
Flash back
Raka menarik pinggang kasih menempel pada dada bidangnya tak menyisakan jarak sedikitpun
raka menatap manik mata kasih “jadilah milikku?” raka langsung melahap bibir kasih
Kasih hanya diam saja tak menolak ataupun menyambut perbuatan raka padanya , ia tak tahu harus apa, karena memang dirinya yang belum pernah berciuman. raka adalah laki-laki pertama yang merebut first kiss nya
tak mendapati respon dari kasih yang hanya diam seperti patung, Raka menggigit bibir bawah kasih, membuat kasih membuka mulutnya membiarkan raka mengakses setiap inci yang di dalam sana
Raka mulai membelit lidah kasih,awalnya kasih begitu kaku, bingung harus seperti apa tapi lama kelamaan kasih mulai mengimbangi permainan raka walaupun terbilang masih kaku karena memang ini yang pertama kali untuk kasih
tiba-tiba kasih tersadar akan sesuatu“ahhhh bang cukup”ucap kasih mendorong tubuh raka menjauh
raka menautkan kedua alisnya “kau tidak suka abang?” tanya raka tak menyangka kasih akan mendorongnya
kasih kebingungan dan langsung menunduk, tak sanggup menatap wajah raka “bukan seperti itu bang" raka menyunggingkan sudut bibirnya mendengar penuturan kasih " tapi ini terlalu cepat, aku belum..” belum sempat kasih menyudahi pembicaraannya ,raka kembali melahap bibir kasih
Kasih yang awalnya menolak dan terus mendorong tubuh raka menjauh, lama-kelamaan terbawa suasana karena raka yang tak bergeser sedikut pun dengan dorongan kasih. kasih mengalungkan tangannya ke leher raka, mereka berpangutan dengan di temani suara ombak dan hembusan angin yang menerpa tubuh mereka
Raka menggendong kasih seperti koala tanpa melepas pangutannya menuju kamar yang
tersedia di kapal pesiar miliknya, Raka mendorong pintu kamarnya menggunakan kaki kananya, mereka menghabiskan malam indah berdua dengan diiringi suara-suara yang memabukkan membawa mereka ke alam surga dunia tanpa ada yang mengganggu
Flash back end
“saat aku bangun, kapal sudah menepi dan kasih sudah tak ada. Om sudah berapa kali menghubungi kasih tapi tidak di jawab” jelas raka pada ningrum
nafas ningrum memburu menahan amarah “om!” teriak ningrum melampiaskan emosinya
Raka hanya menunduk tak mampu menjawab
ningrum berkacak pinggang “dia itu sekarang sendirian di sini, bagaimana bisa om lakuin itu, om itu kan lebih dewasa harusnya bisa menahannya. Jangan hanya terbawa nafsu!” tunjuk ningrum pada barang berharga om nya itu
Ningrum berusaha mengatur nafasnya “terus apa yang akan om lakuin?” tanya ningrum
“entahlah rum” balas raka mengedikkan bahunya
“aaaaakhhhhhhh!” teriak ningrum meluapkan amarahnya tak percaya dengan jawaban pria dewasa di hadapannya itu
Kasih berjalan dengan tertatih keluar menghampiri arah suara ningrum yang berteriak “ada apa rum?” tanya kasih dengan suara lirih karena lemas . kasih seharian belum makan dan juga badannya yang masih sakit akibat kegiatan panasnya semalam
Ningrum yang melihat kasih masih lemah, berlari menghampiri “kok kamu keluar? Istirahat saja”
balas ningrum menggandeng kasih agar tak terjatuh
“aku denger kamu teriak, jadi aku pengen tahu” balas kasih memaksakan senyumnya
Raka yang melihat kondisi kasih, hatinya serasa tercubit dipenuhi rasa bersalah “kasih” panggil raka lirih
__ADS_1
Kasih yang tak mengetahui keberadaan raka, mulai gugup, memegang lengan ningrum bersembunyi di balik tubuh sahabatnya itu “suruh dia pergi rum. Aku mohon” pinta kasih dengan suara lirih
“iya sih” balas ningrum
“sana pergi” pinta ningrum pada raka
“tapi rum, om mau bicara sama kasih” balas raka
“pergi!” bentak ningrum
Raka terpaksa melangkah meninggalkan rumah kasih dengan berat hati
Ningrum berbalik memeluk kasih “tenang ya kasih, ada aku di sini” ucap ningrum menguatkan sahabatnya
Ningrum membawa kasih masuk ke dalam kamarnya. Melihat kasih yang begitu gugup, ia teringat obat yang pernah di berikan mamanya yang selalu ia bawa walaupun tak pernah ia minum, obat yang bisa di gunakan untuk mengatasi kegugupan berlebihan. yang memang terbilang masih aman dikonsumsi tanpa resep dokter
Setelah meminum obat kasih pun tertidur. Ia teringat akan suaminya lalu menghubungi rafasya
“kak” panggil ningrum dari seberang telpon
“iya sayang, ada apa? Mau kakak jemput apa? Kebetulan bentar lagi kakak selesai” balas rafasya merapihkan meja kerjanya
“enggak kak, sepertinya malam ini ningrum menginap di rumah kasih deh” balas ningrum tak enak hati pada suaminya
Rafasya mengerucutkan bibirnya “ kenapa? Pulang dong rum, nanti kakak siapa yang nemenin tidur” rengek rafasya
rafasya menaikan sebelah alisnya mendengar penuturan ningrum “memang ada apa sih rum? Kayanya serius” tanya rafasya merasa aneh dengan nada suara ningrum, merasa ada yang tidak beres
“ningrum gak bisa cerita di telfon, nanti ningrum akan ceritain semuanya sama kakak. Tapi sekarang teman ningrum jauh lebih butuh ningrum, dia sendirian kak” ucap ningrum
“ya sudah deh” balas rafasya pasrah
Rafasya berjalan dengan lesu menuju mobilnya untuk pulang ke rumah
***
Rafasya menghidupkan lampu ruang tamu dan duduk di sofa ruang tamu dengan lesu karena tak ada ningrum
“hhuuuuu”rafasya menghela nafas kasar menaruh tasnya di meja, menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa
“ada apa?” tanya raka datar tanpa menoleh pada rafasya
“ahhh” rafasya begitu terkejut memegang dadanya melirik kesamping yang ternyata raka “ bikin kaget aja sih om!” bentak rafasya karena terlalu terkejut
“kenapa kamu sama kaya ningrum sih, bentak-bentak om!” kesal raka dengan suara tinggi
Rafasya menaikan sebelah alisnya “ningrum abis bentak om?” tanya rafasya
“hiks hiks hiks” tiba-tiba saja raka menangis membuat rafasya kebingungan
__ADS_1
“om kok nangis sih? Maaf deh kalau rafasya salah” pinta rafasya merasa tak enak hati pada om istrinya
“ajak yang lain kumpul napa?” ajak raka merengek pada rafasya
“siapa? Kak aditya dan kak zian kan di luar negeri, martin lagi ke luar kota, romi juga kuliah di luar negeri bukan? Kalau si Julian, aku gak tahu” balas rafasya
“ya sudah telfon Julian kesini, hiks hiks hiks “ pinta raka
“tapi ini kan rumah ningrum om” balas rafasya tak enak mengundang orang saat istrinya tak ada
“kenapa? Istrimu juga gak akan pulang ini” balas raka masih sesenggukan
Rafasya menyipitkan matanya “ kok om tahu ningrum gak pulang?” tanya rafasya
“telpon!” bentak raka yang tak mau di bantah
Kini, Julian dan rafasya hanya saling melempar pandangan melihat raka yang menangis sambil minum 2 botol
(bukan minuman memabukkan ya, Cuma jus buah doang, berhubung adanya itu di kulkas. Mana pernah mama kaila memeperbolehkan minuman keras di rumahnya. Hehehehe
“om kenapa sih, dari tadi nangis doang. Kita suruh nonton om yang lagi nangis secara live gitu?” tanya Julian mulai kesal
“hiks hiks hiks” raka makin mengeraskan suara tangisannya membuat rafasya dan Julian geleng-geleng kepala melihatnya
“aku harus apa ?” tanya raka menatap rafasya dan Julian bergantian
“aku terlalu bersalah” tambah raka kembali menangis sesenggukan
“memang apa yang udah om lakuin?” tanya Julian
Raka mengangkat tulunjuk tangan kirinya “aku” kemudian mengangkat telunjuk tangan kanannya “dengan kasih” raka menautkan kedua jarinya erat “ begitu kemarin malam” jelas raka
Rafasya dan Julian membelalakkan matanya lebar paham dengan maksud raka “apa?!” teriak keduanya
“kau gila ya! Dia itu teman istriku om, usianya masih belasan, 20 saja belum genap” bentak rafasya
“kau saja dengan kasih sudah begitu” balas raka dengan suara lirih
“ya om jangan samain aku dengan om dong. Aku dan ningrum kan sudah nikah jadi gak masalah kalau begitu” balas rafasya tak mau di samakan dengan raka
Julian menggelengkan kepalanya “kalian berdua menodai pikiran jernih pria perjaka tulen sepertiku” ucap Julian
“diam kau!” bentak rafasya dan raka secara bersamaan menatap tajam Julian membuat nyali julian langsung menciut
Rafasya menatap tajam ke arah raka “jadi gara-gara om, istriku tak pulang?” tanya rafasya menunjuk raka dengan kesal
Raka mengangguk “iya, mana mungkin ningrum ninggalin kasih yang sedang ketakutan” balas raka
“ommmmmm!” teriak rafasya
__ADS_1