Menikah Karena Perjodohan

Menikah Karena Perjodohan
Akhir dari sebuah kisah


__ADS_3

Dipagi hari yang hangat karena mentari, tuan Angga ditemani Ferdi untuk menemani kakek Jaya mendatangi sel tahanan. Yang dimana putranya beserta cucu kesayangannya ditahan.


Didalam perjalan, perasaan kakek Jaya bercampur aduk rasanya. Perasaan senang dan juga lega kini kakek Jaya rasakan.


Waktupun begitu cepat, kini mobil yang ditumpangi kakek Jaya sampai didepan sel tahanan. Kakek Jaya tidak pernah menyangkanya, jika putranya beserta cucunya kini menjadi tahanan karena ulah istrinya. Hingga membuat keluarganya carut marut.


"Paman, apakah paman sudah siap untuk bertemu Vino?" tanya tuan Angga sedikit ragu.


"Paman sudah siap untuk bertemu dengan Vino. Namun sebelum bertemu dengan putranya, paman ingin bertemu cucu paman terlebih dahulu." Jawab kakek Jaya Jaya.


"Baiklah, mari saya antarkan paman untuk menemui Revan." Ajak tuan Angga.


Dengan langkah kaki yang tidak begitu cepat, kini telah sampai yang dimana Revan di sel. Dengan pelan, kakek Jaya mendekati Revan. Namun karena permintaan tuan Angga untuk berbicara lebih dekat dan melepas rindu, tuan Angga meminta kepada petugas untuk membukakan pintu sel tahanan Revan dan Dika.


"Revan, cucuku..." seru kakek Jaya memanggil.


"Kakek.." jawabnya yang juga ikut memanggil.


Keduanya berpelukan, seraya tidak ingin berpisah.


"Maafkan Revan, kek.. maafkan Revan.." ucap Revan penuh sesal dan menangis.


"Sudah sudah.. kakek sudah memaafkan kamu. Sekarang bagaimana keadaan kamu? apakah kamu sudah makan?" tanya sang kakek penuh perhatian.


"Sudah kek.. Revan sudah makan bersama Dika dan juga Papa sama paman Galuh." Jawab Revan.


"Syukurlah, lalu bagaimana kabar Papa kalian berdua?" tanya sang kakek penasaran.


"Kabar keduanya baik baik saja kek.. oh iya paman, tadi Revan dan Dika sudah menjelaskannya kepada Papa dan juga paman Galuh. Dan keduanya telah menyesal akan perbuatannya di masa lalu. Papa dan paman Galuh sempat menangis dan juga ingin meminta maaf dengan paman Angga, dan juga kakek Wilyam." Ucap Revan menjelaskan.


"Syukurlah, jika sudah tidak lagi menyimpan perasaan kebencian. Paman sangat senang mendengarkannya. Kalau begitu, paman dan kakek kamu mau menemui papa kalian. Doakan, semoga hari ini adalah hari persahabatan paman telah kembali." Jawab tuan Angga yang kemudian menemui tuan Galuh dan tuan Vino.


Ferdi yang mendengar penuturan dari Revan sangat senang dan juga bahagia tentunya. Apa yang diharapkan kini benar benar terkabul.

__ADS_1


Tuan Angga pun meminta kepada petugas untuk membuka pintu sel tahanan tuan Galuh dan juga tuan Vino. Karena tuan Angga ingin lebih leluasa menikmati suasana harunya bersama ketiga sahabatnya.


Kedua mata kakek Jaya berkaca kaca saat bertemu dengan putranya, sudah bertahun tahun tidak pernah bertemu dengan sang anak. Kini tidak disangkanya dipertemukan kembali dengan suasana penuh haru.


"Vino putraku... bagaimana keadaan kamu, nak?" ucap kakek Jaya yang langsung memeluk putranya dengan erat, seakan tidak ingin untuk berpisah.


"Papa.... maafkan Vino pa.. Vino sudah menyusahkan papa dan juga yang lainnya." Jawab tuan Vino dan menangis penuh sesal.


"Papa sudah memaafkan kamu dari dulu, papa hanya merindukanmu dan ingin berkumpul lagi seperti dahulu." Ucap kakek Jaya yang juga ikut menangis.


Sedangkan tuan Galuh sendiri merasa malu akan perbuatannya selama ini yang menaruh dendam terhadap tuan Angga.


"Angga, apakah kamu mau memaafkan semua kesalahanku." Ucap tuan Galuh penuh sesal.


Tuan Angga yang tidak kuasa menahan sedih, langsung memeluk tuan Galuh saudaranya.


"Aku sudah memaafkan kamu sejak dulu, aku tidak memiliki rasa dendam terhadapmu. Aku masih menganggapmu sebagai saudaraku sampai kapan pun." Ucap tuan Angga dengan posisi yang masih memeluk tuan Galuh, setelah itu tuan Angga segera melepasnya.


Tuan Galuh pun segera mendekati Ferdi, yang dimana Ferdi adalah kakak dari isti sahabatnya. Dan Ferdi juga adalah sahabatnya sendiri.


"Aku pun sudah memaafkan kamu, aku tidak memiliki dendam sedikitpun denganmu. Kamu adalah sahabatku dan tetap sahabatku." Jawab Ferdi sambil menepuk nepuk punggung sahabatnya.


Begitu juga dengan tuan Vino, yang merasa sangat bersalah atas ulahnya yang begitu kejam terhadap sahabatnya sendiri.


Dan kini keempatnya saling merangkul satu sama lain, kebahagiaan yang tidak bisa ditukar dengan kebencian. Kakek Jaya yang melihat suasana persahabatan putranya benar benar mengharukan.


"Rupanya kamu sudah tua, Angga... kapan cucu kamu akan launcing?" ledek Galuh yang rindu akan tawa persahabatannya.


"Biar dikata aku sudah tua, tapi lihatlah ketampananku ini. Tidak diragukan lagi, bukan?" jawab Angga sambil menaikkan alisnya sebelah.


"Tampan kata kamu? apa kamu lupa, usia kamu sudah berapa sekarang? hah?" tanya tuan Ferdi sambil menepuk nepuk pundak tuan Angga sambil tersenyum mengejek.


"Sudah sudah... kalian ini sudah pada tuanya kenapa masih saling mengejek. Lihatlah, Ferdi pun sudah memiliki menantu, terus kamu kapan Galuh? Vino? apa kalian tidak ingin ikut berlomba memberi papa kamu ini cucu junior?" ucap kakek Jaya yang juga ikut meledek.

__ADS_1


Semua tertawa riang, yang dimana sudah lama tidak berkumpul bersama penuh senda gurau.


"Sudahlah, kalian berdua dan juga putra kalian hari ini bebas. Aku sudah mencabut masa tahanan kalian." Ucap tuan Angga penuh yakin.


"Dan kamu Galuh, setelah ini kamu dan putramu ikut pulang bersamaku. Ada hal penting yang aku sampaikan kepada kamu dan juga putramu." Ucap tuan Angga lagi.


"Baiklah, aku nurut saja apa yang kamu mau." Jawab tuan Galuh.


Setelah semua urusan selesai, kini tuan Angga menyerahkan kunci mobil untuk tuan Vino. Sedangkan tuan Galuh beserta putranya pulang satu mobil bersama tuan Angga.


Didalam perjalanan tuan Angga dan Ferdi dan juga Galuh bersenda gurau didalam mobil, yang dimana dulu pernah dilakukannya. Kini masa masa dulu sudah terulang kembali. Ketiganya merasa bahagia dan juga senang, karena persahabatan yang pernah terputus kini sudah kembali.


Tidak lama kemudian, mobil yang ditumpanginya telah sampai didepan rumah. Semua yang berada Di rumah menyambutnya dengan hangat.


Setelah itu Dika dan ayahnya segera membersihkan diri. Kemudian berkumpul bersama dan menikmati kopi panas.


Sesudah menikmati minuman kopi dan cemilan, tuan Angga meminta tuan Galuh dan juga Dika untuk masuk ke ruang kerjanya.


Dan kini hanyalah bertiga yang berada di ruangan tersebut.


"Galuh, aku ada pesan dari papa untuk kamu dan Dika. Sesuai amanat dari Omma Venti, bahwa kamu mendapatkan wasiat untuk mengelola perusahaan di Amerika. Omma Venti menyerahkannya untuk kamu dan anakmu. Omma berharap kamu mau menerimanya. Semua sudah mendapatkannya masing masing, jadi... kamu tidak perlu sungkan. Karena kamu juga bagian dari keluarga Wilyam." Ucap tuan Angga dengan serius.


"Tapi... aku sudah berbuat jahat terhadapmu, Angga? aku tidak pantas untuk mendapatkannya." Jawab tuan Galuh merasa tidak pantas menjadi bagian keluarga Wilyam.


"Saudara tetap saudara, keluarga tetap keluarga. Terimalah demi omma, aku mohon dengan sangat." Ucap tuan Angga memohon.


"Baiklah, aku terima jika ini memang permintaan Omma." Jawab tuan Galuh yang kemudian menitikan air mata penyesalan.


Setelah semua sudah lebih jelas, kini kembali ke ruang keluarga untuk melanjutkan kebersamaan bersama keluarga.


Semua tiada beban lagi, tiada lagi kebencian, tiada lagi dendam yang membara. Kini semua telah lebur dengan sendirinya, kebahagiaan yang benar benar menyatu pada keluarga Wilyam.


TAMAT

__ADS_1


Salam bahagia dari Author Gadungan


Siau Cie


__ADS_2