Noda

Noda
Tes Urine


__ADS_3

Aku menuju kelas dengan langkah gontai. Sepanjang perjalanan, aku terus menyeka sisa-sisa air mata yang masih membasahi wajah.


Tak lama kemudian, kakiku menapak di depan pintu. Aku menghela napas panjang, sebelum mengetuknya.


"Selamat pagi, Pak, maaf saya terlambat," ucapku ketika pintu sudah terbuka.


Erwin Prasetyo, dosen yang sedang mengisi kelasku pagi ini.


"Iya, silakan masuk dan duduk di tempatmu!" jawab Pak Erwin, tanpa mempermasalahkan keterlambatanku.


Aku mengangguk sambil tersenyum, lantas aku langsung menuju tempat dudukku.


Mayra dan Nindi menatapku dengan intens. Alis mereka bergerak naik turun dengan mata yang sedikit memicing, sebagai isyarat dari rasa penasaran. Aku hanya menanggapinya dengan senyum simpul, kemudian aku menunduk dan menghindari tatapan mereka.


Setelah selesai memberikan materi, Pak Erwin membagikan hasil tugas minggu lalu. Beberapa di antara kami ada yang ditegur, karena nilainya terlalu rendah. Tapi tidak demikian dengan Nindi dan Mayra, nilai mereka delapan koma, dan itu membuat Pak Erwin memujinya.


Satu demi satu dari kami dipanggil, dan tinggal namaku saja yang masih tersisa. Entah kenapa aku mendapat urutan terakhir, padahal menurut absensi namaku ada di tengah.


"Kirana Mentari!" panggil Pak Erwin dengan lantang.


Aku beranjak dari dudukku, tanpa mengangkat wajah. Aku maju dan berhenti di depan meja Pak Erwin.


"Saya sangat bangga denganmu, Kirana. Di saat teman-temanmu kesulitan mendapat nilai 8, kamu mendapatkan nilai 9,7. Kamu luar biasa, Kirana, pertahankan prestasimu." Pak Erwin tersenyum sambil menyerahkan buku padaku.


"Terima kasih, Pak." Aku menjawab sembari mengukir senyum masam.


Apa gunanya nilai baik, jika keadaanku saja sedang tidak baik. Untuk pertama kalinya, aku merasa sedih saat mendapat nilai yang nyaris sempurna.

__ADS_1


"Kamu hebat, Ra. Selamat, ya," ucap Nindi.


"Terima kasih," ucapku pelan dan tanpa senyuman.


Kulihat Nindi dan Mayra saling beradu pandang. Mungkin mereka heran dengan sikapku yang seperti sekarang.


"Maafkan aku, May, maafkan aku, Nin, aku tidak mampu menceritakan semuanya sama kalian. Tapi tenang saja, waktu yang akan memberitahu kalian, masalah apa yang sebenarnya aku pendam," batinku.


______


Detik waktu terus berjalan, siang dan malam datang silih berganti. Hari berlalu menjadi minggu, dan minggu pun terus berputar menjadi bulan.


Sudah genap satu bulan waktu yang kulalui sejak bertengkar dengan Daniel. Setelah hari itu, berulang kali dia membujukku untuk menggu*urkan kandungan, dan aku selalu menjawabnya dengan tamparan.


Minggu kemarin, Daniel mengalah dan membuang jauh pendapatnya. Dia menghargai keputusanku yang bersikeras menjaga bayi ini hingga lahir, meskipun tak ada ikatan pernikahan. Soal biaya, Daniel bersedia bertanggung jawab, tetapi soal yang lain dia tidak bisa berjanji, karena tidak ada ikatan resmi di antara kami.


Setiap hari, aku selalu datang ke kampus dan mengikuti pelajaran seperti biasa. Namun, beberapa hari terakhir, aku mendapat teguran dari tiga dosen. Nilaiku merosot jauh, dan saat itu aku hanya bisa mengucapkan kata maaf, tanpa bisa memberikan alasan yang jelas.


"Ra, sebenarnya kamu ada masalah apa sih?" tanya Nindi, pada suatu pagi.


"Cerita dong, Ra, siapa tahu kami bisa bantu," timpal Mayra.


Kala itu, kami bertiga sedang duduk di dalam kelas, berbincang sambil menunggu dosen datang.


"Aku tidak apa-apa." Aku menjawab sambil menunduk. Pandangan mataku mulai memburam, mungkin sebentar lagi tetesan air jatuh membasahi pipi.


"Tidak mungkin kamu tidak apa-apa, kamu pasti ada masalah, Ra, aku yakin itu. Sejak sebulan terakhir sikapmu berubah total, selalu murung dan tidak pernah ceria. Bahkan, aku sampai merindukan senyumanmu, Ra. Sebentar lagi kamu magang, awalnya kamu sangat semangat dengan hal itu. Tapi sekarang, kamu seolah enggan setiap kali kami membahasnya, kenapa?" tanya Nindi, masih terus mendesakku.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, Nin," bisikku. Lantas kututup wajahku dengan telapak tangan, tak kuijinkan Mayra dan Nindi melihat derai air mata.


"Kamu nangis dan masih bilang tidak apa-apa, Ra." Mayra mengguncang lenganku, tetapi aku masih diam tanpa kata.


"Apa ini ada hubungannya dengan Daniel? Meskipun kalian masih sering bersama, tapi aku tahu hubungan kalian tidak seperti dulu. Aku melihat kemelut sendu dalam netra kalian, ada apa, Ra? Apa Daniel mengkhianatimu, atau mungkin hubungan kalian tidak mendapat restu? Katakan, Ra." Nindi berucap sembari menggenggam bahuku.


Aku semakin menangis, aku tidak bisa menceritakan masalah ini pada mereka, tetapi aku juga tidak ingin membuat mereka kecewa. Apa yang harus aku lakukan sekarang?


Pada saat aku masih terjebak dalam dilema, derap langkah memasuki kelas kami, ternyata Pak Rahman yang datang, beliau salah satu dosen yang sering membimbing kami. Entah kenapa beliau yang hadir, padahal jadwalnya Pak Andik yang mengisi materi.


Kuseka sisa-sisa air mata dengan jemari. Kuhela napas lega karena kehadiran Pak Rahman membuat Mayra dan Nindi terdiam.


Namun, kelegaanku tak berlangsung lama, tubuh ini seakan membeku setelah menatap dua sosok lain.


Pria yang pertama mengenakan pakaian serba putih, dan pria yang kedua mengenakan seragam polisi.


"Tidak, tidak mungkin hari ini. Aku belum siap jika semuanya terungkap," batinku dengan panik.


Lelaki berpakaian putih itu adalah petugas medis, dan aku tahu benar apa yang membuat mereka datang ke sini.


Universitas Trijaya termasuk universitas yang terbaik di Kota Malang. Itu sebabnya peraturan di sini sangat ketat. Secara berkala, kampus mengadakan tes urine, guna meminimalisir pengguna n*rkoba di kalangan anak muda. Namun, tak jurung juga menemukan kehamilan. Mereka yang hasil tesnya positif, langsung di-drop out tanpa toleransi. Tidak peduli siapa mereka dan apa statusnya, n*rkoba adalah sesuatu yang tidak bisa dimaafkan.


"Ya Allah, apakah ini adalah akhir dari semua mimpi." Aku membatin sambil menggigit bibir.


Gejolak rasa dalam dada kian tak menentu. Jika kampus tahu perihal kehamilanku, tamat sudah, mau tidak mau mimpi itu harus dikubur detik itu juga.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2