Menikah Karena Perjodohan

Menikah Karena Perjodohan
Ingin Segera Berdamai


__ADS_3

Di kediaman keluarga Wilyam, kini sedang sibuk dengan perjalanan yang akan ditempuh masing masing. Yang dimana Zeil dan Alfan maupun Kakek Wilyam. Begitu juga dengan Ganan dan istrinya beserta kedua orang tuanya akan berangkat ke kampung halaman Maura istri Ganan.


"Kak Maura.." seru Zeil memanggil seakan tidak ingin pisah dengan Maura. Begitu juga dengan Maura, memeluk Zeil dengan erat dan serasa tidak mau berpisah.


"Selamat untuk kamu ya, Zeil... maafkan kak Maura yang tidak bisa menemani kamu. Semoga dihari pernikahan kamu berjalan dengan lancar, dan penuh kebagiaan atas pernikahan kamu. Menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warohmah. Aamiin.." ucap Maura memberi ucapan selamat.


"Terimakasih atas doanya ya, kak.. semoga dihari resepsi pernikahan kakak juga tidak ada suatu halangan apapun. Dan membawa kebahagiaan untuk rumah tangga kakak, dan juga segera mendapatkan momongan. Aamiin.." jawab Zeil tersenyum. Keduanya pun berpelukan kembli, setelah semua telah berpamitan. Zeil dan Alfan maupun kakek Danu segera berangkat ke Amerika menggunakan pesawat pribadi.


Perasaan Zeil maupun Alfan terharu sangat bahagia. Meski Zeil masih berusia sangat muda, namun Zeil tidak ingin menyia nyiakan kesempatan emas ini. Zeil takut akan kehilangan harapan yang sudah dikatanya dengan rapih dalam lubuk hatinya paling dalam.


Selang beberapa waktu, keberangkatan Kakek Danu da juga Zeil maupun Alfan. Di dalam rumah terasa sangat sepi, biasanya riuh riuh suara Zeil dan Maura yang selalu menghiasi disudut ruangan. Kini terasa sepi untuk dirasakan, entah kenapa Tuan Angga tiba tiba terbesit akan sikap Putranya yang selama ini sudah sangat dingin terhadapnya. Sesuai niatnya, Tuan Angga ingin menyelesaikan permasalahannya yang sangat dingin terhadap Putranya.


Ganan yang sedang duduk diruang kerjanya, tiba tiba mendengar suara ketukan Pintu.


"Masuk," sahut Ganan yang sedang sibuk dengan komputernya.


"Mama... ada apa?" tanya Ganan.


"Tidak ada apa apa, Mama perlu bicara dengan kamu. Apa kamu ada waktu?" jawab sang Ibu balik bertanya.

__ADS_1


"Sesibuk apapun jika Mama ingin mengatakan sesuatu, Ganan selalu ada waktu untuk Mama. Katakan saja, Ma... Ganan akan mendengarnya." Jawab Ganan.


"Baiklah, kalau begitu Mama akan duduk." Ucap sang Ibu segera duduk berhadapan dengan Putranya. Sebenarnya berat untuk mengatakannya, tetapi Nyonya Qinan tidak ingin masalah yang tidak jelas berlarut larut menghantui pikirannya disetiap waktu. Bahkan keharmonisan seakan lenyap ditelan bumi.


"Maafkan Ganan, sampai lupa mempersilahkan Mama untuk duduk." Jawab Ganan tidak enak hati.


"Sampai kapan kamu akan terus terusan seperti ini? apa kamu tahan dengan sikap dinginnya kamu?" tanya sang Ibu dengan nekad.


"Maksud Mama apa? Ganan tidak mengerti apa Mama maksud." jawab Ganan balik bertanya.


"Kenapa kamu lupa, bukankah selama ini kamu selalu bersikap dingin dengan Papa kamu?" ucap sang Ibu sedikit kecewa karena Putranya tidak dapat mengerti maksud dari pertanyaan Ibunya.


"Kenapa kamu selalu mengulang ulang jawaban yang sama setiap Mama bertanya, apa tidak ada kata lain untuk kamu jawab? kamu bersikap dingin terhadap Papa kamu sama saja kamu menyiksa pemandangan kedua mata Mama. Pernahkah kamu berpikir seperti itu, Anakku? Bisakah sejenak saja kamu memikirkan itu?" ucap sang Ibu penuh kesal dan emosi. Ganan yang mendengarkannya pun kaget akan sikap Ibunya yang berubah begitu saja. Yang dimana menunjukkan kekesalannya.


Ganan pun baru menyadari, Ibunya yang selama ini terlihat sangat sabar dan lembut bisa menunjukkan emosinya.


"Maafkan Ganan, Ma.. bukan maksud Ganan untuk membuat Mama tersiksa setiap waktunya. Ganan meminta maaf, Ma..." jawab Ganan diselimuti kecemasan.


"Sekarang temui Papa kamu, minta maaflah kepadanya. Apa kamu ingin Mama mengatakan bahwa kamu adalah anak yang keras kepala. Dimana letak kelembutan hati kamu, apa hanya ada dimulut saja." Ucap sang Ibu menyambar pikiran putranya.

__ADS_1


Deggggg... jantung Ganan tiba tiba seakan mau copot, setelah mendengar penuturan dari sang Ibu yang begitu nyaring terdengar.


Tidak sengaja, Maura masuk tanpa permisi. Dan saat Maura membuka pintu tidak didengar oleh Ganan dan Ibunya, karena setau Maura tidak ada seseorang didalamnya selain suaminya. Maura yang mendengarkan ucapan Ibu mertua pun shok dan kaget, pasalnya yang dilihat Maura sangat harmonis. Meski Maura sendiri tidak pernah melihat Anak dan Ayah saling bersenda gurau. Namun pikir Maura karena waktu kesibukan, atau waktu yang dimana Maura sendiri tidak melihatnya saat bersenda gura. Maura hanya diceritakan hanya sebagian masalah pribadinya, sedangkan dengan Ayahnya sendiri Maura tidak mengetahuinya.


Ganan pun kaget, saat melihat sosok istrinya yang sudah berdiri diambang pintu. Maura yang ditatapnya merasa takut dan juga gugup, bahkan sangat cemas. Jika tiba tiba suaminya akan murka setelah memergokinya saat dirinya sudah berada di dalam ruangan kerja milik suaminya. Sedangkan Ibunya Ganan masih bingung dengan sorotan kedua mata putranya kelain arah. Yang tidak lain ke Maura yang sedang berdiri diambang pintu.


"Kamu kenapa memalingkan wajah kamu, apa kamu begitu kesal sama Mama. Katakanlah, selesaikan masalahmu dengan Papa kamu. Dan kamu jangan menyimpannya sendiri, bisa jadi apa yang selama ini kamu pendam adalah kebohongan." Ucap sang Ibu, sedangkan Ganan masih menatap wajah istrinya dengan lekat. Bahkan Ganan seakan terkunci untuk menjawab pertanyaan dari Ibunya karena kedatangan Maura yang tiba tiba membungkam mulut ya. Ganan sendiri tidak mengusir istrinya dari ruangan kerjanya. Sedangkan Maura dengan pelan untuk mundur keluar.


"Aw..." ucap Maura sambil meringis kesakitan karena kepalanya terbentur gawangan pintu. Ganan yang melihatnya hanya tersenyum tipis. Sedangkan Ibunya kaget mendengarnya.


Namun naas, Maura bukannya selamat bisa keluar justru mendapatkan rasa malu.


Sialan, pakai senyum segala lagi. Dia kira lucu gitu, bukannya ada rasa kasihan kek, boro boro.. batin Maura sedikit kesal.


Makanya, jangan nguping. Batin Ganan.


"Maura... kamu tidak apa apa? mana yang sakit, katakan pada Mama." Tanya Ibu mertua.


"Maura tidak apa apa kok, Ma.. tadi Maura mau masuk, tapi ternyata pintunya mengganggu. Maksudnya Maura mengganggu Mama dan suami Maura yang sedang mengobrol serius. Maafkan Maura ya, Ma... sayang.. maafkan aku." Jawab Maura beralasan dan merasa tidak enak sekaligus takut dengan suaminya.

__ADS_1


"Mama hanya mengobrol biasa, Mama hanya mempertanyakan bagaimana untuk keberangkatan kita ke kampung halaman kamu. Karena dua hari lagi kita akan berangkat, jadi kalian berdua harus menjaga kesehatan kalian. Karena acara resepsi kalian tidak jauh beda dengan resepsi pernikahan Tirta." Ucap Ibunya beralasan dan mengalihkan keberangkatan ke kampung halaman Maura. Karena sang Ibu mertua tidak ingin menantunya mengetahui, jika suaminya memiliki masalah dengan Ayahnya.


__ADS_2