kaki sang istri.


Ganan pun tercengang saat melihat kedua kaki milik istrinya yang terlihat membengkak.


"Sayang, kaki kamu bengkak. Kita ke Dokter, ya. Aku takut terjadi apa apa sama kamu." Ucapnya lagi dengan perasaan cemas.


"Apa.. kaki aku bengkak? tidak mungkin, sayang. Tadi kaki aku baik baik saja, kok.." jawab Maura sedikit tidak percaya.


"Pakai lagi sabuk pengamannya, kita akan pergi ke Dokter." Ajaknya.


"Jangan ngebut ngebut,l ya, sayang.." pinta Maura yang merasa sudah tidak karuan rasanya.


"Mungkin karena didalam rahim kamu ada calon anak kembar kita. Jadi membuat kaki kamu bengkak. Lihatlah, perut kamu yang semakin ngeri aku untuk melihatnya. Ditambah lagi kamu selalu meminta banyak beraktivitas, aku semakin takut." Ucap Ganan sambil fokus menyetir.


"Mungkin saja," jawabnya lesu.


"Sudah, jangan bersedih. Kamu pasti kuat dan sabar. Aku sudah meminta seseorang untuk menjemput mama di kampung. Karena aku yakin, bahwa kamu pasti membutuhkan seorang mama disampingmu." Ucap Ganan menenangkan, agar tidak banyak pikiran. Sebisa mungkin Ganan melakukan yang terbaik untuk sang istri. Ditambah lagi Maura yang sedang hamil anak kembarnya. Ganan terasa sangat bahagia, yang dimana dirinya akan mendapatkan sang buah hati kembar.

__ADS_1


Ganan masih merahasiakan calon anaknya yang akan segera lahir, Ganan hanya memberitahukannya bahwa dirinya akan mendapatkan anak kembar, itu saja.


Tidak lama kemudian, Ganan dan Maura sudah berada di rumah sakit. Maura segera ditangani oleh sang Dokter.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Ganan dengan raut wajah yang begitu sangat cemas akan keadaan sang istri.


"Keadaan istri tuan, baik baik saja. Hanya saja jangan dibiarkan untuk terlalu banyak beraktivitas. Sepertinya jalan satu satunya akan dilakukan secara cesar. Karena janin bayi yang ada dikandungannya sepertinya sulit untuk lahiran normal. Tuan sudah melihat sendiri, bukan? karena ini menyangkut tidak hanya nyawa satu atau dua nyawa, tuan..." jawab sang Dokter menjelaskan.


Ganan yang sangat takut akan resiko yang didapatkan, Ganan hanya pasrah dengan apa yang diperintahkan oleh sang Dokter.


"Saya nurut saja, Dok. Yang terpenting istri dan anak anak saya semuanya selamat. Karena saya tidak ingin kehilangan sesuatu yang saya cintai. Sebisa mungkin saya akan melakukan yang terbaik untuk mereka." Ucap Ganan penuh yakin.


"Baiklah, untuk sementara ini istri tuan biarlah dirawat di rumah sakit. Karena kita tidak memiliki waktu lama lagi, dan tinggal menghitung hari sudah jadwalnya untuk dilakukan operasi. Saya harap besok pagi tuan segera mengurus persalinan istri tuan." Ucap sang Dokter memberi saran.


"Baik, Dok. Besok saya akan mengurusnya." Jawab Ganan, sedangkan sang Dokter langsung pergi meninggalkan ruangan yang dimana Maura di rawat.


Ceklek, nyonya Qinan membuka pintu dan segera masuk bersama tuan Angga.


"Sayang, bagaimana keadaan kamu? Ganan bilang kaki kamu bengkak?" tanya ibu mertua dengan cemas dengan keadaan Maura yang sedang berbaring.


"Maura tidak apa apa kok, ma.. kaki Maura hanya bengkak. Mungkin karena Maura hamil anak kembar, ma.." jawab Maura berusaha tenang, agar ibu mertuanya tidak begitu cemas yang berlebihan.


"Kata Dokter, dalam waktu dekat ini Maura harus segera di operasi. Mama tau sendiri, kan? Maura hamil kembar. Dan Dokter pun sudah menganjurkan untuk menjalani persalinan. Disamping takut terjadi apa apa, bayi yang didalam kandungan pun sudah siap untuk lahir, Ma." Ucap Ganan ikut menimpali.


"Papa sangat bahagia, karena sebentar lagi papa akan mendapatkan cucu kembar. Papa sudah tidak sabar untuk menyambut cucu cucu papa. Pasti cantik dan juga ganteng seperti mamanya dan juga kakeknya." Ucap tuan Angga menimpali sambil tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Loh kok gantengnya seperti kakeknya. Seperti papanya dong, pa.. ah.. kalau soal ganteng dari dulu papa tidak mau kalah. Hemm" jawab Ganan sambil memanyunkan bibirnya. sedangkan Maura dan ibunya Ganan tertawa kecil.


"Sudah sudah, kasihan menantu mama. Sepertinya butuh istirahat, kalau begitu mama dan papa pulang dulu ya, sayang.... besok pagi mama akan datang lagi kesini. Dan kamu, Ganan. Jaga istri kamu dengan baik, jangan banyak beraktivitas. Kasihan kakinya yang sudah bengkak." Ucap sang ibu mengingatkan dan berpamitan.


"Iya, ma." Jawab keduanya.


"Oh iya ma, tadi paman Galuh dan paman Vino datang ke rumah menyampaikan pesan untuk mama dan papa. Bahwa satu minggu lagi hari pernikahan Vika dan Dika. Tepatnya di gedung Xxx." Ucap Ganan.


"Mama sudah tahu, tadi paman kamu sudah menelfon papa. Ya sudah, mama dan papa pulang." Jawabnya lalu pergi meninggalkan Ganan dan Maura.


Karena sudah terasa mengantuk, Ganan dan Maura segera tidur, keduanya pun terlelap dari tertidurnya.


Sedangkan di lain tempat, Nessa sudah merasa tidak nyaman untuk tidur. Badannya terasa gerah, bahkan AC pun tidak membuatnya nyaman. Nessa masih saja selalu salah posisi tidurnya.


"Sayang, aku gerah banget. Bagaimana ini? aku tidak suka dengan AC, rasanya bikin pusing dikepala. Aku ingin tidur dirumah mama. Disana masih ada angin dari luar yang masuk ke dalam rumah. Berbeda dengan rumah kamu ini. Aku merasa susah untuk bernafas." Ucap Nessa yang tiba tiba merengek ingin pindah tempat.


"Talo sayang, ini sudah malam. Bagaimana kalau besok, aku janji mulai besok kita tinggal di rumah mama kamu. Kalau untuk malam ini sepertinya tidak bisa karena sudah larut, sayang.." jawabnya bernegosiasi.


"Apa kamu tega, melihatku yang tidak nyaman untuk tidur? aku sangat mengantuk dan juga gerah pastinya. Aku ingin tidur dengan nyaman, aku sangat rindu rumah mama." Ucap Nessa yang masih merengek.


"Baiklah, ayo kita berangkat." Ajak Tirta yang merasa kasihan melihat istrinya merengek.


Nessa dan Tirta segera keluar dari kamarnya, kemudian menuruni anak tangga. Sesampainya dibawah tangga, Nessa maupun Tirta dikagetkan oleh sang ibu.


"Nessa.. Tirta.. mau pergi kemana kalian tengah malam begini, hah?" tanya sang ibu mengagetkan.

__ADS_1


"Nessa ingin tidur di rumah mamanya, Ma. Katanya dirumah sangat gerah, dan ingin merasakan suasana dirumah mamanya. Entahlah, Ma. Tirta belum mengerti dengan keinginan wanita hamil, Tirta hanya berusaha memberinya kenyamanan untuk istrinya Tirta, Ma." Jawab Tirta sambil menggandeng tangan tangan sang istri mesra.


"Oooh, ingin tidur di rumah mama Bella. Tidak apa apa, mama mengerti dengan kondisi wanita yang sedang hamil. Pasti tidak akan pernah menyangka dengan sesuatu yang diinginkan oleh wanita hamil. Kamu cukup mengerti dan jangan menyakiti perasaan sang istri. Hati hati di perjalanan, jangan kebut kebut." Ucap sang ibu memberi pesan.


__ADS_2