
Miranda menangis terisak di dalam mobil membuat mama kaila dan ayah virza menjadi bingung
“sudah Miranda jangan nangis lagi, tadi miko sudah telpon tante kalau aditya Cuma kambuh maghnya” ucap mama kaila yang sudah mendapat kabar tentang aditya dari miko
“Miranda juga pengen berhenti menangis tante , hiks hiks hiks, tapi gak bisa hiks hiks hiks “balas Miranda yang masih menangis sesenggukan
“sudah Miranda jangan menangis lagi, kamu gak malu dilihat orang tua pacarmu menangis sampai ingusan kaya gini” ucap dimas mengusap ingus Miranda dengan tisu
“ckiiiit” ayah virza langsung mengerem mendadak mendengar penuturan dimas
Ayah virza menoleh ke belakang “sejak kapan kau tahu adikmu pacaran dengan aditya?” tanya ayah virza
“sejak dulu om, sejak mereka mulai pacaran. Aditya langsung meminta izin padaku saat mereka akan pacaran dulu” balas dimas
Miranda ikut menoleh pada kakakknya “sejak dulu?” tanya Miranda memastikan
Dimas mengusap kepala adiknya “tentu saja sejak dulu. Bukankah kami berteman baik jadi gak perlu ada yang di rahasiakan” balas dimas
“terus orang tuamu tahu?” tanya mama kaila
dimas menggelengkan kepalanya “kalau itu aku gak tahu tante, kaliam tahu sendiri sifat ayahku, dia orang yang selalu bisa menutupi apa yang dia pikirkan. Tapi gak mungkin juga sih ayah gak tahu tentang hubungan mereka yang sudah 3 tahun. Apalagi ayah selalu tahu kabar tentang Miranda tanpa bertanya pada Miranda
ataupun padaku” balas dimas
Miranda menelan ludahnya kasar “terus gimana kak?” tanya Miranda mengguncang lengan kakaknya takut akan reaksi ayahnya
“kakak gak tahu Miranda, kamu tahu sendiri dirumah itu mana ada yang bisa membantah ucapan ayah” balas dimas mengingat mama dan dirinya tak berani membantah ucapan ayahnya
“lagian kamu juga kenapa gak nurut omongan aditya untuk bicara sama ayah?” tambah dimas
“sudah lah dim, adikmu dan aditya sudah besar biar mereka yang putuskan sendiri masalah mereka” ucap ayah virza kembali melajukan mobilnya
***
Aditya sedang duduk diranjang dengan selang infus terpasang di lengannya
“sudah makannya tuan?” tanya miko yang sedang menyuapi aditya makan bubur
“sudah” balas aditya
“ya sudah tuan, saya balik ke kantor dulu ya, palingan sebentar lagi orang tua tuan aditya sampai” ucap miko pamit pergi
“iya” balas aditya datar
Miko berjalan keluar ruangan dan menutup pintu ruangan aditya perlahan
Miko akan berjalan keluar dan berpapasan dengan rombongan mama kaila
“tante, om” sapa miko menyalami mama kaila dan ayah virza
“gimana keadaan aditya?” tanya mama kaila
“kata dokter sih sakit lambung karena telat makan dan terlalu banyak fikiran” balas miko
“ah, kau sudah mau balik ke kantor ya?” tanya ayah virza
“iya om” balas miko
“ya sudah, titip kantor dulu ya. Dan terima kasih sudah menjaga aditya” ucap ayah virza
__ADS_1
Miranda mendahului masuk ruangan aditya karena sudah sangat khawatir dengan aditya “mas” Miranda langsung memeluk aditya erat
Aditya memejamkan matanya saat Miranda memeluknya erat, tak menanggapi ataupun membalas pelukan miranda
“mas kenapa sakit? Harusnya jangan sakit” ucap Miranda dengan suara terisak
Ayah virza, mama kaila dan dimas masuk ruangan aditya melihat pemandangan didepannya jadi tak enak hati “yah kita keluar dulu yuk” ajak mama kaila
“dimas ikut tan” ucap dimas ingin ikut keluar
“tunggu dim” panggil aditya
Aditya melerai pelukannya “kami sudah putus, jadi bawa adikmu ikut keluar “ucap aditya kearah dimas
“mas” panggil Miranda tak percaya bahwa aditya meminta dirinya pergi
Aditya menarik nafas dalam “kau kan yang minta putus dariku? Jadi jaga sikapmu" ucap aditya menatap ke arah lain " bersiklah seolah tak ada apapun di antara kita ” ucap aditya
Aditya menoleh kearah dimas “aku mohon dim, bawa adikmu pulang” pinta aditya
“mas, aku kesini tuh karena khawatir sama mas aditya, kenapa malah mas nyuruh aku pergi” ucap Miranda tak mau pergi
“aku lelah Miranda, aku ingin istirahat” ucap aditya berbaring. Menutupi tubuhnya dengan selimut
“mas” panggil Miranda
Dimas yang tahu keadaan hati sahabatnya, menghampiri Miranda “ayok pulang, aditya sedang sakit Miranda jadi biarkan dia istirahat” ucap dimas
“tapi Miranda mau nemenin mas aditya kak” rengek Miranda
“Miranda!” teriak dimas “ayok” ajak dimas menarik tangan Miranda
Dimas menunduk pada mama kaila dan ayah virza “om, tante kami pamit dulu. Semoga aditya cepat sembuh ya” ucap dimas mengajak Miranda meninggalkan ruangan aditya
“kamu gak salah ngusir dia nak?” tanya mama kaila
“hiks hiks hiks” tangis lirih aditya dari balik selimut yang menutupinya
Mama kaila samar-samar mendengar tangisan aditya
“kamu menangis sayang?” tanya mama kaila
“aditya pengen sendiri mah” ucap aditya lirih
Ayah virza memegang bahu mama kaila “yuk kai, biarin anakmu sendiri” ajak ayah virza
Mama kaila dan ayah virza meninggalkan ruangan aditya sesuai permintaan aditya
“anak kita menangis mas?” tanya mama kaila saat sudah berada agak jauh dari ruangan aditya
“iya” balas ayah virza menghela nafas
“hahahaha” mama kaila tertawa sambil memegang perutnya
“kok malah ketawa sih kai?” tanya ayah virza
“biarin aja, dulu aja bilang gak bakal mau suka sama Miranda. Sekalinya pacaran sama Miranda langsung klepek-klepek gitu. Biarin saja dia nangis” ucap mama kaila
“dia itu anakmu loh kai” ucap ayah virza mengingatkan
__ADS_1
“yang bilang anak orang lewat siapa?” balas mama kaila berkacak pinggang
“ampun deh. Kalau sudah keluar omongan anehmu susah buat mas jawab” balas ayah virza menggelengkan kepalanya
***
“pelan-pelan ya sya” ucap mila memperingati
“iya, berisik banget” balas rafasya kesal
“emmmm akkkkh” rafasya berjalan sekuat tenaga di alat terapi rumah sakit dengan di bantu mila
“pelan pelan saja” ucap mila
“ini juga sudah pelan” balas rafasya berusaha menggerakan kakinya perlahan
“akkh” rafasya terjatuh karena tak kuat menopang tubuhnya, berbarengan dengan mila yang ikut terjatuh
Mila memindai tubuh rafasya “ada yang sakit tidak sya?” tanya mila khawatir
“yang sakit itu kakiku mila. Kamu gak lihat kakiku tak bisa jalan!”teriak rafasya
Mila bernafas lega “syukurlah kalau tak ada yang sakit” mila membantu rafasya untuk duduk
di kursi roda
Mila berjongkok di hadapan rafasya “hari ini sampai sini saja ya, kamu pasti capek. Besok kita lanjut terapi lagi” ucap mila berdiri
Mata rafasya membelalak melihat noda merah di lutut mila yang saat itu memakai rok berwarna putih dibawah lutut, sehingga terlihat sekali noda merah tersebut
“kakimu kenapa?” tanya rafasya menunjuk lutut mila
“ah gak papa, Cuma lecet saja” balas mila segera mendorong kursi roda rafasya agar rafasya tak melihatnya
“sudah ku bilang berapa kali padamu jangan mengurusku terus. Uruslah pekerjaanmu jangan terus mengurusi orang cacat sepertiku” ucap rafasya kesal
“iya” balas mila tersenyum
Rafasya menoleh kebelakang “apa kau tak tuli?” tanya rafasya
“tidak” balas mila
“aku selalu memarahimu, tapi kenapa kau malah tetap di dekatku. Harusnya kau menjauh saja” balas rafasya kembali berbalik
“tentu aku mendengar bagaimana kau berteriak. Tapi aku juga tahu itu bukan makasudmu berteriak padaku” balas mila
rafasya tahu kalau mila menaruh hati padanya sejak kuliah dulu “kau tahu kan kalau aku tak bisa membalas cintamu” ucap rafasya lirih
Mila mengeratkan genggamannya pada kursi roda
“aku tahu” balas mila
“berhenti” ucap rafasya
“kenapa?” tanya mila heran dengan permintaan rafasya
“ruanganku sudah dekat, aku bisa jalan sendiri. Kau obati saja kakimu” ucap rafasya
“nanti saja, lagian tanggung” balas mila berniat mendorong kursi roda rafasya
__ADS_1
Rafasya menekan tombol di kursi rodanya yang otomatis akan berjalan “kau lupa kalau kursi rodaku otomatis”teriak rafasya yang sudah makin menjauh
Mila berdiri menatap punggung rafasya dan tersenyum