
Perjalanan yang lumayan memakan waktu yang cukup lama, kini telah sampai di halaman rumah Maura. Semua menyambut kedatangan Ganan dan Istrinya dan juga kedua orang tuanya dengan hangat.
"Mama.... seru Maura segera memeluk sang Ibu dengan erat. berkali kali Maura mencium pipi Ibunya dengan perasaan bahagia. Namun tiba tiba perasaannya berubah menjadi sedih.
" Kenapa kamu bersedih, Nak..?" tanya sang Ibu penasaran.
"Maura sedih, saat hari bahagia Maura tidak ada Papa didekat Maura, Ma...." jawab Maura menitikan air matanya. Ganan segera mengusap lembut air mata yang membasahi pipinya.
"Sayang... aku mengerti akan perasaan kamu. Tapi percayalah, Papa pasti bahagia melihatnya. Bagaimana kalau kita ziarah ke makam Papa, aku temani." Ucap Ganan mencoba menenangkan. Maura pun mengangguk dan menerima ajakan suaminya.
"Bos Ganan..." seru dua orang laki laki yang tidak asing memanggilnya, Ganan pun segera menengok kearah sumber suara.
"Bondan.... Soni..." ucap Ganan memanggilnya.
"Apa kabarnya Bos? tambah cakep saja, kamu Bos..." ucap Bondan.
"Bisa saja kamu, kabarku baik.. bagaimana kabar kalian berdua?" jawab Ganan balik bertanya.
"Kabar kita baik, Bos... kalau begitu, kita berdua mau melanjutkan pekerjaan kita dulu ya, Bos.. maaf kita tinggal sebentar." Ucap Soni menimpali.
"Kalian berdua istirahatlah dulu dikamar. Sekarang sudah malam, nanti akan disiapkan makan malam untuk kalian." Ucap Ibu Romlah.
"Baik, Ma..." jawab Ganan dan Maura.
__ADS_1
"Mari Bu Qinan, pak Angga. Saya antar ke ruang istirahat." Ajak Ibu Romlah, kedua orang tua Ganan mengangguk dan mengikuti langkah kaki Ibu Romlah. Sedangkan Pak Tono selaku supir pribadi Tuan Angga, kini diajaknya oleh Bondan untuk istirahat di ruang kamar yang sudah disiapkan.
Sedangkan Maura dan Ganan sudah berada didalam kamar yang dimana dulu penuh kenangan yang tidak terlupakan. Maura tiba tiba teringat akan sikap buruknya terhadap suaminya, yang dimana membiarkan suaminya tidur dilantai yang beralaskan selimut yang dilipat menjadi dua. Ingatan Maura tiba tiba tertuju dengan video yang sudah dilihatnya saat diruang kerja suaminya.
Aku tidak jauh beda dengan Papa mertuaku, yang begitu sadis dan kejam. Bahkan aku melarang suamiku untuk beristirahat di kamarku ini. Sungguh aku menyesal atas perbuatanku. Tunggu... dikamar ini tidak ada CCTV, kan? kalau iya, aku harus membuangnya jauh jauh. Bisa bisa nanti anakku akan seperti suamiku. Aku tidak ingin terjadi dengan suamiku yang akan diperlakukan sama seperti suamiku memperlakukan Papanya. Eeeeetttsss bukankah aku yang kejam, kenapa mesti suamiku. Seharusnya aku memikirkan diriku.... kenapa aku memikirkan suamiku. Jelas jelas aku yang salah. Batin Maura sambil melihat disetiap sudut kamarnya, disangkanya akan ada CCTV.
Ganan yang sedari tadi memperhatikan ekspresi istrinya yang dilihatnya seperti mencari sesuatu di setiap sudut ruangan kamar. Ganan pun berusaha menerka nerka apa yang dipikirkan istrinya
Sedang mencari apa istriku, sepertinya ada yang dicarinya. Batin Ganan yang juga ikut mencari sesuatu di sudut ruangan.
Ooooh aku tahu, istriku sepertinya sedang mencari kamera CCTV. Iya, dia pasti teringat akan perlakuannya dulu terhadapku. Batin Ganan mencoba menebaknya.
"Sayang, kamu sedang mencari apa? kenapa sampai melihat ke atas. Ada sesuatu yang menakutkan?" tanya Ganan sambil merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.
Bodoh sekali aku ini, sudah jelas jelas tidak ada perubahan. Kenapa aku menjawabnya seperti itu, suamiku mengetahui tidak ya.. jika aku mencari kamera CCTV. Bisa bisa yang ada aku ditertawakan. Batin Maura sedikit cemas.
"Yang benar? perasaan kamarnya masih seperti dulu. Cuman yang beda itu pemiliknya, sekarang sudah jinak." Ucap Ganan meledek.
"Apa? memang aku dulu kenapa?" tanya Maura pura pura tidak mengerti.
"Dulu kamu itu gemesin, tapi dulu aku selalu yang menang untuk mendapatkan kamar ini." Jawab Ganan sambil memicingkan alisnya dan senyum menggoda.
Kenapa aku baru menyadarinya, bahwa suamiku sudah mencintaiku sejak aku masih duduk dibangku SMA. Seandainya waktu bisa diulang kembali, pasti aku menikmati hari hariku penuh bahagia. Rupanya suamiku tidak sedingin yang aku bayangkan. Batin Maura sambil menatap lekat wajah suaminya.
__ADS_1
"Iya, karena kalau aku tidak mengalah. Aku mendapatkan hukuman dari Mamaku. Apa kamu tahu? aku rela demi tamu dari seberang jauh nan disana." Jawab Maura sambil mencubit gemas kedua pipi suaminya.
"Ganan pun mulai mendekati istrinya semakin mendekat, jaraknya pun tidak ada satu jengkal. Hidung milik keduanya sudah menempel. Namun tiba tiba Maura merasakan sesuatu yang aneh baginya.
"Minggir....... badan kamu bau, sayang.. bahkan aku merasa mual mencium bau badan kamu. Apalagi bau mulut kamu itu, sungguh membuatku mual, sayang.. cuci mulut dulu, sayang.." Pinta Maura sambil menutup mulutnya dengan kedua telapsk tangannya. Ganan pun mencoba mencium badannya, begitu juga dengan mulutnya sendiri.
"Tidak ada yang bau kok, sayang.. badanku saja masih bau parfum. Indra penciuman kamu bermasalah mungkin." Jawab Ganan sambil memeriksa bau badannya.
"Tapi, memang benar benar kamu itu bau badan, sayang. Aku tidak bohong, bahkan sangat mual aku mencium bau badan kamu." Ucap Maura yang masih menutup hidungnya.
"Terus, aku tidur dimana? apa iya, aku tidur dilantai lagi? jangan menyiksaku seperti ini. Aku sangat ngantuk dan juga lelah, tidak diberi jatah pun aku terima. Asal aku tidur ditempat tidur ini ya, sayang..." Jawab Ganan memohon.
"Tapi aku benar benar tidak tahan, sayang.. kamu tidur diruang tamu bersama pak Tono, bagaimana?" pinta Maura.
"Tidak mau, apa kata Mama dan Papa kalau kita tidur terpisah. Aku tidak mau, baiklah kalau begitu aku mau mandi penuh wangi wangian. Biar kamu tidak merasa bau badan di tubuhku. Dan aku bisa tidur sambil memelukmu, sayang.." jawab Ganan berusaha mencari cara.
"Baguslah, cepetan segera mandi. Karena aku sudah tidak tahan mencium bau badan kamu." Ucap Maura sambil menahan bau tidak enak.
Sedangkan Ganan langsung masuk kamar mandi tanpa pikir panjang. Setelah merasa sudah cukup, bahkan hampir menghabiskan satu botol sabun mandi dan shampo yang hampir habis. Dan menyikat giginya berulang ulang sampai panas karena pasta gigi. Ruangan kamar mandi sudah seperti taman bunga, yang dimana bau wangi yang begitu menyengat. Bahkan Ganan sendiri sampai mual mencium bau kamar mandi yang terlalu bau wangi.
Mau bagaimana lagi, demi istri tercintanya agar tidak mencium bau badan yang tidak enak. Ganan terpaksa berendam dengan sabun yang hampir habis satu botol. Setelah ritual mandi wanginya selesai, Ganan segera memakai baju tidur. Yang juga disemprot pakai parfum sampai Ganan sendiri merasa pusing dengan aroma parfum di bajunya.
"sayang... bagaimana? sudah bau wangi, kan?" tanya Ganan mendekati istrinya.
__ADS_1
"Minggir...... kamu masih bau badan, sayang... sudah aku bilang, kamu sangat bau. Aku benar benar tidak tahan dengan bau badan kamu, sayang... aku mohon mengertilah.." Jawab Maura sambil mendorong tubuh suaminya yang berdiri dengan tegap.