Menikah Karena Perjodohan

Menikah Karena Perjodohan
80 S2


__ADS_3

"Papih?" tanya Clarisa dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maaf, kalau kamu gak setuju, aku enggak mak---" Ucapan Brayn lebih dulu dipotong oleh Clarisa.


"Enggak, kok, aku enggak keberatan. Rumah ini 'kan, milik keluargamu," sahut Clarisa seraya menunduk.


"Maaf ... aku dan keluargaku selalu menyu---" Clarisa menghentikan ucapannya, saat jemari sang suami menempel di bibirnya.


"Jangan katakan apa pun!" ujar Brayn seraya menggelengkan kepalanya. Tanpa malu-malu, Brayn mengecup bibir Clarisa di hadapan kedua orang tuanya.


"Akh ...!" Clarisa tiba-tiba saja meringis, sambil memegang kepalanya yang terasa berdenyut.


Brayn dan kedua orang tuanya, kini tengah menunggu di depan sebuah ruangan. Di mana di dalamnya, Clarisa tengah diperiksa oleh petugas medis.


Clek!


Brayn dan kedua orang tuanya, mengalihkan pandangannya ke arah seseorang yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.


"Iya, Dok. Saya mertuanya, bagaimana keadaan menantu saya, Dok?" tanya Bunda.


"Tidak ada masalah, hanya saja pasien tidak boleh banyak pikiran, di usia kandungannya yang baru menginjak dua mingguan itu," jelas sang dokter seraya tersenyum.


**MOHON MAAF, CERITA INI SUDAH DI HAPUS DEMI KEPENTINGAN PRIBADI

__ADS_1


"Papih?" tanya Clarisa dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maaf, kalau kamu gak setuju, aku enggak mak---" Ucapan Brayn lebih dulu dipotong oleh Clarisa.


"Enggak, kok, aku enggak keberatan. Rumah ini 'kan, milik keluargamu," sahut Clarisa seraya menunduk.


"Maaf ... aku dan keluargaku selalu menyu---" Clarisa menghentikan ucapannya, saat jemari sang suami menempel di bibirnya.


"Jangan katakan apa pun!" ujar Brayn seraya menggelengkan kepalanya. Tanpa malu-malu, Brayn mengecup bibir Clarisa di hadapan kedua orang tuanya.


"Akh ...!" Clarisa tiba-tiba saja meringis, sambil memegang kepalanya yang terasa berdenyut.


Brayn dan kedua orang tuanya, kini tengah menunggu di depan sebuah ruangan. Di mana di dalamnya, Clarisa tengah diperiksa oleh petugas medis.


Clek!


Brayn dan kedua orang tuanya, mengalihkan pandangannya ke arah seseorang yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.


"Iya, Dok. Saya mertuanya, bagaimana keadaan menantu saya, Dok?" tanya Bunda.


"Tidak ada masalah, hanya saja pasien tidak boleh banyak pikiran, di usia kandungannya yang baru menginjak dua mingguan itu," jelas sang dokter seraya tersenyum.


MOHON MAAF, CERITA INI SUDAH DI HAPUS DEMI KEPENTINGAN PRIBADI

__ADS_1


"Papih?" tanya Clarisa dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maaf, kalau kamu gak setuju, aku enggak mak---" Ucapan Brayn lebih dulu dipotong oleh Clarisa.


"Enggak, kok, aku enggak keberatan. Rumah ini 'kan, milik keluargamu," sahut Clarisa seraya menunduk.


"Maaf ... aku dan keluargaku selalu menyu---" Clarisa menghentikan ucapannya, saat jemari sang suami menempel di bibirnya.


"Jangan katakan apa pun!" ujar Brayn seraya menggelengkan kepalanya. Tanpa malu-malu, Brayn mengecup bibir Clarisa di hadapan kedua orang tuanya.


"Akh ...!" Clarisa tiba-tiba saja meringis, sambil memegang kepalanya yang terasa berdenyut.


Brayn dan kedua orang tuanya, kini tengah menunggu di depan sebuah ruangan. Di mana di dalamnya, Clarisa tengah diperiksa oleh petugas medis.


Clek!


Brayn dan kedua orang tuanya, mengalihkan pandangannya ke arah seseorang yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.


"Iya, Dok. Saya mertuanya, bagaimana keadaan menantu saya, Dok?" tanya Bunda.


"Tidak ada masalah, hanya saja pasien tidak boleh banyak pikiran, di usia kandungannya yang baru menginjak dua mingguan itu," jelas sang dokter seraya tersenyum.


MOHON MAAF, CERITA INI SUDAH DI HAPUS DEMI KEPENTINGAN PRIBADI**

__ADS_1


__ADS_2