
Ganan masih fokus dengan setirnya, dan pandangannya lurus kedepan.
Maura ikut cemas akan keselamatan bersama calon anaknya dan juga sang suami. Begitu juga dengan Ganan, sedari tadi pikirannya pun merasa tidak tenang. Berkali kali dirinya mengusap kasar wajahnya.
"Sayang, apa kamu tidak bisa untuk melabuhi orang orang yang sedang mengikuti kita?" tanya Maura pelan, karena dirinya pun sangat takut jika salah berucap.
"Itu bukan perkara yang mudah, bisa saja mereka sudah memerintahkan anak buah yang jumlahnya banyak." Jawab Ganan menjelaskan.
"Kenapa tidak menelfon Papa untuk dimintai tolong. Bukankah Papa juga bagian masa lalu?" ucap Maura mencoba memberi saran.
"Tidak, aku tidak akan melakukannya. Aku tidak ingin Papa menjadi brutal, dan pastinya Papa bisa melakukan apapun dengan nekad. Ditambah lagi kamu sedang hamil, biarlah Alfan yang akan membantu kita." Jawab Ganan.
Jalanan pun sudah mulai sepi, dan selintas sudah jarang ada kendaraan yang lalu lalang ditempat tersebut.
DOR.... suara tambakan tepat pada sasaran, dimana lagi kalo bukan di ban mobil yang Ganan kendarai.
Ganan maupun Maura semakin panik dibuatnya, ditambah lagi Ganan tidak memiliki satu senjata pun.
Sosok laki laki yang begitu menyeramkan langsung menghampiri Ganan yang sedang ketakutan.
"Buka!!" perintahnya sambil memukul kaca mobil berkali kali dengan tangannya. Maura sendiri ketakutan saat tubuh kekar dan menyeramkan kini sudah mulai menyerangnya dan suaminya. Ganan pun sedikit takut dan juga cemas, yang dimana ada istrinya yang sedang bersamanya.
Ganan terus memenggenggam tangan Maura agar tidak begitu ketakutan.
__ADS_1
Ganan segera mencari titik teraman, agar calon anak dan istrinya selamat.
"Cepat keluar!!!" bentaknya lagi dengan sorot matanya yang begitu sangat tajam. Maura pun ketakutan, ingin rasanya berteriak meminta tolong. Namun percuma, karena tempatnya pun sangat sepi. Ditambah lagi sang suami sudah memperingatkannya. Maura hanya bisa berdiam dan berdoa didalam hatinya.
Perlahan Ganan mencoba membuka pintu mobil, dan setelah terbuka Ganan langsung menarik pelan tangan sang istri untuk ikut keluar dari mobil yang ditumpanginya.
Jantung milik Maura tidak henti hentinya bergemuruh ketakutan. Perasaannya pun kacau, entah apa yang harus dilakukannya agar semua selamat.
Kini Ganan telah turun dari mobil, dan diikuti sang istri dari belakang.
Tiba tiba kedua tangan Ganan langsung dijerat dengan Tali, begitu juga dengan Maura. Keduanya sama sekali tidak melakukan perlawanan. Ganan berusaha tenang, sedangkan Maura yang melihat sikap sang suami yang begitu tenang pun bingung. Maura tidak memiliki cara lain selain ikut tenang. Meski sebenarnya ingin memberontak.
Ganan dan Maura ditarik paksa untuk masuk kedalam gedung kosong. Maura menitikan air matanya, dirinya pasrah dengan akhir hidupnya. Ganan yang melihat istrinya meneteskan air matanya, serasa tidak sabar ingin memberontak. Namun apa dayanya Ganan, yang sama sekali tidak bisa melakukan aksinya.
Prok prok prok... suara tepuk tangan kini telah terdengar jelas dihadapannya. Siapa lagi kalau bukan Dika dan Revan.Sedangkan Ganan berusaha tenang tanpa memberi perlawanan.
"Akhirnya kamu menyerah, apa karena tidak memiliki senjata? kasihan... inikah istri tercinta kamu, hah? siap siap aku akan menghabisi kalian berdua." Ucap Dika sambil menaikkan dagu Maura dengan kasar, Ganan yang melihatnya pun semakin geram dan kesal.
"Jangan kamu sentuh istriku Jika kamu mau berbalas dendam. Maka akulah yang menjadi sasarannya, istriku tidak ikut dalam masa lalu orang tua kita." Jawab Ganan dengan tatapan yang begitu sadis.
"Wah.. rupanya kamu menawarnya. Tetapi sayangnya, didalam perut istrimu ada keturunan Wilyam. Maka... istrimu pun harus aku habiskan. Ganan yang mendengar penuturan dari Dika, seketika itu juga darahnya terasa mendidih sampai ke ubun ubun. Jantungnya pun bergemuruh, seakan ingin rasanya segera melenyapkan orang orang dihadapannya.
DOR..... suara tembakan melayang ke atas. Ganan maupun Maura pun lemas, Ganan tidak mempunyai cara lain selain pasrah.
__ADS_1
Alfan.... kemanalah kamu, kenapa kamu juga belum datang? apa kamu juga menginginkan kematianku beserta calon anakku dan istriku? hei... Alfan, dengarkanlah aku, dan cepatlah selamatkan calon anakku. Batin Ganan dengan kesal.
"Ganan... Ganan... kasihan sekali hidupmu harus berakhir sampai disini, tetapi sebelum kamu m*ti, kamu akan menyaksikan istri dan Anakmu pergi duluan. Aku ingin melihatmu seperti apa yang sudah Ayahku lihat saat sang Ibu tertembak karena ulah Papa kamu dan juga kakek kamu." Ucap Revan sambil mendongakkan dagu milik Ganan.
"Lepaskan, apa yang kamu kira itu salah. Kamu hanya dimanfaatkan oleh orang tua kalian untuk membalaskan dendam." Jawab Ganan berusaha mengingatkan, namun semua itu percuma. Karena Revan dan Dika tidak akan bisa mempercayai ucapan dari Ganan.
"Aku lebih percaya dengan dengan orang tuaku, dari pada percaya dengan kamu." Ucap Dika dengan tatapannya yang terlihat sangat menakutkan.
"Ingat, Dika. Ingat, Revan. Kalian berdua ini hanya dimanfaatkan oleh orang tua kalian. Kalian itu seharusnya sadar, apa yang kalian lakukan itu sangatlah salah." Ucap Ganan mencoba mengingatkan. Sedangkan Dika maupun Revan sama sekali tidak meresponnya.
Tiba tiba Dika menodongkan pistolnya di pelipis istri Ganan. Pelatuknya pun hampir terhempas, Maura pun langsung memejamkan kedua matanya. Dirinya pasrah akan nasibnya setelah ini. Ditambah lagi sebuah pistol sudah mengarah ke pelipisnya. Jantung Maura berdegup semakin tidak menentu. Maura tidak henti hentinya untuk berdoa, meski nyawanya tinggal beberapa waktu lagi. Maura berusaha tenang dan tetap berusaha tenang.
Ganan yang melihatnya benar benar tersayat akan hatinya, yang dimana dirinya tidak bisa berbuat apa apa akan nasib sang istri yang sudah di ujung tanduk.
Maafkan aku, sayang.. aku tidak bisa berbuat apa apa untuk menyelamatkan kamu dan calon anak kita. Batin Ganan semakin tidak karu karuan.
"Ganan..! lihatlah!!!" ucap Dika sambil menunggu untuk menghempaskan peluru yang sudah siap untuk melepaskan pelstuknya.
"Tunggu.....!!!" seru seorang laki laki paruh baya yang sudah berdiri di ambang pintu gedung ditemani laki laki bertubuh kekar yang sudah menjadi pengawal setia Ganan. Siapa lagi kalau bukan Alfan, anak semata wayangnya supir pribadi tuan Angga, yaitu pak Mamat. Yang kini telah menjadi bagian keluarga Wilyam.
"Wah... wah... rupanya bertambah juga pasukan kamu, Ganan... ternyata nyali keluarga kamu masih ada." Ucap Dika yang masih menempekan ujung pistolnya di pelipis Maura istri Ganan.
Tuan Angga yang melihat Maura yang sudah hidupnya sudah berada diujung tanduk, seketika itu juga darahnya terasa mendidih. Ingin segera menyudahi kesalahpahaman, tentu saja harus menghadapinya dengan kepala dingin.
__ADS_1
Alfan pun merasa geram akan ulah Dika dan Revan yang tanpa berpikir jernih untuk menghabisi keluarga Wilyam.