
Kasih menutup matanya rapat, menggenggam tangannya erat, sedangkan di hadapannya ada
5 buah benda berwarna merah muda dan putih berjejer dengan rapih di atas meja samping wastafel kamar mandinya
“ku mohon jangan “ gumam kasih membuka matanya perlahan
Mata kasih langsung terbuka lebar dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya “gak
mungkin” teriak kasih melihat kelima benda tersebut muncul dua garis merah
“aku hamil” gumam kasih menangis histeris
“gak mungkin” kasih jatuh terduduk menekuk kedua lututnya menyembunyikan wajahnya
“gak mungkin” teriak kasih
Di sela tangisnya, ponsel kasih terus berbunyi tapi tak di dengar kasih karena larut dalam pikirannya . Begitu banyak panggilan yang tertera di sana, mulai dari ningrum, rafasya dan juga nenek angel
***
“gimana rum, kasih jawab gak?” tanya kakek sakti cemas
Ningrum menggeleng “ enggak kek” balas ningrum lesu
Kakek sakti makin khawatir “bagaimana ini” gumam kakek sakti memegang pelipisnya
Nenek angel hanya menangis sedari tadi tak mampu berkata apapun “tenang tante, kita
pasti dapat jalan keluar, kak boy sudah mencarinya” ucap mama kaila menenangkan
Kakek sakti menatap mama kaila “kalian gak tahu saja bengisnya pria itu, mereka membawanya sejak semalam. Anakku pasti…”kakek sakti tak mampu melanjutkan ucapannya mengingat kejadian saat mas ojo dan bawahannya membawa paksa raka di depan matanya dengan mudahnya karena kakek sakti yang tak mampu melawan anak buah mas ojo yang terlatih itu
Semua orang tampak cemas “ bagaimana kalau ningrum ke rumahnya” ucap ningrum mengusulkan
“apa kau akan di izinkan masuk? kata om boy rumah kasih di jaga ketat” tanya rafasya
“kita coba saja dulu , dari pada kita duduk diam dan tak tahu harus apa” balas ningrum
ningrum, rafasya, kakek sakti dan ayah virza bergegas menuju rumah kasih dengan
kecepatan tinggi
“masih tak di angkat rum?” tanya ayah virza pada ningrum yang sedari tadi menelfon kasih
“belum yah, aku coba terus deh” ningrum kembali menelpon kasih
***
Kasih yang sedari tadi menangis, mengusap air matanya . ia berdiri dan mengambil ponselnya yang berada di samping alat test pack yang berjejer di atas meja dekat wastafel
Kasih menyipitkan matanya “ 58 panggilan tak terjawab dari ningrum” gumam kasih
Kasih bergegas menelfon ningrum balik “ada apa
rum? Kok nelpon banyak banget? Maaf ya aku gak lihat ponsel dari tadi” ucap kasih
“syukurlah kau mengangkatnya, kamu dimana?” tanya ningrum dengan nada cemas
“di rumah, ada apa?” tanya kasih heran dengan nada suara ningrum
“bagus kalau gitu, bukain pintu untuk kami pengawal mu melarang kami masuk” ucap ningrum dengan nada cemas
__ADS_1
“di depan rumahku?” tanya kasih berlari keluar kamar mandi menuju arah jendela kamarnya dan membuka tirai gorden kamarnya dengan cepat
“kenapa mereka melarang kamu masuk rum ?” tanya kasih heran
“aku mohon turunlah kasih” pinta ningrum mulai terisak karena waktu yang terus bergulir membuat mereka makin cemas
Kasih bergegas keluar rumah menuju gerbang, saat akan keluar pintu depan ia di hadang
para pengawal bawahan mas ojo yang berbadan
tegap, atletis dan tinggi serta berkulit putih yang
bernama Radit “apa-apaan ini!” bentak
kasih
“maaf nona, kami di perintahkan untuk melarang anda keluar ataupun bertemu orang lain” balas Radit
Keluarga ningrum mencoba masuk tapi kesulitan, karena memang para pengawal kasih yang
handal berkelahi, hasil pelatihan keras mas ojo
“biarin kami masuk, kami mau bicara dengan kasih” pinta ningrum pada pengawal yang
menjaga rumah kasih
“maaf nona, kita tak di izinkan membolehkan orang luar masuk rumah hari ini” balas pengawal
yang berada di gerbang
Ningrum melihat kasih yang di hadang pengawal kasih “kasih tolong om raka! Pengawal mu
membawanya semalam!” teriak ningrum agar di dengar oleh kasih yang berada cukup jauh darinya
“aku tak tahu, pengawal mu hanya bilang berani-beraninya mengusik mu, lalu membawa om
raka sejak semalam” teriak ningrum
Para pengawal kasih mulai mendorong keluarga
ningrum paksa agar pergi dari rumah kasih secepatnya
“jangan menghalangi jalanku!” bentak kasih menatap tajam radit
radit tak bergerak sedikitpun “maaf nona, kami dapat perintah melarang nona keluar” balas radit
“aku yang tuan mu atau mas ojo!?” tanya kasih penuh penekanan
“anda nona” balas pengawal tersebut yakin
“kalau gitu minggir!” teriak kasih menggeser tubuh radit menjauh
Kasih berjalan ke arah gerbang meminta gerbang dibuka. Pengawal kasih membuka gerbang dengan ragu-ragu
“kasih” ningrum memeluk kasih erat
“ada apa sebenarnya?” tanya kasih masih kurang paham yang terjadi
Kakek sakti berlutut di hadapan kasih “aku mohon selamatkan anakku” pinta kakek sakti
menyatukkan kedua tangannya di depan kasih
__ADS_1
Kasih merasa tak enak hati saat kakek sakti berlutut di hadapannya “ jangan seperti ini om” ucap kasih membantu kakek sakti untuk berdiri
Kakek sakti menolak dan tetap berlutut “om tahu anak om salah, tapi om mohon selamatkan dia, kami akan melakukan apapun agar kau mau menyelamatkannya” pinta kakek sakti dengan mata yang sudah berair karena kalut memikirkan keadaan anaknya
Kasih membantu kakek sakti berdiri “kasih pasti menolong bang raka om” balas kasih
Kasih mengambil ponselnya untuk menghubungi mas ojo . tapi tak di jawab sama sekali
oleh mas ojo
“tidak di angkat” ucap kasih bingung menatap keluarga ningrum yang makin cemas
Kasih menatap radit “coba hubungi mas ojo” pinta kasih pada Radit
Radit menuruti keinginan kasih untuk menelfon mas ojo “tak ada jawaban nona” balas
pengawal tersebut menunjukkan ponselnya yang tak di jawab sama sekali
“bagaimana ini?” tanya ningrum cemas
Kasih mulai cemas dengan keadaan Raka karena mengenal sifat pengawalnya yang sudah
berada di sampingnya selama 16 tahun “aku punya cara” kasih berjalan menuju pos jaga satpam meraih gunting rumput yang ada di tempat penyimpanan alat kebun yang berada tak jauh dari pos jaga satpam di rumahnya
Kasih mengarahkan gunting tersebut ke arah tangannya “apa yang kau lakukan!” teriak
ningrum melihat kasih membuka gunting rumput tersebut dan mengarahkan bagian tajamnya ke tangannya
Kasih menjauhkan tangannya dari jangkauan ningrum “hanya dengan begini dia akan
muncul” kasih menarik gunting tersebut melukai tangannya membuat darah segar
mengalir dari tangannya dengan cepat
“kasih” teriak ningrum memegang tangan kasih yang terluka
“biarin rum” tolak kasih menarik tangannya agar ningrum tak menutup lukanya
“tapi kamu terluka” balas ningrum tak tega melihat tangan kasih terluka, dan wajah
kasih yang mulai pucat
“aku mohon tunggu sebentar saja” pinta kasih
Tak berapa lama ponsel Radit pengawal kasih berdering
“dari.mas ojo non” ucap pengawal kasih memperlihatkan ponselnya
“angkat” pinta kasih
Pengawal tersebut pun mengangkat panggilan telfon mas ojo “iya pak” sapa pengawal kasih
“apa yang terjadi pada nona kasih!” teriak mas ojo lantang membuat kasih mendengarnya jelas
“bilang aku terluka” ucap kasih dengan bahasa bibirnya
“tangan non kasih terluka dan mengeluarkan banyak darah” balas Radit
“kok bisa?! Bagaimana keadaannya?” tanya mas ojo cemas
“saya kurang tau pak. tapi darahnya masih mengalir pak , kami ingin membawanya ke rumah sakit tapi bapak melarang kami membawa non kasih keluar rumah” balas pengawal tersebut
__ADS_1
“bawa nona kasih ke rumah sakit sekarang! Aku akan segera menyusulnya “ balas mas ojo menutup telponnya