
***
Zian mulai menyamar dengan memakai topi sera kacamata hitam dan duduk di depan dokter kandungan di rumah sakit tempat Rebecca pernah memeriksakan kandungannya “ 1 minggu kok ya masih gak lihat dia ya” gumam zian memandangi wajah Rebecca yang berada di ponselnya
zian mengusap wajah rebecca “aku rindu banget sama kamu sayang, apa dia baik-baik di sana” gumam zian terus mengusap wajah Rebecca
“Rebecca” panggil suster memanggil pasien yang akan
masuk ruang dokter
Suster memindai ruangan “apa nona Rebecca tak ada?”
Tanya perawat pada para pengunjung yang duduk di kursi tunggu
“ah saya Rebecca suster” Rebecca bergegas berjalan menuju ruang dokter
“maaf suster, saya kena macet” balas Rebecca
“ah gak papa bu? Ayo masuk” ajak suster
"akhirnya, dapat juga kamu" gumam zian melangkah ke arah ruang dokter kandungan
Rebecca menyapa dokter kandungan ramah “sore dokter” sapa Rebecca
“sore bu, suaminya mana?” Tanya dokter melirik kearah Rebecca
“brak” terdengar suara pintu di buka dengan kasar
“saya di sini dok” balas zian duduk di sebelah Rebecca
Rebecca yang terkejut melihat kedatangan zian ingin bergegas pergi
zian menahan tangan Rebecca “apa kau tak ingin tahu kabar anak kita terlebih dulu?” Tanya zian menggenggam erat tangan Rebecca
Rebecca menghela nafas dan memilih duduk untuk melanjutkan
pemeriksaannya
“yuk buk, kita ke sana dulu” ajak dokter
Dokter mulai memeriksa kandungan Rebecca “itu air
ketubannya terlihat kering, ibu harus banyak minum ya” pinta dokter
“iya dok” balas Rebecca
Dokter melirik zian yang ada di sebelah Rebecca
“bapak juga harus menjaga emosi istrinya ya, kan beberapa minggu lalu ibu sempet pendarahan, itu cukup berbahaya bagi kandungannya yang masih trisemester pertama” ucap dokter
Zian melirik Rebecca, dan Rebecca hanya memalingkan wajahnya
Dokter yang sedikit mengerti pun menghela nafas panjang “terlepas apapun masalah yang sedang di hadapi, bapak harus mengalah
dengan istri bapak, emosinya sedang tidak stabil dan itu bisa berpengaruh buruk bagi kandungan istri bapak juga untuk istri bapak juga” ucap dokter
“baik dokter” balas zian
__ADS_1
Dokter membantu membenarkan baju Rebecca dan mengajak zian dan Rebecca kembali duduk di ranjang periksa “ saya buatkan resep penguat janin dan beberapa vitamin ya pak” ucap dokter memberikan resep dokter
"baik dok" balas zian mengambil resep dokter
Zian dan Rebecca pamit pergi pada dokter
“Rebecca” panggil zian pada Rebecca yang berjalan
lebih dulu
“apa kamu masih marah?” Tanya zian
“buat apa aku marah? Toh aku bukan apa-apa di mata
anda jadi buat apa juga saya marah?” Tanya Rebecca
Zian mempercepat langkahnya menahan tangan Rebecca
“kata siapa kamu bukan apa-apa untukku?” Tanya zian
Rebecca menautkan kedua alisnya “kan kemarin wanita
itu bilang kalau anda, tuan zian bagaskara tidak pernah mencintai saya” balas Rebecca
“siapa yang bilang aku tidak mencintaimu?” Tanya zian
“kau sendiri yang tak pernah bilang mencintaiku” balas Rebecca
Zian menghela nafas “maafkan aku karena hal ini kau mencurigai ku, tapi saat aku mengatakan akan menjadikan dirimu satu-satunya
pasangan hidupku, itu tandanya kaulah wanita yang aku cintai” balas zian
“ah mungkin karena aku terbawa hal masa lalu di pernikahan orang tuaku dulu. Mereka sadar saling mencintai setelah aku lahir
membuatku tak merasakan kasih sayang ayah saat aku di lahirkan, jadi aku pikir cinta bukanlah hanya sebuah kata tapi sebuah tindakan” balas zian
"dulu ayahku tak pernah bilang cinta pada mamaku, baru setelah kami tinggal bersama lagi, aku mulai menganggap cinta tak masalah pernyataan tapi sebuah pembuktian" balas zian
“tetap saja om ngeselin, gara-gara om kan aku jadi percaya omongan cewe ngesok itu” balas Rebecca memukul dada bidang zian
Zian menarik lengan Rebecca membawa tubuh Rebecca ke
dalam pelukannya “aku memang bersalah padamu. Salahku membuatmu meragukan ku”
balas zian mengecup kening Rebecca
“om jahat sama Rebecca, gara-gara om Rebecca menangis 2 hari, dan harus di larikan ke rumah sakit karena pendarahan karena terlalu stress” ucap Rebecca
“maaf, maafkan aku” balas zian mengeratkan pelukannya
***
Zian membawa Rebecca pulang ke rumah mama kaila dan ayah virza
“om kita beneran pulang kesini?” Tanya Rebecca menghentikan langkah zian yang akan masuk ke dalam rumahnya
“iya” balas zian
__ADS_1
“tapi Rebecca malu” ucap Rebecca lirih
“kenapa?” Tanya zian
“yakan ningrum sudah pulang, pasti nanti dia ngeledek Rebecca hamil di luar nikah” ucap Rebecca yang mulai berpikiran negative
“sudah ah” zian menggandeng tangan Rebecca untuk
masuk ke dalam rumah
“mama, ayah, kakek” panggil zian
mama kaila melirik kedatangan zian yang menggandeng tangan rebeccab“wah, bisa bawa pulang ibu anakmu toh?” Tanya mama
kaila datar sambil mengunyah camilannya
Rebecca tertawa “tante” sapa Rebecca memeluk mama kaila
“heh” ningrum membuang muka kasar “dapat menantu idaman, pasti anak sendiri di lupain” gumam ningrum
Rebecca yang melihat ningrum langsung menghambur
memeluk ningrum “aku kangen” ucap Rebecca
ningrum balas memeluk Rebecca “aku juga kangen kamu” balas ningrum mengusap punggung Rebecca
Rebecca melonggarkan pelukannya “anak kamu mana?’
Tanya Rebecca
“itu sama kakek buyutnya” balas ningrum melirik baby
Arthur yang ada dalam pelukan kakek hafizhan
“gimana dengan kandungan kamu, aku denger dari mama
kamu sempet pendarahan kemarin?” Tanya ningrum mengusap perut rata Rebecca
Zian menatap tajam mamanya “tega banget ya mama gak
kasih tahu zian kalau Rebecca pendarahan ” Tanya zian kesal pada mamanya
“ walaupun kamu yang bikin Rebecca pendarahan tapi mama itu yang jagain Rebecca 24 jam nonstop ya" balas mama kaila berkacak pinggang kearah zian
“sudah om, gak papa, kan dokter sudah bilang kalau kondisi kehamilan Rebecca baik-baik saja” ucap Rebecca mengingatkan
“oh ya, itu kakakku aditya dan istrinya Miranda” ucap ningrum mengenalkan aditya dan Miranda
ayah virza melirik ke arah zian “karena sekarang Rebecca sudah balik kesini, jadi kamu harus keluar dari rumah ini” ucap ayah virz
“kok zian di usir lagi sih yah? kan Rebecca lagi hamil jadi lagi butuh zian buat jaga dia” balas zian
“ah alasan saja. dia memang butuh kamu, tapi kalian itu belum nikah
jadi harus jaga pemikiran calon mertua kamu” balas ayah virza
Zian tersenyum ke arah ayah virza “kalau itu ayah jangan khawatir,
__ADS_1
karena Rebecca sekarang sudah sah jadi istri zian” ucap zian dengan yakin dan penuh penekanan
“apa?!” jawab semua orang serempak