Menikah Karena Perjodohan

Menikah Karena Perjodohan
Bonus Chapter#6


__ADS_3

Waktu telah berlalu begitu cepat, Nessa yang semakin membesar pada bagian perutnya terlihat sangat seksi penampilannya. Tidak terasa sebentar lagi Nessa akan segera melahirkan.


"Sayang, kenapa?" tanya sang suami yang sedari tadi memperhatikan sikap istrinya yang terlihat tidak nyaman dengan aktivitasnya.


"Aku hanya terasa gerah, dan badanku terasa pegal. Ditambah lagi kakiku sepertinya terlihat membesar, apa benar kakiku ini bengkak?" jawabnya lalu menunjukkan bagian kakinya didepan sang suami.


"Sayang! kaki kamu bengkak, sayang.." ucap Tirta semakin cemas saat melihat kondisi kaki Nessa yang mengkhawatirkan.


"Mama, mama..." teriak Tirta memanggil ibunya karena sangat mencemaskan dengan kondisi sang istri.


"Kenapa, Tirta. Ada apa? kenapa kamu terlihat cemas begitu. Ada apa dengan Nessa? katakan!" tanya sang ibu dengan nada keras diakhir kalimat.


"Nessa, Ma... Nessa.. kedua kakinya bengkak. Tirta takut terjadi apa apa dengan Nessa dan juga anakku yang ada dikandungnya." Jawab Tirta semakin cemas.


"Kita kerumah sakit sekarang, cepetan siapkan mobil." Perintah sang ibu yang langsung menyambar tas yang sudah berada di atas meja.


Tirta yang mendapatkan perintah dari sang ibu, ia segera bersiap siap.


"Sayang, hari ini aku akan mengajakmu ke rumah sakit. Jangan membantah, aku tidak ingin terjadi apa apa dengan anak kita." Ajak Tirta kepada sang istri.


"Tapi... aku tidak apa apa, cukup kompres saja dengan air hangat." Pintanya memberi saran.


"Nessa, kita ke rumah sakit sekarang. Mama tidak ingin terjadi sesuatu terhadapmu dan dengan anak yang kamu kandung. Biar Tirta yang akan menggendongmu sampai didalam mobil." Ucap nyonya Tiara yang kemudian pergi keluar menuju mobil.


Tirta pun segera menggendong istrinya untuk berangkat ke rumah sakit. Sesampai didekat mobil, sang ibu segera membukakan pintu mobil dan ikut membantu Nessa masuk kedalam mobil.


Didalam perjalanan, Nessa cukup cemas saat pinggangnya terasa sakit yang cukup hebat.


"Perutku terasa mulas, sayang. Awww sakit..." ucap Nessa berulang ulang sambil menahan rasa sakit dan mencengkram lengan Tirta begitu kuat. Tirta sendiri meringis kesakitan saat lengannya di cengkeram oleh istrinya.


"Nessa, kamu yang sabar. Sebentar lagi kita akan segera sampai di rumah sakit, kamu tahanlah sebentar." Ucap sang ibu menenangkan.

__ADS_1


"Tarik nafas pelan pelan, sayang. Di tahan dulu, sayang.. sebentar lagi kita akan segera sampai." Ucap Tirta yang juga ikut menenangkan pikiran sang istri agar tidak begitu cemas memikirkan keadaannya.


"Sakit........!!!" teriak Nessa berkali kali yang masih memegangi tangan sang suami. Tirta sendiri membebaskan Nessa mencari posisi nyaman, meski harus dengan mencengkram lengannya dengan sangat kuat. Tirta memahami semua itu, dirinya tidak ingin egois. Tirta tetap berusaha menenangkan sang istri, agar Nessa bisa leluasa meluapkan rasa sakitnya yang luar biasa yang di rasakannya.


"Kamu yang sabar dulu ya, sayang.. aku yakin kamu pasti bisa melewatinya. Dan aku akan selalu berada disampingmu."


"Aaaawwww!!! sakit..!! sangat sakit..." seru Nessa yang masih menahan rasa sakit pada bagian pinggulnya. Nessa tidak dapat mengontrolnya. Dirinya tetap berusaha untuk tidak berteriak terus menerus.


Tidak lama kemudian, Nessa telah sampai di rumah sakit. Nessa dilarikan ke ruang persalinan. Dengan perasaan berat, Tirta berusaha memberi kekuatan untuk sang istri.


Dokter dan yang lainnya segera menangani persalinan Nessa, sang suami pun meminta kepada sang Dokter untuk selalu berada didekat istrinya. Sang Dokter pun tidak melarang Tirta untuk menemani sang istri.


"Sabar, Nona.. tarik nafas dalam dalam dan keluarkan dengan pelan." Perintah sang Dokter memberi isyarat, Nessa pun mengangguk dan nurut dengan apa yang diperintahkan oleh sang Dokter.


Dengan perintah sang Dokter, Nessa selalu nurut dan tidak pernah membantah. Di samping itu, sang suami selalu berada didekatnya. Sedangkan Nessa sedari tadi selalu memegangi tangan sang suami untuk dijadikan penahan rasa sakit yang luar biasa.


"Sakit... aaawww.. sakit..." erang Nessa berulang ulang.


Setelah melakukan pengaturan nafas yang lumayan cukup panjang, Nessa merasa lumayan cukup lega. Tirta masih berada di dekat sang istri.


"Aaaaawww, sakit..." rengek Nessa yang kembali merasakan kontraksi pada perutnya.


Berkali kali Nessa harus berjuang demi sang buah hati dapat lahir dengan selamat.


"Terus, terus.. Nona... sebentar lagi akan segera lahir." Ucap sang Dokter menyemangati. Nessa pun dengan sekuat tenaga untuk bisa melahirkan secara normal dan penuh perjuangan. Tirta yang melihat sang istri berjuang demi sang buah hati mentaruhkan nyawanya tidak terasa bulir bulir air matanya jatuh di pipinya.


Betapa mulianya seorang wanita yang berjuang hidup dan mati demi sang buah hati yang dinanti nantikan kehadirannya, fikir Tirta sambil mengusap air matanya.


Owek owek owek.. suara tangisan bayi pun pecah di ruangan persalinan, senyum merekah terlihat disudut bibir Tirta.


Owek owek owek... suara tangisan disusul dari bayi kedua Tirta, kebahagiaannya benar benar berlimpah. Dirinya sangat bahagia mendapatkan anak sekaligus dua, senyumnya semakin mengembang tatkala melihat dua bayi dihadapannya.

__ADS_1


"Maaf tuan, untuk sementara tuan menunggu di luar. Kami akan menangani istri tuan terlebih dahulu." Ucap sang Dokter.


"Baik Dok, tetapi bolehkah saya bertanya sebentar. Jenis kelamin kedua anak saya apa, Dok?" jawab Tirta dan bertanya karena sangat penasaran.


"Jenis kelamin kedua anak tuan, yang pertama laki laki dan yang kedua perempuan." Terangnya memberi tahu.


"Alhamdulillah, terimakasih Dok." Ucap Tirta mengucap rasa syukur, kemudian dirinya segera meninggalkan ruang persalinan. Sebelum keluar, Tirta mencium kening sang istri penuh kasih sayang dan tersenyum. Nessa pun tersenyum bahagia atas perlakuan sang suami yang dicintainya.


"Tirta, bagaimana keadaan Nessa dan cucu mama?" tanya sang ibu yang masih mencemaskan.


"Alhamdulillah semua baik baik saja, Ma.. Anakku satu laki laki dan yang satunya perempuan. Tirta sangat bahagia, ma. Tirta mendapatkan dua anak sekaligus." Jawab Tirta dan langsung memeluk sang ibu.


Tuan Ferdi yang mendengarnya pun sangat bahagia, apa yang diharapkan anak dan istrinya terkabul. Tirta segera melepaskan pelukannya.


"Selamat ya, Tirta. Papa ikut bahagia, karena akhirnya kamu mendapatkan dua anak sekaligus.


"Terimakasih, pa.." jawabnya dan tersenyum.


Setelah selesai ditangani oleh Dokter, kini Nessa sudah di pindahkan ke ruang rawat beserta kedua bayinya. Kedua orang tua


Kedua orang tua Tirta tidak kalah bahagianya, meski selisih satu bayi dengan tuan Angga. Namun, tuan Ferdi ikut bahagia atas kelahiran kedua cucunya.


"Ulu ulu.. cucu Omma ganteng dan cantik. Pasti cantiknya nurun dari Omma ya, sayang.."


"Kalau gantengnya pasti kaya kakek Ferdi iya, kan?" Ucap tuan Ferdi ikut menimpali. Sedangkan Tirta dan Nessa hanya saling beradu pandang dan tersenyum.


"Kedua cucu mama mau di beri nama siapa, Tirta?" tanya sang ibu penasaran.


"Kami sudah menyiapkannya sejauh hari, ma. Yang laki laki kami memberi nama Kazza Danuarta, sedangkan yang perempuan kami beri nama Afnaya Danuarta. Menurut mama dan papa, bagaimana?" jawab Tirta dan meminta pendapat.


"Dua duanya nama yang sangat bagus, semoga menjadikan kedua anak kamu menjadi sosok yang bijaksana dan memiliki budi pekerti yang baik. Ngomong ngomong hampir mirip dengan putranya Ganan, Zakka. Kamu tidak lagi mengcopy nya, kan?" ucap tuan Ferdi memberikan doa untuk kedua cucunya dan menebak nama cucu laki lakinya.

__ADS_1


"Tidak, pa. Mungkin otak Tirta sudah bekerja sama dengan sendirinya." Jawab Tirta lalu tersenyum mengembang.


__ADS_2