
Tidak terasa usia kandungan Maura sudah memasuki sembilan bulan. Maura merasa bingung dengan kondisinya yang serba salah untuk beraktivitas, Karena baru pertama kalinya Maura hamil. Namun tidak sedikitpun membuatnya untuk mengeluh, Maura tetap menikmatinya sebagai peran wanita hamil.
"Sayang, istirahatlah. Kasihan calon bayi kita kalau ibunya kecapekan." Ucap Ganan yang tiba tiba mengagetkan Maura yang masih sibuk di dapur.
"Aku sedang membuat jus, sayang... badanku terasa sangat gerah. Kamu tahu kan, sayang?" jawab Maura sambil menuang jus nya kedalam gelas.
"Tapi kan kamu bisa meminta pelayan untuk membuatkan kamu jus. Lihatlah, perut kamu yang semakin membesar." Ucap Ganan yang merasa khawatir akan kondisi istrinya yang sebentar lagi akan melahirkan.
"Iya, sayang... aku kan cuman membuat jus. Kalau aku dilarang bergerak, kasihan calon bayi kita dong.. karena ibu hamil sangat bagus untuk beraktivitas yang tidak begitu berat. Terkecuali ada keluhan yang lainnya, baru tidak boleh beraktivitas yang berlebihan. Kalau cuman membuat jus sih tidak apa apa, sayang.." jawab Maura kemudian tersenyum. Ganan yang mendengarkannya pun membalas senyumnya, kemudian mendekati sang istri dan mencium keningnya dengan lembut.
"Kamu benar benar istri tercintaku," ucap Ganan dan mengusap usap perut besar milik sang istri.
Setelah itu Ganan dan Maura kembali ke kamarnya, namun tiba tiba keduanya dikagetkan oleh seseorang yang baru saja datang.
"Paman Vino, paman Galuh. Apa kabarnya paman?" sapa Ganan yang dikejutkan oleh kedua sahabat ayahnya. Ganan dan Maura segera mencium punggung tangan kedua pamannya.
"Kabar paman baik.. kalian berdua bagaimana kabarnya?" dimana ayah kamu, kenapa dirumah terlihat sepi?" jawabnya dan bertanya.
"Kabar kita berdua sangat baik, paman. Kalau papa dan mama sepertinya sedang keluar. Oh iya sampai lupa, silahkan duduk paman.." jawabnya.
"Alfan dan istrinya ada dimana? kok tidak terlihat juga." Tanyanya lagi.
"Mereka berdua sudah berada di Amerika, paman. Paman Zio menyerahkan pekerjaannya kepada Alfan. Jadi... mereka berdua harus tinggal di Amerika." Jawab Ganan menjelaskan.
"Pantas saja sepi, rumah sebesar ini hanya dihuni empat orang saja. Sayang sekali, semoga anak kamu nanti lahir kembar empat. Agar rumah ini berubah menjadi ramai, iya kan?" ucap Tuan Galuh meledek.
"Paman bisa saja, ngomong ngomong paman Vino dan paman Galuh datang kerumah ada perlu apa, ya? soalnya papa kalau sudah keluar lupa untuk pulang." Jawab Ganan dan bertanya.
__ADS_1
"Begini Ganan, paman Vino dan paman Galuh kemari ada sesuatu hal yang ingin kami berdua sampaikan. Bahwa satu minggu lagi paman Vino akan menikahkan Vika dengan Dika. Paman berharap, kamu dan sekeluarga akan hadir di hari pernikahan Vika dan Dika. Tepatnya di gedung xxx. Sampaikan pesan ini kepada Papa dan mama kamu ya, Ganan." Jawab Tuan Vino memberi kabar.
"Benarkah kabar ini, paman?" tanya Ganan ingin meyakinkan.
"Benar, Ganan.. maafkan kesalahan Vika yang dahulu. Yang dimana sudah menjebak kamu, sebenarnya itu adalah suruhan dari paman. Sebenarnya Vika tidak mau melakukannya, karena Vika sebenarnya hanya mencintai Dika." Jawab Tuan Vino meluruskan kesalahan di masa lalu.
"Ganan sudah memaafkan semuanya, sekarang sudah kembali seperti saudara lagi. Biarlah masa lalu dijadikan pelajaran, paman. Semoga untuk generasi selanjutnya tidak ada lagi kebencian. Semua akan rukun dan damai seperti yang diharapkan sekarang ini." Ucapnya.
"Kalau begitu, paman langsung pamit saja. Karena masih banyak teman teman paman yang harus diberi kabar, dan juga ibunya Vika. Karena sejak dari bayi, Vika sama sekali tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu. Dan paman tidak ingin lagi memisahkan Vika dengan ibunya." Ucap Tuan Vino berpamitan karena sesuatu hal.
"Baiklah, Paman. Salam buat Dika dan juga Revan, Ganan pasti akan datang dihari pernikahannya Dika dan Vika." Jawab Ganan meyakinkan.
"Paman tunggu, dan semoga istri kamu diberi kemudahan untuk melahirkan nanti. Ya sudah, paman pulang." Ucap Tuan Vino pamit.
"Baik, paman. Terimakasih atas doa dari paman." Jawab Ganan berterimakasih.
"Iya, paman. Nanti Ganan sampaikan pesan dari paman untuk papa dan mama." Jawab Ganan kemudia tersenyum.
Setelah kepergian Tuan Vino dan Tuan Galuh, Ganan dan istrinya segera masuk ke kamar.
"Setelah sampai didalam kamar, tiba tiba Maura menginginkan sesuatu.
"Sayang, aku ingin makan di luar. Bisa tidak, malam ini kita makan malam di tempat yang nyaman tetapi tidak seperti di Restoran besar. Aku ingin suasana lebih tenang dan nyaman." Pinta Maura merayu.
"Serius? kamu mau makan di luar? apa tidak kasihan dengan calon anak kita. Lihatlah, perut kamu terlihat sangat besar. Aku merasa kasihan dengan kamu, ditambah lagi kamu pasti akan mudah lelah. Tidak mungkin kan, jika aku menggendong kamu." Jawab Ganan berusaha bernegosiasi.
"Aku baik baik saja, sayang.. tidak apa apa aku banyak gerak. Selagi aku tidak mengeluh, tidak menjadi masalah. Aku masih kuat kok, sayang. Dan semua yang aku lakukan masih dibatas wajar. Mau ya, temani aku makan di luar?" Rayu Maura dengan manja.
__ADS_1
"Iya, sayang.. kalau begitu cepatlah bersiap siap. Sekalian kita akan mampir ke rumah temanku." Jawab Ganan yang juga langsung bersiap siap.
"Terimakasih, sayang..." ucap Maura dan langsung memeluk tubuh Ganan yang tinggi. Ganan pun tidak membuang kesempatannya juga, Ganan langsung mencium kening sangat istri dengan mesra. Maura yang diperlakukannya merasa sangat bahagia.
Maura segera bersiapp siap, dirinya memilih pakaian yang membuatnya terasa nyaman untuk dikenakan. Apalagi usia kandungan Maura sudah mendekati persalinan.
"Sayang, aku sudah siap. Ayo kita berangkat." Ajaknya yang sudah tidak sabar.
"Iya, sayang." Jawab Ganan langsung bangun dari tempat tidurnya dan langsung menyambar jaketnya yang sudah berada disofa.
Ganan dan Maura segera keluar dari kamar, dan menuruni anak tangga.
"Loh... kalian berdua mau pergi kemana?" tanya sang ibu penasaran.
"Kita mau makan diluar, ma... apakah mama mau ikut?" jawab Ganan dan bertanya.
"Tidak, mama dan papa setelah ini juga akan pergi lagi. Papa dan mama ada undangan makan malam dirumah rekan bisnis papa. Kalau begitu, kalian berdua hati hati." Ucap sang ibu mengingatkan.
"Iya, Ma. sebenarnya Ganan sudah melarang Maura, tetapi tetap menginginkan makan malam diluar. Ganan kasihan melihat Maura jalan kaki dengan perutnya yang besar." Jawabnya merasa cemas akan kondisi Maura yang perutnya terlihat sangat besar, pikirnya.
"Tidak apa apa, selagi Maura fisiknya kuat tidak masalah. Yang terpenting kamu selalu ada didekatnya." Ucap sang ibu.
"Baiklah kalau begitu. Ganan dan Maura berangkat dulu ya, Ma.." jawab Ganan, setelah itu keduanya mencium punggung tangan sang ibu.
Kira kira anaknya Ganan dan Maura kembar tidak, ya? kalau iya... berapa, ya?
Oh iya, maaf ya readers.. judul novelnya ganti. Karena di dalam cerita dinovel ini isinya perjodohan semua. Dari anak sampai cucu dan mungkin cicit 🤣🤣🤣
__ADS_1