
Waktu pagi yang masih petang, Zeil yang masih tergulung dalam selimut membuatnya malas untuk segera bangun pagi.
Dengan pelan Zeil membuka kedua matanya yang masih terasa sangat berat dan juga terasa lengket untuk membukanya. Tiba tiba indra penciumannya Zeil tengah menangkap aroma yang sangat menggodanya.
Zeil berusaha mencari asal muasal aroma yang begitu sangat wangi dan jiwanya terasa melayang. Zeil mencoba melihat disetiap sudut ruangan, namun tidak menemukan aroma wanginya. Namun, tiba tiba Zeil dapat menangkap siapa aroma wangi dari dekat.
Zeil menengok kearah belakang, dan benar saja. Zeil telah menangkap seseorang yang membawa aroma wanginya.
"Cepetan bangun dan segera mandi, aku mau mengajakmu jalan jalan pagi. Sepertinya sangat segar udaranya." Ucap Alfan yang sudah berdiri di depannya. Sedangkan Zeil masih berdiam diri ditempat tidur, Zeil masih menahan rasa sakit dan juga rasa pegal pegal diseluruh anggota tubuhnya.
"Badanku sakit semua, dan serasa pegal pegal dan juga sakit." Jawab Zeil lesu.
Zeil yang masih meringkuk didalam selimut sambil menahan rasa sakit dan juga badannya yang terasa sangat pegal, membuatnya malas untuk segera bangun.
"Berendam dengan air hangat, nanti akan sedikit meredakan rasa sakit dan juga pegal." Ucap Alfan memberi saran dan mendekati sang istri.
"Maafkan aku ya, sayang... aku yang sudah membuatmu sakit. Terimakasih atas kepemilikanmu yang masih tersegel. Aku semakin cinta denganmu, dan aku akan selalu menjagamu. Seperti kamu yang sudah menjaga hakku hingga aku berhasil memenangkan hatimu." Ucapnya lagi berbisik ditelinga Zeil, kemudian mencium keningnya lembut. Zeil yang diperlakukan sangat baik oleh suaminya terasa sangat bahagia. Hidupnya seakan penuh arti dan kebahagiaan yang tidak dapat diukur batasnya.
"Aku mandi dulu ya, sayang.. badanku juga sudah terasa risih dan juga teras lengket." Jawab Zeil segera bangun dari tempat tidurnya, namun tiba tiba teringat akan kondisinya yang terbalut selimut. Alfan yang melihat ekpresi istrinya tersenyum, tidak pakai lama Alfan langsung menggendong istrinya yang masih mengenakan selimut masuk ke kamar mandi. Zeil pun tersenyum bahagia.
"Mandi yang wangi dan juga bersih, agar tubuhmu terasa segar. Kamu tidak perlu terburu buru untuk membersihkan diri. Yang terpenting rasa pegal dan sakitmu sudah berkurang, dan kamu segera selesaikan ritualmu." Ucap Alfan mengingatkan.
__ADS_1
"Iya, sayang..." jawab Zeil tersenyum mengembang.
Setelah itu, Alfan segera menyadarkan badannya dan meluruskan kakinya di atas tempat tidur. Sambil menunggu sang istri, Alfan memainkan laptop milik sang istri.
Alfan tersenyum bahagia saat melihat foto foto milik istrinya dimasa kecil sampai tumbuh besar. Dan tidak hanya itu, Alfan kaget dibuatnya.
"Apa ini? kenapa sampai ada foto masa kecilku, dan kenapa juga Zeil menyimpannya? Apa dia menyukaiku sejak dulu, atau... hanya kebetulan saja." Gerutu Alfan yang sedang fokus dengan laptop istrinya.
Alfan pun masih penasaran dengan semua foto foto yang ada di laptop istrinya. Alfan berusaha mencerna maksud semua foto foto yang tersimpan di laptopnya.
"Ini, apa lagi. Apa.... Bukankah ini fotoku saat acara ulang tahunnya. Kenapa Dia menyimpannya? semakin penasaran aku dengannya, bukankah Zeil menyukai Dana. Kenapa justru fotoku yang disimpan, sungguh misterius istriku." Gerutunya lagi, dan tanpa sadar bahwa sosok Zeil sudah berada didekatnya. Tidak hanya itu, Zeil pun melihat apa yang sedang Alfan lakukan.
"Kenapa ada fotoku di laptop kamu, hemmm?" tanya Alfan pura pura menginterogasi. Sedangkan Zeil justru kikuk sendiri, dan bingung untuk menjawabnya.
"Itu hanya kebetulan saja, waktu itu kan memang acara ulang tahunku, kan? dan otomatis akan ke foto siapa saja yang pas kebetulan ada didekatku." Jawab Zeil sebisa mungkin beralasan.
"Ooooh, pasti banyak yang ke foto dong?" tanyanya lagi.
"Iya, pasti." jawabnya gugup dan malu.
Sial, mana tidak ada foto yang lainnya. Itupun aku ambil di file Mama. Semoga saja tidak banyak bertanya. Batin Zeil berkomat kamit dalam hati.
__ADS_1
"Foto kakak kamu Ganan dan juga Tirta, mana? kok tidak ada." tanyanya menyelidik dan menakuti.
"Tidak ada." Jawab Zeil tersipu malu.
"Duduklah disampingku." Ajak Alfan sambil menepuk nepuk tempat disampingnya. Zeil pun nurut dan segera duduk, perasaannya pun sedikit gugup.
"Sejak kapan kamu jatuh cinta denganku?" tanya Alfan dengan tatapan serius. Zeil yang mendapati pertanyaan dari suaminya, seketika itu juga gugup untuk menjelaskannya.
"Aku..... sudah lama menaksir kakmu." Jawab Zeil gugup, hingga salah ucap untuk memanggil suaminya. Karena Zeil teringat jika salah ucap akan mendapatkan hukuman.
"Kakmu? panggilan apa itu, hemm" tanya Alfan dengan tatapan menggoda. Zeil yang dipandangnya pun merasa cemas jika akan diterkamnya kembali.
"Maksud aku itu kamu, sayang.." jawab Zeil meyakinkan.
"Ooooh aku kira kakak kamu. Lanjutkan yang tadi, sejak lamanya kapan kamu jatuh cinta denganku. Sedangkan aku hanya seorang supir dan pengawal pribadimu masa kecilmu jika berlibur ke rumah kakek Wilyam.
" Saat aku masih duduk dibangku SMP, kamu memiliki karakter yang susah aku tebak. Kamu sangat kaku, tetapi perhatianmu melelehkan sikap dinginmu. Dan disitulah aku penasaran denganmu, karena rasa penasarankan itu aku jatuh hati. Tapi... setelah aku duduk dibangku SMA aku tidak bisa mengartikan sikap dinginmu dan perhatianmu. Aku hanya mengira jika kamu bersikap seperti itu hanya tuntutan kerja kamu yang dimana itu adalah tugas kamu dari kakek dan Papa. Dan ternyata kakak pun sama perasaannya denganku. Itupun di Korea kakak jujur." Jawab Zeil menjelaskan, sedangkan Alfan tidak menyangkanya. Jika istrinya pun sudah menaruh hati sejak dulu.
"Aku bersikap dingin, karena aku tidak ingin membuatmu jatuh hati denganku. Aku sadar diri, karena aku hanyalah anak seorang supir dari keluarga Wilyam. Dan aku tidak ingin menghancurkan masa depan kamu. Meski aku tahu, jika keluarga Wilyam sudah menjodohkanku denganmu. Tapi aku ingin kamu yang menunjukkannya. Namun, kenyataannya aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku. Aku selalu cemburu saat aku tahu bahwa kamu menyukai Dana, dan disitulah aku menyerah. Namun aku tidak melihat Dana menunjukkan perhatiannya terhadapmu, maka aku tidak menyia nyiakan kesempatan itu. Aku pun berterus terang denganmu." Jawab Alfan panjang lebar menjelaskannya.
Zeil yang mendengar penuturan dari suaminya, seketika itu juga perasaannya sangat bahagia. Karena ternyata dirinya telah memenangkan perasaan suaminya. Zeil merasa sangat beruntung mendapatkan cinta dari sang suami. Begitu juga dengan Alfan, yang juga sangat bahagia mendapatkan cinta dari sang istri yang ternyata sudah menaruh hati sejak dulu.
__ADS_1