
Ganan yang merasa sudah capek didepan laptolnya, kemudian ia segera mematikan laptopnya dan keluar dari ruang kerjanya.
"Sayang, tunggu. Kamu mau kemana?" tanya sang istri yang juga keluar dari kamarnya.
"Mau lari lari kecil di taman belakang. Ototku terasa kaku akhir akhir ini, kenapa?" jawabnya dan balik bertanya.
"Tidak apa apa, aku ikut." Jawab Maura tersenyum.
"Kapan kamu akan periksa lagi, aku sudah tidak sabar ingin melihat calon anakku." Ucap Ganan sambil menuruni anak tangga.
"Besok, terus setelah periksa kita mampir ke Restoran ya, sayang.. aku pingin makan di Restoran paman Ferdi." Jawab Maura merayu.
Kedua bola mata Ganan terbelalak melihat sosok orang yang tidak asing baginya. Ganan mempercepat langkahnya saat menuruni anak tangga. Maura yang melihat suami terburu buru pun sangat heran.
"Kakek...." ucap Ganan memanggil. Sedangkan sang kakek shok dan kaget saat melihat sosok Ganan di hadapannya. Yang dimana dulu sangat dekat dengan kedua cucunya, yang tidak lain dengan Vika.
Kedua bola mata kakek tertuju kepada Maura, yang dimana berdiri didekat Ganan dengan perutnya yang terlihat sudah membesar.
"Nak Ganan... kamu benar Ganan, kan?" ucap sang kakek menebak.
"Iya kek, aku Ganan. Kakek apa kabarnya? bagaimana kabar dirumah kek?" tanya Ganan menyapa kabar. Sedangkan kedua orang tua Ganan bingung melihatnya, yang ternyata sudah mengenal kakek Jaya.
"Tunggu, paman sudah mengenal Ganan?" tanya tuan Angga penasaran.
"Apakah Ganan putra kamu?" tanya kakek Jaya menebak.
"Benar, paman. Ganan putra semata wayangku. Paman sudah mengenalnya?" jawab tuan Angga bertanya.
"Paman sudah mengenal putramu, bahkan sangat akrab. Revan dan Dika adalah teman Ganan waktu sekolah. Dan cucuku Vika juga dekat dengan Ganan. Tidak cuman dekat, Vika menyukai Ganan. Namun sepertinya Ganan sudah memiliki seseorang yang dicintainya." Jawab kakek Jaya menjelaskan..
__ADS_1
"Benar, paman. Ganan sudah menikah, dan yang berada di sampingnya adalah istrinya." Jawab tuan Angga memberi tahu.
"Selamat ya, nak Ganan.. semoga rumah tangga kalian selalu bahagia dan dijauhkan dari segala marah bahaya." Ucap sang kakek memberi ucapan selamat.
"Aamiin... terimakasih kakek, semoga kakek juga selalu diberi kesehatan dan dijauhkan dari mara bahaya." Jawab Ganan yang merasa pilu saat melihat penampilan sang kakek yang seperti tidak terurus.
"Kalau begitu, biar kakek istrihat. Kamu lebih baik periksakan kandungan istri kamu. Karena besok kita ada acara di cabang baru Restoran milik Tirta." Perintah sang ibu.
"Iya, ma... kalau begitu kita berdua segera bersiap siap." Jawab Ganan dan diangguki sang ibu.
"Ayo sayang, kita bersiap siap." Ajak Ganan pada istrinya, Maura sendiri mengangguk dan mengekor sang suami dari belakang.
Setelah keduanya selesai bersiap siap, Maura dan Ganan berangkat ke rumah sakit untuk periksa kandungan.
Setelah sampai diruang tamu, sang ibu sudah duduk di sofa.
"Hari ini pak Tono ada acara di keluarganya, jadi kamu minta Alfan untuk mengantarkan kalian ke rumah sakit. Mama dan Papa takut terjadi apa apa dengan kalian berdua. Mama khawatir, jika masa lalu mama akan kembali ke Maura." Ucap sang ibu yang mengkhawatirkan keselamatan anak dan menantunya.
"Hati hati diperjalanan ya, sayang.. semoga kalian berdua selamat sampai kembali pulang." Ucap sang ibu mertua khawatir.
"Iya, ma... terimakasih atas doanya. Nyonya Qinan mengangguk dan tersenyum.
Setelah itu, keduanya segera berangkat ke rumah sakit.
Didalam perjalanan, Ganan fokus dengan setirnya. Maura sendiri tidak berani mengajak suaminya untuk mengobrol, karena takut sang suami tidak lagi serius dalam mengemudikan mobilnya.
Tiba tiba suara ponsel tengah mengagetkan kesriusan Ganan yang sedang menyetir, dengan sigap Ganan langsung meraih ponselnya.
"Ada kabar apa kamu menelfonku?" tanya Ganan penasaran.
__ADS_1
"Tuan Revan dan tuan Dika sudah melakukan aksinya, dibelakang mobil tuan sudah ada yang mengikuti. Saya berharap kepada tuan jangan gegabah, karena didepan mobil tuan sendiri pun adalah suruhan tuan Dika." Jawabnya memberikan penjelasan.
"Lalu bagaimana dengan istriku?" tanya Ganan sambil melajukan mobilnya sedikit pelan.
"Jangan gegabah tuan," jawab seseorang diseberang telfon. Ganan pun semakin panik, yang dimana dirinya sudah di apit depan belakang oleh anak buah Dika dan Revan.
Perasaan Ganan semakin cemas, ditambah lagi tidak memperdulikan omongan dari sang ibu. Apalagi sang istri dengan keadaan sedang hamil. Ganan benar benar prustasi, sesekali dirinya memukul setirnya karena begitu geram dengan ulah Dika dan Revan.
Aku harus mencari tempat sepi, aku harus menyelesaikan kesalahpahaman ini. Aku tidak ingin ada pertumpahan darah lagi.
"Sayang, kita mau kemana? kenapa kita tidak pindah jalur, dan kenapa raut wajah kamu tiba tiba terlihat sangat kesal. Kamu ada masalah?" tanya sang istri penasaran.
"Kamu lebih baik diam, nanti kamu akan tahu yang sebenarnya." Jawab Ganan yang langsung menyalip mobil yang ada didepannya. Ganan memulai kecepatannya, namun setelah menyalip Ganan menurunkan kecepatannya. Dirinya teringat bahwa sang istri sedang hamil, dan harus berhati hati untuk menjaganya.
Dengan sigap, Ganan segera menelfon Alfan. Karena hanyalah Alfan yang dapat membantunya.
"Alfan, cepatlah kamu datang ke tempat xxxx ada hal penting. Jangan lupa kamu membawa barang bukti yang sudah aku siapkan ditempat rahasiaku. Sekarang cepatlah kamu bertindak." Ucap Ganan yang semakin tidak karuan dalam pikirannya.
Setelah menelfon Alfan, Ganan kembali fokus dengan setirnya. Dirinya masih memikirkan nasib sang istri dan calon anaknya yang masih dalam kandungan. Maura yang melihat gelagat sang suami merasa curiga, seperti sedang mendapatkan masalah.
"Sayang, sebenarnya kita mau kemana sih? kenapa kamu terlihat gusar. Katakan, jangan kamu sembunyikan masalah kamu." tanya Maura yang juga ikut cemas. Ditambah lagi Maura teringat akan ucapan sang ibu mertua. Pikirannya pun menjadi tidak tenang.
"Jangan banyak bicara, lihatlah mobil didepan kita dan dibelakang kita. Dua mobil itu sedang memburu kita, dia adalah cucu dari kakek Jaya. Sekarang kamu cukup berdoa, semoga kita selamat. Dan jangan berteriak kalau aku tidak menyuruhnya." Jawab Ganan sambil melihat sisi kanan kiri, karena dikhawatirkan akan ada jebakan yang sudah disiapkan oleh Revan dan Dika.
Sedangkan Maura hanya bengong dan membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Maura baru teringat diwaktu yang sudah lama Ganan menceritakannya. Perasaan Maura semakin tidak karuan, yang dipikirnya adalah keselamatan sang suami dan juga calon anaknya.
Berkali kali Maura berdoa didalam hati tidak ada henti hentinya. Maura berharap tidak akan terjadi lagi pertumpahan darah yang sudah pernah terjadi.
**Semangat, ya... di ujung cerita nih... kira kira tinggal beberapa episode lagi ya..
__ADS_1
Tenang.. meski cerita ini berakhir, nanti akan ada penerusnya loh... tapi tidak di novel ini, tetapi novel yang baru. Dan tentunya setelah novel "Pernikahanku Yang Kedua" berakhir ya...
Semangat... ☺**