
setelah virza berangkat ke kantor kaila menuju toko bunganya dan keempat sahabatnya sudah berkumpul disana menunggu kedatangan kaila untuk melakukan sesi konseling sekaligus berkumpul
"hai teman- teman" sapa kaila saat memasuki toko bunganya
"hai kai" balas arga, hafis, kevin dan morgan
"apa kita langsung ke rumah angel?" tanya kaila duduk dekat sahabatnya
"om kamu ada di rumah gak?" tanya kevin takut-takut
kaila tersenyum tipis menanggapi pertanyaan kevin "kenapa kamu tanya kaya gitu?" tanya kaila balik
"ya om kamu kan masih kesal sama aku sampai sekarang, bisa dikerjain abis-abisan aku sama dia terakhir saja aku suruh macam-macam sama dia gara-gara dia kesal" balas kevin yang pernah dikerjai om sakti untuk melakukan hal-hal tak masuk
"jam segini sih om sakti ke kantor tapi tenang saja selama sesi konseling kita om sakti gak akan bisa ganggu kegiatan kita karena semua itu juga demi kesembuhan angel istri tercintanya" balas kaila meyakinkan dan mengusap punggung kevin menenangkan
"ya sudah kalau begitu" balas kevin sedikit lega
mereka menuju rumah angel untuk melakukan sesi konseling kelompok. Mereka menyempatkan membeli makanan untuk dibawa ke rumah angel
kaila membunyikan bel pintu saat baru sampai di kediaman angel dan om sakti
tak lama pintu pun dibuka "eh nona datang?" tanya pelayan rumah angel yang sudah paham betul siapa kaila
kaila tersenyum sopan pada pelayan rumah om sakti dan angel "angelnya mana bi?" tanya kaila
" nyonya di taman belakang non" balas pelayan rumah menunjuk ke arah taman belakang rumah angel
"ya sudah saya kesana ya, dan ini tolong bawa ke dapur dan di bawa ke taman belakang ya bi setelah di taro piring" ucap kaila menyerahkan kantong plastik berisi berbagai macam makanan agar dihodangkan saat mereka mengobrol
kaila, hafis, arga, morgan dan kevin berjalan menuju taman belakang untuk menyusul angel "angel" sapa kaila setengah berteriak saat melihat angel sedang duduk memandangi tanaman bunganya sambil meminum jus strobery
angel menengok lalu tersenyum "kalian datang" sapa balik angel dengan senyum mengembang
"sedang apa kau?" tanya arga langsung duduk di kursi taman yang memang cukup luas
"hanya memandangi bunga saja" jawab angel lesu
"kenapa sepertinya kau lesu sekali?" tanya morgan melihat angel yang tak bersemangat
"gimana tidak lesu, aku begitu bosan di rumah mas sakti tidak mengizinkan aku untuk apa-apa dan hanya menyuruhku duduk diam di rumah, saat aku ingin keluar jalan-jalan saja aku selalu diikuti bodyguard" balas angel kesal mengingat larangan suaminya untuk keluar rumah
"apa perlu aku memarahi om sakti karena dia mengaturmu" tawar kaila semangat sambil mengepalkan tangannya
__ADS_1
"jangan!" teriak angel menarik tangan kaila
"kenapa?" tanya 4 serangkai somplak serempak
"dia melakukan itu bukan untuk mengaturku, dia hanya mengkhawatirkan aku, kalian tahu sendiri kondisi kehamilanku yang lemah apalagi saat dia melihatku pendarahan hanya karena aku menyiram tanaman terlalu lama" balas angel mengingat 2 minggu lalu ia mengalami pendarahan dan membuat om sakti begitu khawatir pada angel, beruntung kandungannya baik-baik saja
"itu kau tahu kalau om sakti melakukan itu karena menyayangimu" balas kaila tersenyum
"iya aku tahu itu" balas angel mengerti kekhawatiran om sakti padanya
"ok kalau begitu kita mulai sesi konseling, ingat kalian gak boleh merahasiakan apapun padaku" ucap kaila mengarahkan sesi konseling untuk kelima sahabatnya
"ok" jawab ke 5 sahabatnya serempak
****
virza tengah sibuk dengan rapat yang tertunda akibat menemani istrinya jalan-jalan ke pantai kemarin "raka apa kita masih ada rapat lagi?" tanya virza setelah menyelesaikan rapat dengan para stafnya
virza melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 3 sore "tidak tuan ini adalah yang terakhir tapi anda ada janji dengan salah satu klien kita" balas raka sekertaris virza melihat jadwal virza di Ipad miliknya
virza mendongak "dengan siapa?"tanya virza menatap raka
belum sempat menjawab terdengar suara pintu diketuk "tok tok tok"
"ini saya tuan, ada orang yang mencari tuan katanya sudah membuat janji" ucap saskia sekertaris virza yang lain
"mungkin dia sudah datang tuan" ucap raka pada virza dan dijawab anggukan
"persilahkan dia masuk" ucap raka
"iya tuan" balas saskia
saskia menuntun seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah diusianya masuk ke ruangan virza dan mempersilahkan untuk duduk di sofa ruangan virza
virza menghampiri tamunya "selamat siang tuan virza" sapa pria paruh baya itu mengajak virza untuk berjabat tangan
ada rasa dekat dan hangat dihati virza tapi dia tak paham siapa yang ada dihadapannya, cukup lama virza termenung memandang pria paruh baya dihadapannya
pria paruh baya itu tersenyum "apa anda tak mau berjabat tangan denganku?' tanya pria paruh baya tersebut
"ah maaf" balas virza menjabat tangan pria tersebut dengan gerakan cepat
"silahkan duduk tuan" ucap virza mempersilahkan pria tersebut duduk kembali
__ADS_1
"terima kasih tuan virza" balas tuan Hafizhan adhitama kembali duduk
"maaf saya bicara dengan siapa?" tanya virza
"apa anda tak mengenal saya?" tanya pria tersebut menunjuk dirinya
"tidak " balas virza menggelengkan kepalanya tak mengetahui siapa pria di hadapannya
"beliau pemilik adhitama group tuan, tuan hafizhan adhitama" ucap raka
"deg deg deg " jantung virza seakan berhenti mendengar nama itu ia dia terpaku memandang wajah pria dihadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan
tuan adhitama tersenyum kecut melihat raut wajah virza "sepertinya kau sudah tahu siapa aku keponakanku" sapa tuan adhitama seolah mengerti apa yang ada dalam pikiran virza
virza menautkan kedua alisnya "apa maksudmu? keponakan? " tanya virza
"aku tak suka berputar-putar jadi langsung saja ke intinya. aku tahu istrimu menyelidikiku dan itu pasti karena dirimu" balas tuan hafizhan adhitama tersenyum
mendengar ucapan tuan hafizhan membuat keinginan ingin bertanya perihal kecelakaan orang tuanya muncul "jadi benar anda yang membuat orang tuaku meninggal karena kecelakaan" tanya virza
tuan hafizhan berdecih "aku tak pernah membuat orang tuamu meninggal" balas tuan adhitama
"jangan bohong!" balas virza berteriak
"dengar ini dengan baik karena aku tak akan mengulangnya, aku tak pernah menyukai ayahmu bahkan saat dia meninggal pun aku masih membencinya, aku menggunakan berbagai cara untuk menghancurkannya tapi aku tak pernah ada niatan membunuhnya dan memang tak melakukannya , keadaan saat itu hanya membuatku diposisi dan tempat yang salah. Terserah kau percaya atau tidak tapi aku hanya ingin memperingatimu" ucap tuan adhitama
"apa?" tanya virza
"aku tak mengusikmu selama ini karena masih memandang nama ibumu, tapi kalau kau coba mengusikku aku akan menghancurkanmu, mungkin butuh waktu cukup lama untuk mengurusmu karena keluarga istrimu tapi bukan berarti aku tak sanggup menghancurkan mereka" balas tuan adhitama memperingati virza agar tak berbuat maca-macam
"kalau kau bukan yang membunuh mereka lalu siapa?" tanya virza
"entahlah" ucap tuan hafizhan mengangkat kedua bahunya
"aku tak mau tahu tentang laki-laki menyebalkan itu" tambah tuan adhitama
tuan hafizhan adhitama langsung keluar kantor virza sesampainya di lift ia gemetar berpegangan pada dinding lift seolah meminta kekuatan untuk dirinya
"dia mirip sekali denganmu" gumam tuan adhitama mengingat sosok ibu virza
"kalau bukan karena bagaskara sialan itu membohongiku keadaanya tidak akan seperti ini, dan aku tak akan ragu menyelamatkanmu" batin tuan adhitama menangis tanpa mengeluarkan suara hanya cairan bening yang menetes begitu saja. Saat akan sampai lantai bawah tuan adhitama menghapus airmatanya kembali bersikap dingin lalu bergegas pergi
virza tertunduk lesu di kantornya raka tak berani untuk bertanya dan hanya membiarkan virza sendiri
__ADS_1