
Rafasya sibuk menyiapkan acara pernikahan raka dan kasih dengan gerak cepat dibantu para sahabatnya dan keluarga besarnya
Sembari menunggu rumah kasih di rias, kasih melepas rindu dengan daddy dan mommy nya
“mom, kasih seneng sekali bisa ketemu dengan kalian”ucap kasih melirik tuan willian dan nyonya janet memeluk erat mommy yang selalu di rindukannya
“mommy juga senang sekali ketemu kamu?” balas nyonya janet
mata kasih mulai mengembun “bohong! Mommy selama ini kan biasa aja gak ketemu kasih, beda sama kasih yang selalu ingin ketemu kalian ” balas kasih
Mommy janet menggenggam tangan kasih erat “maafin mommy ya sayang, karena kami yang terlalu takut ada yang melukaimu lagi makanya kami menjaga jarak denganmu” balas nyonya janet
air mata kasih mulai jatuh dari sudut matanya “bukannya kalian juga bisa menjaga kasih dengan baik kalau kasih
dekat dengan kalian?” tanya kasih
nyonya janet mengusap air mata yang membasahi pipi kasih “andai bisa seperti itu?” balas nyonya janet
“dulu yang ingin melukaimu adalah orang yang dekat dengan kita, memungkinkan mereka lebih mudah mendekatimu. Makanya kami meminta ojo untuk menjagamu dari dekat. Saat kami jauh kami lebih bisa mengawasi orang-orang yang ada niat menyakitimu karena kami” tambah nyonya janet
“kalau karena kalian kaya kita jadi berjauhan seperti ini, lebih baik kita jadi orang biasa aja mom” keluh kasih
nyonya janet mengusap pipi kasih lembut “gak bisa semudah itu sayang, ada banyak orang yang bergantung hidup dari perusahaan kita. Daddymu juga punya tanggung jawab besar membantu ribuan orang mencari makan nak” tambah nyonya janet
Air mata kasih kembali mengalir dengan bebas “tapi kasih juga butuh kalian, kasih anak kalian” balas kasih
nyonya janet terus mengusap pipi kasih “untuk itu kami mohon maaf padamu. Kalau kau ingin membenci kami itu tak masalah, yang penting kau aman dan sehat. bagi kami itu sudah cukup” ucap tuan William
kasih mengusap pipinya, menoleh ke arah tuan william ayahnya
“oh ya dad, gimana ceritanya kalian bisa datang kesini setelah bertemu dengan bang raka?” tanya kasih ingin tahu ceritanya
Tuan William membenarkan posisi duduknya "kamu mau tahu?" tanya tuan william
kasih mengangguk " iya dad" balas kasih
“ seminggu yang lalu dia mendatangi daddy saat ada kami ada di Belanda” ucap tuan William memulai ceritanya
Flash back
1 minggu yang lalu
“sayang” panggil tuan William pada nyonya janet istrinya
“iya hubby, sabar kenapa?” balas mommy janet menghampiri suaminya yang menunggu di balik pintu kamarnya
“kamu kebiasaan kalau dandan lama” balas tuan William mengerucutkan bibirnya
__ADS_1
nyonya janet berkacak pinggang “lagian jalan sendiri kan bisa? gak harus ajak aku hubby” balas mommy Diana kesal karena di bilang lama dandan
tuan william yang melihat istrinya sudah masuk mode ngambek buru-buru merubah raut wajahnya memelas “kamu kan tahu aku gak bisa jauh darimu” balas tuan William memeluk istrinya erat
nyonya janet mendorong tuh tuan william menjauh “kebiasaan” balas mommy Diana membuang mukanya kasar
“cup” tuan William mengecup bibir istrinya lembut “jangan marah ya sayang” pinta tuan William lirih
“sudah ah, ayok nanti kesiangan” ucap mommy janet ingin menyudahi perdebatan yang mungkin tidak akan berakhir jika ia tak memaafkan tuan william
Tuan William dan nyonya janet berjalan berdampingan menuju halaman depan rumahnya tempat mobilnya sudah terparkir
“selamat pagi William” sapa kakek sakti mengejutkan sepasang suami istri tersebut
Tuan William mendongak kearah kakek sakti “kau disini?” tanya tuan William heran
“ayo masuk dulu” ajak tuan William sopan
“tapi sepertinya kau akan pergi, kau selesaikan saja urusanmu dulu, kami akan menunggumu di
rumah” balas kakek sakti tak enak hati datang di saat tuan william dan istrinya akan pergi
“gak gitu lah, ini acaranya masih bisa di handel kok. Masuk saja dengan istriku. Aku akan menelfon asistenku untuk menghandel jadwalku lebih dulu” ucap tuan William
“terima kasih William” balas kakek sakti
Nyonya janet bingung, tapi hanya diam dan membawa ke tiga tamunya masuk ke dalam rumah
“silahkan duduk” ucap nyonya janet sopan
“terima kasih” balas ayah virza dan kakek sakti duduk di sofa besar rumah tuan william
Tuan William datang menghampiri ayah virza, kakek sakti dan raka “maaf aku menelfon asistenku dulu” ucap tuan William menunjukkan ponselnya
“tidak masalah William, justru kami yang harus meminta maaf karena mengganggu waktumu” balas kakek sakti
Tuan William melirik kearah raka yang masih lemah, dan beberapa luka lebam yang masih terlihat di wajahnya “dia siapa sakti?” tanya tuan William
“dia anakku” balas kakek sakti
“dia kenapa? Lukanya banyak sekali, tapi kenapa malah kau bawa kesini bukannya istirahat” tanya tuan William sedikit ngilu melihat luka raka
“dia terluka karena ojo” balas kakek sakti
“ojo? Ojo pengawal anakku?” tanya tuan wiliiam heran
Kakek sakti mengangguk “iya “ balas kakek sakti
__ADS_1
“kenapa? Biasanya dia tidak akan bertindak sembarangan. Kecuali kalau berhubungan dengan anakku sih, dia suka hilang kendali kalau ada yang menyakiti anakku. aku saja sampai kewalahan saat dia ingin membunuh adik iparku di depan adikku ” balas tuan William
“ini memang ada hubungannya dengan anakmu” balas kakek sakti agak ragu
tuan william menautkan kedua alisnya “maksudmu?” tanya tuan William bingung
Raka menggenggam lengan ayahnya “biar aku yang bicara yah” pinta raka
Raka menatap manik mata tuan William “saya raka Wirayudha anak sakti Wirayudha “ ucap raka memperkenalkan dirinya pada orang tuan kasih
“iya lalu?” tanya tuan William
“saya ingin menikahi puteri anda” ucap raka mengutarakan keinginannya
“apa?” ucap tuan William dan nyonya janet terkejut
“anak kami masih 19 tahun, dan dia juga masih kuliah. Jadi belum pantas untuk menikah saat ini ” balas nyonya janet langsung menolak permintaan raka
“iya saya tahu tante, tapi kami gak bisa menunggu lagi” balas raka
Tuan William menautkan kedua alisnya “kenapa?” tanya tuan William
raka menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar “kasih sedang hamil anak saya” balas raka memejamkan matanya takut akan reaksi orang tua kasih
“apa?!” teriak tuan William langsung berdiri menatap tajam raka
Kakek sakti berdiri membungkuk ke arah tuan william “maafkan puteraku William, aku tahu dia salah. Dan hal apapun tak akan menghapus semua kesalahan anakku” ucap kakek sakti memohon maaf pada tuan william
“apa kau mencintai anakku?” tanya tuan William pada raka
kakek sakti dan ayah virza menatap heran pertanyaan tuan william “awalnya saya gak yakin kalau saya cinta sama kasih om, tapi sekarang saya benar-benar yakin kalau saya mencintainya. Saat dia mengabaikan saya itu membuat saya kesulitan dan tak konsentrasi dalam hal apapun” raka menatap tuan William sendu “saat dia minta saya melupakaannya hati saya benar-benar hancur, saya gak bisa menerimanya”raka memegang dadanya yang serasa sesak “ Dan pada saat saya berada di antara hidup dan mati hal pertama saya pikirkan adalah
dia bukan sakit yang saya rasakan. Apakah dia baik-baik saja atau tidak dan apakah dia akan melupakan saya begitu saja saat saya tiada ” balas raka
Raka berusaha bangun dari kursi rodanya dengan susah payah lalu berlutut di hadapan tuan willian dan nyonya jannet “untuk itu saya mohon izinkanlah dia menikah dengan saya. Saya gak bisa kehilangannya “ raka mengatupkan kedua tangannya menunduk pada kedua orang tua kasih “saya akan baik padanya seumur hidup saya dan akan selalu membahagiakannya ” ucap raka dengan isak tangis “hiks hiks hiks saya mohon
izinkanlah dia jadi istri saya” pinta raka
Kakek sakti dan ayah virza hanya diam saja tak bisa ikut berkata-kata, karena ini adalah urusan raka yang harus memperjuangkan cintanya
Tuan William mengusap mukanya kasar “baiklah kalau kau serius dengan anakku, nikahilah dia secepatnya ” jawab tuan William
Tuan William menoleh pada istrinya “kau setuju denganku kan sayang?” tanya tuan meminta persetujuan istrinya tercinta
Nyonya jannet mengangguk “iya hubby, aku setuju denganmu kali ini” balas nyonya jannet tersenyum walaupun air matanya masih jatuh mengalir di pipinya
Raka dan keluarganya terkejut dengan keputusan orang tua kasih yang di luar ekspetasi mereka
__ADS_1