
Di kediaman kakek Danuarta, yang dimana Tirta sedang bersiap siap untuk menemui sahabatnya.
"Sayang, malam malam begini kamu mau kemana?" tanya Nessa penasaran.
"Aku mau ke Restoran, aku ada janji dengan sahabatku yang pernah menelfonku saat kita masih di Amerika. Raska loh, sayang... masih ingat, kan? yang seperti bunglon." Jawab Tirta mengingatkan.
"Oooh, yang terkenal kejam dan sombong. Ya sudah kalau begitu, hati hati di perjalanan. Dan jangan malam malam pulangnya, aku tidak mau kesepian." Ucap Nessa mengingatkan waktu pulang.
"Iya, sayang.. kamu tidak perlu khawatir. Jika kamu penasaran, kamu bisa mengikutiku dari belakang." Jawab Tirta tersenyum meledek.
"Iya iya... aku percaya." Ucap Nessa tersenyum, Tirta pun langsung mencium kening sang istri dengan lembut.
Tidak lama kemudian, Tirta telah sampai di Restoran miliknya. Semua orang terpaku melihat Tirta yang tidak biasanya hanya berpenampilan baju santai, semua pengunjung tidak ada yang berani berbisik untuk membicarakan Tirta. Hanya dengan bergumam yang bisa dilakukan oleh para pengunjung.
Tirta pun segera mencari keberadaan sahabatnya, Tirta celingukan kesana kemari. Dan kedua mata Tirta tertuju dengan sosok laki laki yang tidak asing baginya.
"Dor!" Tirta mengagetkan.
"Sialan, kamu. Berani beraninya kamu mengagetkanku dari belakang. Cepetan duduk." Ucapnya tanpa basa basi.
"Jangan tegang, nanti kamu tidak laku." Ledek Tirta sambil cengengesan.
"Memang kamu sudah laku? istri saja kamu dicarikan orang tua kamu. Hemmm..." ucapnya santai.
"Biarin, yang terpenting aku sudah jatuh cinta. Lah kamu? kasihan..." ledek Tirta yang tidak ada hentinya.
"Kamu menantangku, rupanya. Lihat saja nanti, aku akan menyaingi kamu." Jawabnya dengan bangga.
"Raska.. Raska. Ada perlu apa kamu menemuiku, sampai sampai kamu membuat janji segala." Tanya Tirta heran.
"Aku mau minta tolong sama kamu, secepatnya kamu membuka cabang Restoran kamu. Nanti aku yang akan mengelolanya, aku yang akan menjadi karyawan rendahan. Tapi dibalik layar, aku yang mengaturnya. Aku hanya ingin berpura pura miskin, aku bosan menjadi kaya. Biarkan aku untuk memiliki profesi dua bagian. Antara Bos dan karyawan recehan." Jawab Raska tersenyum mengembang.
"Gile apa kamu, aku sudah membuka cabang dideket rumah mertuaku. Dan yang mengelola suami kakak iparku. Dan sekarang kamu muncul bagai tukang kredit. Aku suruh membuka Restoran, dan kamu yang menjadi kepalanya sekaligus karyawan receh. Sedangkan kamu sendiri masih ngurusin perusahaan kamu. Jangan gile lu Bro..." ucap Tirta sambil mengecek suhu kening Raska.
__ADS_1
"Sialan, aku masih normal. Kamu tuh, mendadak jadi Dokter. Sejak kapan? sejak istri kamu hamil?" jawab Raska sambil menyingkirkan telapak tangan Tirta yang sudah menempel di kening Raska.
"Memangnya untuk apa? sampai sampai kamu berpura pura miskin, hah?" tanya Tirta penasaran.
"Aku hanya ingin mencari jodohku yang sepertinya masih dalam perjalanan untuk mencariku. Aku takut jodohku kelaparan dijalanan. Kalau aku bekerja di Restoran siap tahu saja, terdampar di cabang Restoran kamu." Jawab Raska seenaknya.
"Sepertinya sahabatku sedang galau akut, hingga ngelantur kemana mana. Terlanjur kaya, mungkin efeknya bosan dan ingin menjadi miskin." Gerutu Tirta sambil geleng geleng kepalanya.
"Pokoknya besok kamu harus menyelesaikan semuanya, aku tidak mau jika tidak disegerakan secepatnya." Ucap Raska memaksa.
"Baiklah, besok akan aku kirimkan alamatnya. Sekarang kamu minum dan makan lah, jangan lupa dihabiskan." Jawab Tirta dan mempersilahkan makan malam bersama sahabatnya.
"Kamu menyuguhkanku makan malam? lihatlah, aku sudah kenyang." Jawabnya beralasan.
"Kalau kamu tidak mau, aku pun tidak akan mengabulkan permintaan kamu." Ucap Tirta tersenyum lebat, sedangkan Raska merasa dikerjain oleh Tirta. Dirinya segera menghabiskan makanan yang sudah disajikan, sedangkan Tirta sendiri tersenyum mengumpat dan puas telah mengerjai sahabatnya.
Awas kamu Tirta, aku akan mengerjaimu juga nanti. Batin Raska tersenyum mengumpat.
"Bro, aku pamit pulang. Tapi sebelumnya aku mau minta tolong, antarkan aku pulang. Supirku ada urusan dengan istrinya, jadi... aku meminta tolong sama kamu untuk pulang bersamaku." Ucap Raska merayu.
"Baiklah, karena akupun sudah tahu kalau ini adalah akal akalan kamu saja untuk mengerjaiku. Kamu yang menyetir, jangan protes. Supirku pun sudah aku suruh untuk pulang lebih awal dengan cara naik ojek." Jawab Tirta senyum puas, sedangkan Raska kalah telak. Hingga akhirnya Raska lah yang harus menyetirnya.
"Iya iya, aku kalah." Ucapnya langsung masuk kedalam mobil dan segera menyalakan mobilnya.
Sialan, ternyata sekarang Tirta sudah jauh lebih pintar dariku. Batin Raska dengan mimik wajahnya yang dibuat cemberut, Tirta sendiri tertawa puas.
Diperjalanan, keduanya bersendagurau yang dimana pernah tertawa bersama dan juga bersedih bersama.
Dilain sisi, Ganan sedang sibuk dengan laptopnya. Sedari tadi dirinya masih berusaha mencari cara untuk bisa memancing lawannya, namun lagi lagi Ganan tidak menemukan jawabannya.
Tok tok tok.. suara ketukan pintu membuyarkan keseriusannya. Ganan pun kaget dibuatnya.
"Masuk," ucap Ganan yang masih fokus pada laptopnya.
__ADS_1
"Papa... ada apa,?" tanya Ganan yang langsung mematikan laptopnya. Karena takut akan ketahuan aksinya.
"Tidak ada apa apa, kenapa kamu mematikan laptopmu, ada masalah?" jawabnya dan balik bertanya.
"Tidak ada apa apa juga kok. Silahkan duduk, pa.." jawab Ganan dan mempersilahkan ayahnya untuk duduk.
"Oh iya, hari ini ada pertemuan penting dari perusahaan baru. Dan papa berharap kamu melakukannya sebaik mungkin, jangan sampai berujung pertengkaran yang pernah kamu lakukan." Perintah sang Ayah.
"Perusahaan baru, nama perusahaannya apa, pa?" tanya Ganan penasaran.
"Revikarsa, apa kamu mengenalnya?" jawab sang Ayah dan bertanya.
Ganan yang mendengar awalan dan akhiran nama perusahan pun semakin kuat untuk menebaknya.
"Ganan tidak akan melakukan pertemuan dengan perusahaan Revikarsa. Percayalah dengan Ganan, Pa. Ada niat terselubung pada perusahaan itu. Lebih baik Papa batalkan, masih banyak perusahaan yang lain yang sedang menunggu untuk bekerja sama dengan perusahaan kita." Ucap Ganan mengingatkan.
"Maksud kamu, niat terselubung? siapa?" tanya Ayahnya penasaran.
"Kenapa papa menjadi lupa, seharusnya papa ingat masa lalu papa." tegas Ganan yang sudah tidak ingin menutupi kebenarannya.
"Papa tidak mempunyai masa lalu, papa hanya mempunyai satu mantan kekasih. Itupun sudah lama meninggal setelah kelahiran kamu." Ucap Ayahnya yang mengira masalalu atas percintaannya saat masih muda.
"Keluarga papa. Bukankah papa pernah bilang sama Ganan, jika papa memiliki saudara. Paman Galuh, bukan?" jawab Ganan mencoba mengingatkan.
"Paman kamu, Galuh? tidak mungkin. Paman kamu masih didalam sel tahanan." Jawab ayahnya yang mengira saudaranya masih didalam sel tahanan.
"Coba papa cek kembali." Ucap Ganan yang juga heran dengan papanya, karena tidak pernah perduli akan saudaranya.
"Baiklah, papa akan menelfon pihak kantor polisi." Jawab sang ayah yang juga penasaran.
Apakah benar ayah galuh masih di sel ditahan? ditunggu kelanjutannya ya... mulai tegang terus nih... 😃
Disini Raska sudah muncul, disana belum muncul.. sabar ya readers, hari ini babang Raska muncul. Ayo... intip novel yang satunya, tidak kalah serunya loh... 😃
__ADS_1