
Mila dan rafasya sarapan bersama di restoran yang berada dalam hotel
“kamu mau jalan kemana?” Tanya rafasya di sela-sela kegiatan makannya
Mila yang sedang menyantap makanannya, mendongak ke arah rafasya “ya kamu yang maunya kemana? Kan yang mau jalan-jalan kamu bukan aku” balas Mila datar
“emang kamu gak pengen kemana gitu? Aku tuh sengaja kesini tuh biar ngajak kamu liburan karena seingatku dulu kamu suka trip ke daerah-daerah yang eksotis, tapi kamu malah Cuma banyakan ngikutin aku doang selama liburan kita ” balas rafasya
Mila menyunggingkan senyumnya “oh ternyata kamu masih ingat yang aku suka” ucap mila dengan nada mengejek “aku pikir kamu lupa dengan kebiasaanku saat kita kuliah karena kau membenciku” ucap mila terkekeh
“aku dulu tak membecimu Mila, Cuma agak risih saat kau menempel terus padaku dan suka langsung banyak bicara saat di dekatku” balas Rafasya mengingat kebiasaan mila dulu saat kuliah yang terus menempel padanya dan banyak bercerita
“jadi kau tak nyaman saat aku bicara? apa aku harus kurangi bicaraku?” Tanya Mila
“jangan!” teriak rafasya menjatuhkan sendoknya ke piring
Mila mengusap dadanya terkejut akibat teriakan rafasya “gak usah teriak rafasya” pinta Mila lirih
“maaf” ucap rafasya menunduk
“kenapa kamu berteriak, jangan?” Tanya Mila
“jangan kurangi bicaramu” pinta rafasya
Mila terkekeh “kenapa?” Tanya mila heran dengan permintaan rafasya
“aku sudah mulai terbiasa dengan suara cerewetmu itu, nanti aneh saja kalau tiba-tiba berhenti dan gak ada yang cerewet lagi” balas rafasya jujur
“hahahaha” mila tertawa memegang perutnya “kamu ada-ada saja deh sya, dicerewetin kok malah minta di lanjutin” tawa mila merasa ucapan rafasya lucu
“aku beneran tahu” balas rafasya menekuk wajahnya
Milamengusap pipi rafasya “iya suamiku. Walaupun kamu minta berhentipun kalau demi kebaikanmu aku gak akan berhenti mengingatkanmu” ucap mila tersenyum
Rafasya memegang tangan mila yang yang masih melekat di pipinya dan tersenyum ke arah Mila
***
Setelah genap sebulan liburan Mila dan rafasya kembali ke rumah orang Tua rafasya
“mama” panggil rafasya mencari keberadaan mamanya
__ADS_1
Mendengar suara anak semata wayangnya mama Karin berlari menghampiri rafasya
“anak mama sudah pulang” mama Karin langsung memeluk rafasya erat
Mama Karin beralih memeluk Mila “terima kasih sudah mau menikah dengan anak tante” ucap mama Karin memeluk erat Mila
Mila mengusap punggung mama Karin “malah harusnya mila yang berterima kasih karena rafasya mau menikah dengan Mila “ balas mila menoleh ke arah rafasya
Rafasya senang melihat interaksi dua orang wanita yang paling dekat dengannya itu “sudah ma, mila capek” ucap rafasya agar mereka menyudahi pelukannya
Mama Karin melonggarkan pelukannya “iya sih sya” ucap mama Karin mengajak mila duduk di sofa ruang tamu
“oh ya, kalian ada rencana bikin resepsi pernikahan enggak?” Tanya mama Karin semangat
“rafasya pengen sih mah, tapi mantu mama yang cerewet itu, belum bolehin bikin resepsi” balas rafsya memanyunkan bibirnya
“yakan nanti bisa adain setelah kamu beneran sehat loh sya” sahut Mila yang kesal karena terus berdebat dengan rafasya soal
resepsi pernikahan
Mama Karin memegang tangan mila “tolong mengerti anak tante, eh sekarang harus panggil
benak rafasya jiks tak mengadakan resepsi pernikahan “ucap mama Karin yang paham betul jalan pikiran rafasya
Rafasya menunduk mendengar ucapan mama Karin, dan mila merasa bersalah dengan rafasya
“ya sudah, kita adakan resepsi pernikahan secepatnya” ucap Mila dengan Yakin
Rafasya mendongak ke arah mila “beneran?” Tanya rafasya
Mila mengangguk “tapi sebelum kita mengadakan resepsi, ada beberapa hal yang perlu kita urus sya” ucap mila
“apa? Soal acaranya, aku bisa mengurusnya dengan baik, jangan lupa mamaku punya jasa W.O” balas rafasya
“bukan itu sya, kalau tentang acaranya aku juga gak akan meragukan kemampuan mama soal ini” balas mila
“terus apa?” Tanya rafasya
“aku harus ke jepang, mengurus pengunduran diriku terlebih dulu, dan mengurus beberapa hal di sana” ucap mila
“ok” balas rafasya
__ADS_1
“dan kau harus bertemu ningrum” pinta mila
Rafasya menautkan kedua alisnya “untuk apa?” Tanya rafsya dengan nada tak suka
“aku ingin kamu berbaikan dengannya” balas mila
“buat apa aku harus berbaikan dengannya?” Tanya rafasya menunduk
“aku tahu ningrum bersalah padamu, dan apa yang mereka lakukan adalah hal yang tak pantas. Tapi jika kalian masih seperti ini itu akan berimbas pada orang tua kalian" mila melirik mama karin sekilas " Orang tua ningrum dan orang tuamu bersahabat baik. Mereka pasti akan tak nyaman” mila meraih dengan tangan rafasya dan
menggenggamnya erat “bisakah kau memaafkannya?” pinta mila
“kenapa kau meminta aku memaafkannya? Tanpa aku berbaikan dengan ningrum pun, aku tak akan melarang orang tuaku tetap bersahabat dengan orang tua ningrum” balas rafasya
mila menghela nafas panjang “ini untukku, untuk ketenangan hatiku. Jika kau bisa memaafkannya maka nanti kau bisa benar-benar mencintaiku”ucap mila lirih
“jika kau masih membencinya maka kau masih akan terus mencintainya. Benci dan cinta itu hanya terhalang benang tipis sya” ucap mila
Rafasya menghela nafas “baiklah aku akan bertemu dengannya dan membahas masalah kami” balas rafasya
Mila langsung merubah raut wajahnya senang “terima kasih” ucap mila mengecup pipi rafasya tanpa malu pada mama Karin
Rafasya mengusap pipinya “malu tahu mil, ada mama” ucap rafasya melirik mama Karin yang ada di sebelah mila
“gak papa lah sya, kan kamu suamiku” mila menengok kearah mama Karin “gak maslah kan mah?” Tanya mila
“tentu saja gak masalah, malah mama seneng banget kalian rukun seperti ini” balas mama Karin tersenyum bahagia
"mama ambilin camilan buat kalian dulu ya" ucap mama karin menuju dapur
rafasya melirik mama karin yang berjalan menuju dapur “tapi ngomong-ngomong aku gak nyangka loh mila kamu minta aku maafin ningrum, padahal dulu kamu benci banget sama dia” ucap rafasya
“aku dulu benci ningrum itu karena kamu, dan sekarang gak benci juga karena kamu” balas mila datar
“kok aku?” Tanya rafasya menunjuk dirinya
“yakan aku dulu benci karena kamu pacaran dengannya“ mila tersenyum mendekat ke telinga rafasya “dan aku gak benci lagi, karena saat dia menyelingkuhimu kau sekarang jadi suamiku” bisik mila terkekeh meledek rafasya
Rafasya menoleh dengan cepat “hahahaha” tawa rafasya menggema ke seluruh penjuru ruangan “kau bisa saja loh mil” tawa rafasya
Mama Karin tersenyum bahagia melihat anaknya sudah bisa tertawa lepas setalah sekian tahun, ia melihatnya selalu bersedih “terima kasih sudah hadir dalam hidup anakku mila. Aku sangat bahagia melihat wajah bahagia putraku” batin mama karin
__ADS_1