Menikah Karena Perjodohan

Menikah Karena Perjodohan
Bonus Chapter#10


__ADS_3

Dipagi hari, Maura dan Omma Qinan sedang memakaikan baju ketiga bocah kembar. Yang tidak lain, Rey, Zakka ,dan Ney. Setelah selesai, Maura mengajak ketiga anaknya untuk sarapan pagi bersama.


Dengan gaya tomboynya, Neyla tetap terlihat gadis kecil yang lucu. Sedangkan kedua kakaknya masih saja menunjukkan aura yang dingin, meski sering membuat banyak orang yang geram melihat ketiga cucu kakek Angga yang sering membuat onar.


"Kakek, nanti jemput kita ya..." rayu Neyla sambil menikmati sarapan paginya.


"Kenapa mesti kakek sih.... kan masih ada Omma Qinan." Jawabnya beralasan.


"Kalau yang jemput kita Omma Qinan atau mama Maura, yang ada kita bertiga tidak bisa merayu." Ucap Zakka sambil melirik kearah sang ayah yang sering menasehati.


"Baiklah, nanti kakek yang akan menjemput kalian bertiga." Terangnya, lalu melanjutkan sarapan paginya.


Semua tengah menikmati sarapan pagi bersama keluarga, tidak ada yang bersuara saat menikmati sarapan pagi. Begitu juga dengan ketiga anak Ganan, ketiganya tetap nurut dengan peraturan di rumah. Meski kenyataannya selalu membuat masalah, dan terkadang sulit untuk dikendalikan. Namun, tetap diberi nasehat.


Setelah selesai sarapan pagi, semua bersiap siap dengan aktivitasnya masing masing. Maura mengantar ketiga anaknya ditemani Omma Qinan.


Didalam perjalanan, ketiga anak kembar tidak henti hentinya memberi pertanyaan kepada sang ibu dan Omma. Hingga telinga pak supir sangat panas mendengarkannya.


'Baru kali ini ada bocah banyak pertanyaan, apakah ini menurun dari ayahnya? aku rasa tidak! bisa jadi dari kakeknya.' Gumam pak sopir sambil fokus dengan setirnya.


Setelah memakan waktu yang cukup lama, tidak terasa sudah sampai didepan pintu gerbang sekolah.


Ketiga anak kembar Maura segera turun dari mobilnya bersama mama Qinan dan juga Maura.


"Sayang.. kalian bertiga jangan mengulanginya lagi seperti yang kemarin, ya. Lebih baik kalian diam dan melapor kepada pak guru atau ibu guru, kalian mengerti?"


"Iya, ma...." jawab ketiganya serempak.


"Dan kamu, Neyla. Kamu anak perempuan, tidak baik bertingkah seperti anak laki laki. Kamu mengerti?"


"Neyla mengerti, ma." jawab Neyla dengan cemberut.


"Tidak baik kamu cemberut, Ney... sekarang kalian masuklah ke kelas. Ingat pesan ya, mama." Perintah sang ibu kepada ketiga anaknya.


Setelah itu, ketiganya langsung mencium punggung tangan Maura dan Omma Qinan secara bergantian.

__ADS_1


Maura dan Omma Qinan segera masuk kedalam mobil. Namun, tiba-tiba langkahnya pun terhenti.


"Hei... tunggu!!" seru ibu ibu mengagetkan Maura.


"Maaf, ada apa ya bu?" tanya Maura penasaran.


"Kamu orang tuanya Zakia, 'kan?"


"Iya, ada apa ya?"


"Oooh, pantes. Anak kamu, Zakka selalu menyerang putraku sampai babak belur. Kamu jadi orang tua yang benar, jangan mengajari anak kekerasan. Mau jadi preman pasar? lihat ini, putraku mengerang kesakitan akibat ulah putramu." Ucap salah satu ibu dari murid sekolah xxx.


Dengan teliti, Maura memeriksa kondisi anak tersebut. Namun tidak terlihat luka berat pada wajah anak tersebut, Maura pun hanya tersenyum tipis.


"Baiklah, karena putra saya yang sudah membuat putra ibu luka. Maka saya akan bertanggung jawab untuk mengobatinya sampai sembuh."


"Saya setuju. Kalau begitu, setelah pulang sekolah kamu antar saya di klinik terdekat." Perintahnya.


"Baik. Tapi sebelumnya saya minta maaf jika yang mengantar bukan saya, melainkan kakek dari anak anak saya. Tidak apa apa, kan?"


"Kalau begitu, saya permisi." ucap Maura langsung masuk ke dalam mobil.


'Kesempatan lebih mudah, ditambah lagi seorang kakek kakek. Sangat mudah untuk dimintai biaya berapun, dan aku bisa shoping sepuasnya.' gumamnya penuh dengan kemenangan.


Mobil yang ditumpangi Maura kini sudah tidak terlihat lagi bayangannya. Sedangkan ibu tersebut tersenyum melebar, tatkala apa yang direncanakan akan berjalan dengan mulus.


"Daniel, kamu ingat pesan ibu. Setelah pulang nanti, kamu harus pandai berakting. Kamu harus pura pura kesakitan, agar kita bisa dapat uang banyak. Kamu mengerti?" perintah sang ibu dengan tatapan mengancam. Daniel hanya mengangguk dan segera masuk kedalam kelas.


Didalam ruangan kelas, anak anak semua berlarian dan bermain. Neyla yang sedang dikejar oleh temannya, tiba tiba tidak sengaja Neyla dan teman sekelasnya saling tabrakan.


Brukkkk... "aaaaw" seru salah satu murid yang tengah ditabrak oleh Neyla.


"Kamu kalau jalan lihat lihat dong! apa kamu tidak punya mata." Ucapnya dengan sorot mata yang sangat tajam. Neyla pun tidak mau kalah darinya.


"Kamu, juga Daniel. Kalau jalan juga lihat lihat, kamu juga salah." Ujar Neyla yang juga membela diri.

__ADS_1


"Plak!!!!" sebuah tamparan melayang ke arah pipi mulus milik Neyla, tiba tiba memerah dan terasa sangat panas.


Bug!!!! Zakka melayangkan tinjuannya kesembarang arah. Daniel yang mendapati tinjuannya meringis kesakitan. Tatapan keduanya sama sama tajam, bahkan lebih tajam dari burung elang. Nafas Zakka pun terasa panas untuk bernafas.


"Zakka, nanti mama marah." Reynan berusaha melerai sang adik yang seperti anak kesurupan. Namun, Zakka mengingat pesan dari ibunya dan nurut apa yang dikatakan dari sang kakak.


Tiba tiba semua ruangan menjadi hening, semua murid dikagetkan dengan tiba tiba.


"Kalian berdua, selalu saja berkelahi. Ayo ikut pak guru ke kantor, kalian harus bertanggung jawab." Ucap sang guru yang mendapati anak anak didiknya berkelahi.


Kedua anak tersebut pun hanya bisa menurut, dan keduanya pergi ke kantor sambil digandeng oleh salah satu guru yang tengah menegurnya.


"Duduk," perintahnya. Daniel dan Zakka langsung duduk dihadapan pak guru.


"Kamu, kamu. Kalian berdua ini masih kecil, tidak baik jika berantem. Hari ini, pak guru akan memanggil orang tua kalian untuk datang ke sekolah. Sekarang, kalian berdua berdamailah. Jangan berkelahi lagi, ya."


"Tidak, Zakka tidak mau berteman dengan Daniel."'Jawab Zakka dengan kesal.


" Kok tidak mau?"


"Daniel sudah menampar adikku, pak guru."


"Jangan begitu, Zakka.."


"Zakka tidak mau sekolah disini, titik." Jawab Zakka langsung pergi dari ruangan guru, dan kembali ke dalam kelas.


"Daniel, kamu disini dulu. Pak guru akan menelfon orang tua kamu dan orang tua Zakka. Jangan pergi ke mana mana, kamu mengerti?" ucap pak guru menahan.


Sedangkan Daniel hanya mengangguk, dan nurut dengan apa yang diperintahkan pak guru.


"Loh.. Daniel, kamu kenapa berada di kantor?" tanya seorang guru perempuan yang baru saja masuk ke ruangan guru. Sedangkan Daniel hanya diam, entah apa yang sedang Daniel lamunkan.


"Biasa, Zakka dan Daniel selalu berantem. Anak anak memang begitu, bu Arum." Jawab pak guru menimpali.


"iya, pak Bambang. Semua harus sabar menghadapi anak anak, apalagi anak anak jaman sekarang. Harus ekstra sabar dan tidak untuk mudah menghakimi anak anak." Ucap ibu Arum.

__ADS_1


__ADS_2