
"Cukup! kalau kamu masih punya nyali, letakkan pistol kamu. Maka akan aku tunjukkan kebenarannya." Ucap Alfan mencoba menggertak.
"Nyali kata kamu, kebenaran apa yang akan kamu tunjukkan dihadapan kami. Hah! aku sudah mengetahuinya, jadi biarkan aku melunasi nyawa orang tuaku." Jawab Revan ikut menimpali.
"Seharusnya kamu bersikap waras sedikit. Lihatlah, mau tidak mau kalian berdua harus bisa mencermati video yang berada dihadapanmu. Dan aku berharap, setelah ini kalian sadar. Namun, jika kalian berdua tidak mempercayainya. Tertutup sudah mata hati kalian." Ucap Alfan sambil menyalakan sebuah laptop menghadap Dika dan juga Revan. Keduanya menatapnya dengan seksama.
Dengan pelan, Alfan membuka file yang dimana sudah tersimpan bukti bukti yang sudah dianggapnya akurat.
Detik berganti detik berikutnya, yang dimana video yang sudah disimpannya sejauh dini hari. Ganan tersenyum puas, saat Alfan membuka video yang sudah disiapkan oleh Ganan.
Perasaannya Ganan kini sudah ada rasa sedikit kelegaan, meski video tersebut masih berjalan untuk terlihat sempurna.
Dika dan Revan benar benar melihatnya dengan sangat seksama. Namun tiba tiba kedua bola mata milik keduanya terbelalak saat melihat sebuah video yang begitu lebih menegangkan. Yang dimana sosok nyonya Qinan benar benar tidak jauh beda dengan Maura. Dan tepat pada situasi tegang, yang dimana keduanya terlihat semakin membelalakkan kedua matanya.
DOR! suara tembakan melayang ke arah Oma Yolan. Revan maupun Dika masih menatap rekaman video yang masih berlanjut.
DOR! kakek Jaya melepaskan pelatuk pistolnya hingga satu peluru melayang tepat kedada kakek Burhan.
Keduanya saling pandang dengan tatapan sengit dan sangat tajam setajam pisau belati.
Dika sudah memasangkan pistolnya kearah Revan, pelatuknya sudah tertekan kuat dan siap untuk dihempaskan. Begitu juga dengan Revan yang sudah siap untuk melepaskan pelatuk pistolnya.
DOR! DOR! suara tembakan dan dua peluru melayang ke tangan keduanya, hingga pistol yang mereka arahkan terjatuh dan peluru yang sudah dihempaskannya pun melayang kesembarang arah.
Keduanya lalu diamankan oleh polisi yang sudah diperintahkan oleh tuan Angga.
Kemudian Alfan segera melepaskan ikatan pada tangan Ganan. Dan tuan Angga segera menolong menantunya dari jeratan tali yang melilit ditubuh menantunya.
Maura pun ketakutan, langsung berhambur memeluk Ganan. Yang dialaminya benar benar membuatnya ketakutan.
"Sayang, pulanglah bersama Alfan. Keselamatan kamu dan calon anak kita jauh lebih penting." Perintah Ganan yang semakin takut akan kondisi sang istri. Maura segera pulang dan diantar oleh Alfan, sedangkan Ganan dan Ayahnya kini ikut ke kantor polisi untuk memberi keterangan lebih lanjut.
__ADS_1
Didalam perjalan, Maura masih dengan pikiran kacaunya. Yang dimana dirinya masih terngiang ngiang dengan suara tembakan yang begitu nyaring, sedangkan Maura seumur hidupnya belum pernah mendengar suara pistol didekatnya.
"Jangan khawatir, tidak akan terjadi apa apa pada paman Angga dan juga Ganan." Ucap Alfan mencoba menenangkan istri Ganan.
"Aku hanya tidak menyangka, jika masa lalu Papa dan Mama lebih jauh mengerikan dari pada aku." Jawab Maura saat sekilas melihat rekaman video yang membuatnya shok.
"Jangan terlalu banyak fikiran, kasihan calon keponakanku." Ucap Alfan mengingatkan dan fokus pada setirnya.
"Iya, terimakasih sudah mengingatkan aku." Jawab Maura sambil menatap pandangannya diluar jendela kaca mobil.
Tidak lama kemudian, Maura telah sampai didepan rumah. Dan dilihatnya Ibu mertua yang sudah berdiri diambang pintu ruang tamu.
"Maura langsung menghamburkan pelukannya dengan ibu mertua, air matanya yang mengalir membasahi pipinya. Maura tidak bisa menyembunyikan tangisannya. Sedangkan Alfan segera menyusul Ganan dan Tuan Angga di kantor polisi.
"Sayang... kenapa kamu menangis?" tanya ibu mertua sambil mengelus punggung sang menantu.
"Maura takut, ma... Maura takut terjadi sesuatu pada suami Maura dan juga Papa." Jawab Maura yang masih menangis.
"Iya, sayang.. yang dikatakan Zeil itu benar, tidak perlu kamu merasa takut, semua akan baik baik saja. Mereka hanya dijadikan senjata oleh orang tuanya, mama percaya kok, jika mereka anak anak yang baik. Hanya saja sudah dijadikan budak oleh orang tuanya sendiri. Sekarang lebih baik kamu istirahat, kasihan calon cucu mama. Pasti sangat kaget mendengarkan suara peluru bersahutan." Ucap Ibu mertua menenangkan, sedangkan Maura mengangguk dan segera masuk ke kamar ditemani Zeil.
Maafkan Mama, sayang.. kamu harus mengalami kejadian yang sama. Mama yakin, mereka akan sadar dan kembali ke jalan yang benar. Batin Nyonya Qinan sambil mengingat masa lalunya yang begitu menakutkan. Dan kini terulang kembali oleh menantunya.
Di kantor polisi, Ganan dan Ayahnya kini sudah berada di kantor polisi. Keduanya kini duduk sambil menunggu Revan dan Dika yang sedang ditangani oleh sang Dokter.
Sambil menunggu, Ganan dan Ayahnya mencoba mencari keberadaan saudaranya yang bernama Galuh di sel tahanan.
Setelah diantar oleh salah satu penjaga di kantor polisi, kini Ganan dan Ayahnya sudah berada di sel tahanan saudaranya. Kedua mata tuan Galuh dan tuan Vino berubah menjadi tatapan yang sangat tajam, seakan ingin menerkamnya.
"Bagaimana kabar kamu, Galuh, Vino?" tanya tuan Angga menyapa.
"Brengs*k, pergi kamu dari hadapanku. Aku tidak sudi melihatmu! cuih!" Ucapnya sambil meludah dan mengenai baju tuan Angga. Sedangkan Vino hanya menyunggingkan senyum sinisnya.
__ADS_1
"Baik lah, aku akan pergi dari sini. Aku berharap sebelum terlambat, bertobatlah. Aku pergi!" jawab Angga lalu pergi meninggalkan saudara dan sahabatnya, sedangkan Ganan mengikuti langkah kaki Ayahnya dari belakang.
Setelah menjenguk keadaan saudara dan sahabatnya dulu, kini tuan Angga dan Ganan kembali duduk sambil menunggu Dika dan Revan.
Tidak lama kemudian, kedua tahanan sudah duduk dihadapan tuan Angga dan Ganan.
"Kenapa kamu begitu berambisi untuk membalaskan dendam orang tua kalian? katakan." tanya tuan Angga menyelidik.
"Aku hanya tidak terima jika papa kami ditahan, dan orang tua kami yang sudah mengatakan bahwa tuan Angga dan keluarga tuan lah yang sudah membunuh kakek dan nenek kami. Dan kami tidak Terima atas perginya kakek dan nenek kami, ditambah lagi orang tua kami telah dipenjarakan oleh tuan Angga. Tetapi kenyataannya adalah salah, justru Keluarga kami yang sudah menyerang dan mencelakai keluarga tuan." Ucap Revan tertunduk merasa bersalah.
"Kalian berdualah yang dijadikan senjata oleh ayah kalian, agar dendam orang tua kalian terbalaskan. Sekarang, bertobatlah. Sebelum semuanya terlambat, kalian masih muda jangan kotori masa depan kalian dengan sesuatu yang tidak berguna. Dan kamu Dika, kamu adalah keponakan paman. Berhentilah merusak masa depan kamu sendiri, dan kamu Revan, kamu adalah putra sahabat paman. Jangan kamu kotori persahabatan kamu dengan putra paman dimasa depan kamu. Kakek kamu sekarang sudah berada di rumah paman, beliau sangat menyayangimu. Seperti kakek kamu menyayangi ayah kamu, kembalilah sebagai Revan yang kakek kamu harapkan." Ucap tuan Angga menasehati.
Dika dan Revan yang terlihat kejam bahkan ganas sekalipun, kini menitikan air mata penyesalannya. Keduanya hanya terhasut oleh dendam orang tuanya yang juga mendapatkan hasutan dari orang tuanya dahulu. Namun kini berbeda dengan Dika dan Revan, yang mudah luluh untuk mendapatkan nasehat. Berbeda dengan seorang Galuh dan Vino, yang begitu mudah untuk di doktrin.
"Maafkan kami berdua paman, kami menyesal. Dan maafkan aku, Ganan. Aku yang sudah berbuat kejam terhadapmu. Bahkan aku sudah menjebakmu." Ucap Dika yang menyesali perbuatannya.
"Sudah aku maafkan dari dulu, yang terpenting kita tidak ada lagi permusuhan." Jawab Ganan.
"Maafkan Paman, untuk sementara kalian harus berada di tahanan, mungkin satu bulan kalian berdua ada disini. Setelah itu kalian berdua akan terbebas. Dan buat kamu Dika, setelah selesai masa tahanan kamu, datanglah ke rumah paman. Ada sesuatu yang akan paman kasih tahu kamu." Ucap tuan Angga.
"Baik, paman." Jawabnya.
"Dan buat kamu, Revan. kamu pun datanglah kerumah paman, karena kakek kamu sekarang tinggal di rumah paman."
"Iya, paman. Terimakasih sebelumnya, karena paman sudah bersedia merawat kakek." Jawab Revan merasa tidak enak hati.
"Kalian berdua sudah paman Anggap saudara, jadi jangan pernah merasa sungkan. Kalau begitu paman dan Ganan pamit untuk pulang, dan diingat pesan paman barusan, ya." Ucap tuan Angga, sedangkan Dika dan Revan mengangguk.
Setelah semua masalah kesalahpahaman terselesaikan, kini tuan Angga dan juga Ganan segera pulang. Alfan yang sedari tadi memperhatikan obrolan tuan Angga bersama Dika dan Revan sangat terharu.
Sungguh berhati mulia paman Angga, tidak sedikitpun menunjukkan rasa bencinya kepada orang orang yang sudah mencelakai keluarganya. Dan kini semua masalah telah terselesaikan dengan pikiran yang dingin. Batin Alfan.
__ADS_1
Hei readers.. satu langkah lagi ya...