Menikah Karena Perjodohan

Menikah Karena Perjodohan
Keluar Malam


__ADS_3

Waktu yang dinanti nantikan kini telah tiba saatnya hari pernikahan Ganan dan Maura. Ganan dan Maura sedang disibukkan untuk bersiap siap memakai baju adat. Maura yang sedang dirias oleh MUA yang handal, kini penampilan Maura sangatlah anggun dan juga sangat cantik pastinya, begitu juga dengan Ganan terlihat sangat tampan. Keduanya benar benar terlihat serasi, dan terlihat senyum bahagia oleh sepasang pengantin. Ditambah lagi, Maura sedang mengandung anak dari Ganan Wilyam. Kebahagian yang sangat lengkap, meski tidak ada seorang Ayah didamping Maura.


Setelah keduanya sudah selesai memakai pakaian adat dan juga sudah terlihat sempurna dalam berpenampilan, Ganan dan Maura segera keluar dari ruang rias.


Semua orang yang berada di sekelilingnya sangat kagum melihat keserasian pengantin, yang dimana keduanya sangat serasi. Media pun meliput hari pernikahan Ganan Wilyam dengan Maura Kiana. Semua gadis yang melihat berita pernikahan Ganan Wilyam tercengang, bahkan banyak yang patah hati. Tidak hanya wanita yang patah hati, bahkan ada seseorang yang sedang menunggu kembalinya Ganan dari kampung.


Acara resepsi pernikahan Ganan dan Maura kini akan segera dimulai, banyak para tamu undangan yang sudah mengantri untuk duduk dibawah tenda. Semua ingin bertatap muka langsung dengan Ganan, yang sudah terbongkarnya pemilik rumah sakit yang tidak jauh dari rumahnya Almarhum Bapak Sobirun.


"Semua turut mengucapkan selamat untuk sepasang pengantin. Karena kondisi Maura yang sedang hamil muda, tidak diperbolehkan untuk terlalu lama berdiri.


"Sayang, kamu jangan terlalu lama berdiri. Kasihan sama kandungan kamu, sedangkan kamu masih hamil muda." Ucap Ganan mengingatkan.


"Iya, Nak.. kamu istirahatlah. Kasihan calon anak kamu didalam kandungan, yang terpenting kamu sudah bertemu dengan para tamu meski sebagian." Pinta sang Ibu.


"Iya, sayang.. istirahatlah. Kasihan calon cucu Mama," pinta Ibu mertua sambil mengelus elus perut Maura.


"Iya, Ma... Maura mau istirahat." Jawab Maura tersenyum. Ganan pun segera mengantar istrinya masuk ke kamar, dan setelah itu Ganan kembali ke tempat pelaminan bersama kedua orang tua dan juga Ibu mertua.


Maura yang sudah berada didalam kamar, kini sedang mengganti pakaiannya yang lebih adem untuk dipakai. Setelah itu Maura segera merebahkan tubuhnya di tempat tidur, badannya pun terasa capek dan lesu. Meski hanya sebentar, tetapi terasa sesak karena memakai baju adat. Tetapi rasa capeknya pun terbayar dengan kebahagiaan yang sejak dulu dinantikan.


Maura berusaha memejamkan kedua matanya agar terlelap dari tidurnya. Dan benar saja, Maura langsung tertidur karena rasa capeknya . Tidak lama kemudian, Ganan pun menyusul untuk istirahat. Dan keduanyapun tidur dengan pulsanya.


*****

__ADS_1


Malam pun telah tiba, Maura yang sedang sibuk didepan cermin. Tiba tiba dirinya menginginkan sesuatu.


"Sayang, aku pingin jalan jalan keluar. Aku pingin sesuatu, apakah kamu mau menemaniku?" Ucap Maura bertanya.


"Memang kamu ingin sesuatu apa, sayang?" tanya Ganan yang masih bersandar sambil memainkan laptopnya.


"Aku pingin martabak dan bakso dan juga sate, terus.... jus alpukat." Jawab Maura manja. Hanan yang mendengarnya pun hanya bisa melongo atas permintaan sang istri.


Bukannya tidak suka bau bawang, kenapa istriku mau membeli bakso dan sate. Yang benar saja, kalau dimakan sih tidak apa apa. Kalau tidak? kan sayang... batin Ganan menerka nerka.


"Sayang, kok bengong sih... aku pinginnya sekarang. Ayolah, kita berangkat." Pinta istrinya mulai cemberut.


"Iya iya, sayang.. aku ambil jaket dulu ya... kamu juga, pakai jaket kamu. Nanti kedinginan, tidak baik untuk wanita hamil." Jawab Ganan mengingatkan.


"Iya iya, istriku tercinta..." jawab Ganan sambil menjapit hidung milik istrinya. Maura pun langsung mengerucutkan bibirnya.


Sambil jalan kaki, Maura digandeng suaminya mesra. Orang orang yang melihatnya pun dibuat iri, pasalnya Ganan orang yang terpandang bahkan tersohor bisa menikah dengan Maura yang hanya gadis desa. Bahkan jauh dari kota daerahnya, namun bisa mendapatkan cinta seorang pengusaha sukses. Bahkan memiliki dua Rumah sakit di daerahnya.


Tidak hanya itu saja, Ganan yang terbilang sukses saja menerima pernikahan dengan Maura. Padahal jika dipikir, kenapa tidak menikah dengan wanita yang sama sama dari kalangan atas. Itulah kekaguman para tetangga tetangga Maura.


Dan kini, Maura dan Ganan telah sampai dijalan perempatan. Yang dimana banyak penjual jajanan, Maura sendiri bingung setelah sampai dilokasi.


"Kita sudah sampai, bukan? sekarang kamu tinggal pilih mau membeli yang mana. Ada bakso, ada sate, ada martabak, dan juga aneka minum jus buah." Ucap Ganan sambil menunjuk satu persatu pedagang.

__ADS_1


"Aku mau makan bakso dulu," pinta Maura. Sedangkan Ganan sedikit cemas, jika ternyata Maura tidak menyukai aroma bakso.


"Baiklah, ayo kita kesana." Ajak Ganan yang masih menggandeng tangan istrinya. Maura pun hanya nurut dan mengikuti langkah suaminya.


Dan tibalah keduanya di tempat jual bakso, Ganan pun segera mengajak istrinya untuk masuk kedalam. Keduanya segera duduk, sedangkan Ganan mendekati si penjual bakso untuk memesannya. Setelah itu, Ganan kembali duduk didekat istrinya.


Semua yang berada didalam ruangan terheran akan sosok Ganan yang tiba tiba masuk kedalam ruangan. Yang dimana hanya tempat biasa dan banyak tamu lalu lalang, bisa dikatakan berbeda jauh dengan Restoran yang ternama. Apalagi Ganan juga terkenal, bahwa Ganan adalah cucu dari keluarga Danuarta. Yang dimana pemilik Restoran ternama dan terkenal. Semua yang ada didalam ruangan berbisik tentang sosok Ganan. Tidak ada yang mencelanya, bahkan semua memuji akan sikapnya.


Ganan yang mendengar pembicaraan orang orang disekitarnya pun tidak meresponnya. Ganan menganggapnya tidak mendengar pembicaraan dari orang orang. Ganan lebih fokus menunggu pesanannya. Tidak lama kemudian pesanannya telah datang. Dan disaat itu juga, indra penciuman milik Maura bermasalah.


"Sayang, aku tidak kuat mencium aroma bakso. Aku keluar saja, ya... kamu nikmatin saja makan baksonya." Ucap Maura yang langsung menutup hidungnya, karena tidak tahan dengan aroma kuah bakso. Ganan pun bingung dibuatnya, ingin meninggalkan bakso tetapi banyak orang dan takut menyinggung perasaan pedagang dan juga pelanggan lainnya. Mau tidak mau Ganan menghabiskan satu mangkok, sedangkan punya Maura dikasihkan orang yang ada disebelahnya.


"Maaf Pak, istri saya sedang hamil muda. Bisa dikatakan sedang ngidam, tadi pingin makan bakso. Tetapi ternyata perutnya mual dan tidak bisa menikmati baksonya. Dari pada mubazir dan juga belum disentuh sama sekali, bakso ini untuk bapak, mau kan? tenang yang lainnya juga akan saya teraktir." Ucap Ganan tersenyum.


"Terimakasih ya, Nak..." jawab sang Kakek dengan senyum mengembang. Tidak hanya itu, Ganan pun menyelipkan beberapa lembar uang kertas dibawah mangkok untuk sang kakek. Karena Ganan melihat raut diwajah sang kakek seperti sedang membutuhkan sesuatu. Ditambah lagi ada cucunya disampingnya yang sedang menikmati bakso tidak ada satu mangkok. Sedangkan sang kakek hanya menemani cucunya. Ganan yang berada disamping sang kakek hatinya terenyuh sakit, karena melihat pemandangan yang bisa membuat mata bengkak.


"Kakek, dibawah mangkok sepesial untuk kakek dari saya. Mohon diterima ya, Kek..." ucap Ganan lirih dan tersenyum. Kemudian segera menghampiri bapak penjual bakso, dan membayar bakso yang sudah di pesannya untuk para pelanggan yang ada didalam ruangan. Setelah itu Ganan segera menemui istrinya yang sedang duduk di depan warung bakso.


Sedangkan kakek tersebut menangis karena senang, sang kakek pun tidak menyangka bisa bertemu anak muda yang begitu baik, Pikirnya. Sang kakek pun menitikan air matanya, dan orang orang disekitarnya pun terharu melihat suasana yang menyentuh hati para pelanggan bakso.


"Kakek, itu rizki kakek dan cucu kakek. Jadi kakek jangan menolaknya. Ambil saja, tadi adalah menantu Almarhum Pak Sobirun. Yang diberitakan ditelevisi." Ucap salah satu pelanggan bakso.


"Benarkah? sungguh hatinya mulia sekali. Semoga pemuda tadi selalu dalam keselamatan dan dijauhkan dari mata bahaya apapun anak dan istrinya dan juga keluarganya." Jawab sang kakek mendoakan.

__ADS_1


__ADS_2