
Tirta berusaha membangunkan sang istri yang sudah terlelap dari tidurnya tak juga bangun.
"Sayang... sup ayamnya sudah matang, sayang.. ayo bangun..." ucap Tirta lagi dan lagi mencoba membangunkan sang istri.
"Mana supnya?" tanya Nessa sambil membuka kedua matanya dengan sempurna. Dan diciumnya aroma sup ayam dengan irisan jahe menggugah selera Nessa.
"Ini, ayo duduklah." kata Tirta, sang istri pun tersenyum dan segera bangun dan duduk.
"Suapin, aku pingin disuapin." Jawab Nessa berubah manja, Tirta pun heran akan perubahan sang istri.
"Iya, sayang.. akan aku suapin." Ucap Tirta sambil menyuapi sang istri, Nessa tersenyum dan merasa sangat bahagia karena mendapatkan perhatian dari sang suami.
"Bagaimana supnya ayamnya, kuahnya segar?" tanya Tirta.
"Sangat segar dan menggugah selera. Padahal ini cuma garam dan jahe iris tipis, kan?" jawab Nessa balik bertanya.
"Benar sekali, aku baru pertama kalinya membuat sup pakai jahe dan garam saja. Kenapa kamu begitu menyukainya? apakah kamu sering menonton film china?" ucap sang suami bertanya.
"Iya, aku pernah menontonnya. Dan aku tergoda dengan sup ayamnya. Sebenarnya masih kurang bumbu, kurang rempah rempahnya. Tapi tidak apalah, ini juga sudah sangat enak." Jawab Nessa sambil menikmati sup ayam yang dimana sang suami yang menyuapinya.
"Kamu sudah tidak membenciku lagi, kan?" tanya Tirta yang penasaran akan sikap istrinya yang berubah ubah.
"Tidak tahu, sekarang biasa biasa saja." Jawabnya mulai sedikit ketus. Tirta pun sedikit bingung akan sikap istrinya
"Oh iya, kata tante Qinan kamu harus periksa ke Dokter kandungan. Karena dilihat dari perubahan sikapmu yang berubah ubah. Tante Qinan menebak, bahwa kamu sedang hamil." Ucap Tirta, sedangkan Nessa kaget mendengar penuturan dari sang suami.
"Apa...! aku hamil." Ucap Nessa dengan reflek langsung memegangi perutnya.
"Benarkah aku hamil?" ucapnya lagi.
"Besok kita akan kerumah sakit untuk memeriksakan kandungan kamu. Setelah sup ini habis, segera tidur. Jangan meminta yang aneh aneh, sudah larut malam."
"Baiklah, tetapi jika aku benar benar menginginkannya harus dipenuhi.
__ADS_1
"Iya, sayang.. sudahlah ayo habiskan supnya dan segera kita tidur."
Nessa yang masih menikmati sup ayamnya dan segera menghabiskannya.
Setelah supnya sudah habis, Nessa segera masuk ke kamar mandi dan segera menggosok giginya. Kemudian kembali ke tempat tidur, begitu juga dengan sang suami yang sudah berbaring di atas tampat tidur. Kini keduanya terlelap dari tidurnya.
***
Pagi yang begitu cerah dan hangat, Nessa dan suami kini telah siap untuk berangkat ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan.
"Sayang, bener nih kita akan berangkat ke rumah sakit?" tanya Nessa.
"Benar sayang... aku mau memeriksakan kandungan kamu, kamu tahu? aku benar benar sudah tidak sabar untuk mengetahui hasilnya. Semoga kamu benar benar hamil, sayang.." jawab Tirta lalu mencium kening sang istri lembut.
"Aku pasti akan bahagia sekali, jika di dalam rahimku benar benar tumbuh janin. Kita akan segera menjadi orang tua, dan kita akan memiliki malaikat kecil." Ucap Nessa dibarengi dengan perasaan bahagia. Tirta pun segera memeluknya.
"Iya, sayang.. semoga apa yang kita harapkan akan terwujud." Jawab Tirta tersenyum mengembang.
"Kalau begitu, ayo kita segera turun. Semua sudah menunggu kita, sayang..." ajak Nessa. Tirta pun langsung menggandeng tangan sang istri menuju ruang makan.
"Berlapis lapis, emangnya kueh lapis?" jawab Tirta sambil menarik kursi untuk sang istri. Dan keduanya duduk tapi berdekatan.
"Cie... yang sebentar lagi mau dapat junior.." ucap Zeil lagi yang masih menggoda Tirta, Nessa sendiri hanya tersenyum malu. Sedangkan Tirta tidak meresponnya, karena tidak akan ada ujungnya jika berdebat dengan Zeil.
"Semoga hari ini adalah benar benar hari keberuntungan kalian. Semoga Nessa benar benar hamil." Ucap Nyonya Serly.
"Aamiin... terimakasih tante..." jawab Nessa dan Tirta.
"Ini pasti tante Qinan," ucap Tirta sambil tersenyum.
"Iya, maafkan tante. Karena tante tidak bisa menyembunyikan kabar bahagia ini, meski belum terlihat jelas. Tapi tante mencoba menebaknya, dan kata Mamanya Zeil juga sama. Semoga benar kenyataannya ya, sayang.." jawab Nyonya Qinan tersenyum.
"Aamiin.." jawab semua serempak.
__ADS_1
"Sebentar lagi kita akan menerima cucu sekaligus dua cucu, semoga Zeil juga segera menyusul ya, sayang..." ucap Nyonya Qinan sambil mengelus perut Zeil yang duduk disampingnya.
"Aamiin..." jawabnya serempak kembali.
"Wah.. sebentar lagi kita akan menjadi kakek buyut," ucap kakek Wilyam sambil menepuk punggung kakek Kosim. Keduanya tersenyum lebar nampak bahagia.
"Rupanya kita sudah tua kakek Wilyam, aku tidak menyangkanya." Jawab kakek Kosim tersenyum mengembang.
Tidak hanya itu, Tuan Angga maupun Tuan Zio dan yang lainnya ikut tersenyum lebar melihat kakek Wilyam dan kakek Kosim tertawa bersama.
"Sudah sudah... kapan dimulai sarapan paginya kalau kita tertawa terus, aku sudah sangat lapar." Ucap Tuan Angga sambil celinguk sana sini, semua hanya tersenyum mendengar ucapan dari Tua Angga.
"Benar kata kamu kak, aku juga sudah sangat lapar." Jawab Zio yang juga ikut menimpali.
"Wah.. kakak beradik kompak sekali, pasti sudah direncanakan ini kekompakannya." Ucap pak Kosim meledak, sedangkan Tuan Zio dan Tuan Angga hanya saling pandang. Karena sejak ada masalah karena percintaan, keduanya terlihat sedikit merenggang. Bicaranya pun sekedar serius, bersenda gurau pun terkadang harus mencuri kesempatan saat bersama yang lainnya.
Beruntung anakku tidak bersaing dengan putranya Ferdi. Jika iya, aku tidak bisa membayangkan. Batin Tuan Angga teringat akan masa lalunya saat kenyataannya wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta yang tidak lain adalah wanita yang dicintai oleh adiknya sendiri.
"Sudahlah ayo kita sarapan pagi, nanti keburu dingin tidak enak." Ucap kakek Wilyam yang berusaha mengganti topik pembicaraan, karena kakek Wilyam tidak ingin kedua puteranya teringat akan masa lalunya. Meski keduanya sudah sama sama tua, namun tetap saja yang namanya masa lalu tetap diingat.
Semua mengangguk dan menikmati sarapan pagi, tidak ada satupun yang membuka suara. Hanya dentingan sendok yang menyapu piring.
Setelah selesai sarapan pagi, Nessa dan Tirta segera segera bersiap siap untuk berangkat ke Dokter. Karena rasa penasarannya, akhirnya memutuskan untuk periksa.
"Kita pergi ke rumah sakit dulu, ya kek, paman, dan tante ." Ucap Tirta berpamitan.
"Hati hati, di perjalanan. Dan jangan lupa, vitamin dan susunya." Jawab Nyonya Qinan.
"Baik, tante..." jawabnya lalu segera pergi.
Dalam perjalanan, Nessa merasakan sesuatu didalam perutnya.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Tirta heran.
__ADS_1
"Perutku terasa mual, padahal aku hanya makan sedikit. Tapi kenapa terasa tidak karuan, sayang.." jawab Nessa sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
"Sabar ya, sayang.. sebentar lagi kita sampai." Ucap Tirta menenangkan.