Noda

Noda
Sikap Aneh Darren


__ADS_3

Tanpa basa-basi aku langsung membuang pandangan. Mungkin wajahku sudah semerah tomat saat ini. Lelaki yang tak lain adalah Kak Darren, dengan mudahnya dia mengucapkan kalimat itu. Ahh, menyebalkan.


"Tapi ... aku malah seneng, andai kamu mau jatuh cinta. Ikhlas, Ra, lahir batin." Kak Darren kembali membuka suara dan mataku langsung membelalak lebar kali ini.


Apa maksudnya?


Kulirik dia sekilas, dia sedang menyisir rambutnya dengan jemari. Bibir tipisnya pun juga mengukir senyuman, sepertinya dia memang tidak gatal mengatakan kalimat itu.


"Kalau kamu ... ikhlas nggak, Ra?" tanya Kak Darren.


"Apaan sih, Kak. Aku mau pulang, sudah ditungguin sama Bunda," jawabku.


Lantas aku melangkah dan hendak pergi meninggalkannya. Namun, baru saja aku mengayunkan kaki, Kak Darren kembali menghadangku.


"Kirana, tunggu," kata Kak Darren.


"Kenapa lagi?" Aku memutar bola mata dengan bosan.


"Temani aku makan dong, Ra. Sebentar aja," pintanya.


"Maaf, Kak, aku sedang buru-buru," tolakku dengan halus.


"Please, sebentar aja. Ada sesuatu yang ingin aku omongin sama kamu. Mau ya? Janji deh nggak lama-lama." Kak Darren menatap lekat ke arahku.


"Ngomongin apa?" tanyaku penasaran.


"Kita omongin di dalam aja yuk," ajak Kak Darren.


"Baiklah." Aku menghela napas panjang. "Tapi sebentar aja, ya," sambungku.


"Iya." Kak Darren mengangguk.

__ADS_1


Kemudian aku berbalik badan dan mengikuti langkah Kak Darren yang masuk ke restoran. Aku sedikit salah tingkah saat karyawan yang tadi kutemui menatapku sambil tersenyum.


Kak Darren memilih tempat di sudut ruangan, di dekat jendela. Aku pun tetap mengikutinya. Lantas Kak Darren memanggil pelayan setelah kami duduk berhadapan.


"Kamu mau makan apa?" Kak Darren bertanya sambil melihat-lihat buku menu.


"Mmmm ... aku nggak ada yang tertarik, dan sebenarnya aku juga masih kenyang. Aku minum aja ya, sambil nemenin Kak Darren makan. Aku mau teh lemon," jawabku.


Semua menu di restoran ini harganya cukup mahal, aku bingung harus memilih yang mana. Aku dan Kak Darren tidak sedekat itu, aku malu jika dia membayar makananku hingga ratusan ribu.


"Kalau kamu nggak tertarik, kita pindah tempat aja. Mana mungkin aku makan sendiri, dan membiarkan kamu sekedar minum." Kak Darren menutup buku menu dan menatap ke arahku.


"Eh jangan, di sini aja. Aku ... aku masih kenyang, Kak, beneran. Tadi sebelum ke sini, aku udah makan," ucapku, entah terlihat jujur atau tidak.


"Kamu nggak mau pindah dan nggak mau makan?" Kak Darren memandangku dengan tatapan tajam. Nada suaranya pun juga terdengar tegas.


Ada apa dengannya?


"Mmmm ... aku___"


"Baiklah." Kak Darren beranjak dari duduknya. "Aku akan pergi dan kamu juga silakan pulang."


"Eh, Kak, tunggu," teriakku, menahan langkahnya. "Maaf, kalau sikapku menyinggung Kakak, aku hanya___"


"Aku hanya milik Daniel, jadi aku tidak bisa dekat-dekat dengan lelaki lain. Begitukah yang akan kamu katakan, Kirana?" pungkas Kak Darren dengan napas yang memburu.


Aku terperangah, apa maksud ucapan itu? Mengapa dia membawa-bawa nama Daniel?


"Kak, apa maksudmu?" Aku memberanikan diri untuk bertanya.


"Daniel adalah lelaki yang tidak percaya dengan Tuhanmu, tapi dia berhasil memenangkan hatimu. Sekarang katakan padaku, apa istimewanya dia? Belum puas kamu membuat aku frustrasi di masa lalu, sekarang kamu masih ingin mengulanginya, iya! Begitu banyak hal yang Daniel lakukan padamu, masihkah kau menganggapnya sempurna? Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran kamu, Kirana. Aneh, sangat aneh! Kamu sungguh dibutakan cinta!" teriak Kak Darren, yang lantas mengundang perhatian pengunjung lain.

__ADS_1


Aku menunduk, menghindari banyak pasang mata yang menilik ke arahkul. Jujur hatiku sangat sakit. Tanpa kutahu alasannya, tanpa kutahu apa salahku, Kak Darren tiba-tiba membentak dan berkata kasar. Seolah aku membuat kesalahan besar yang memancing emosinya.


Ingin sekali aku memaki dan menamparnya, namun air mata lebih dulu berjatuhan. Ucapan Kak Darren mengingatkanku pada kesalahan fatal bersama Daniel. Sebagian ucapannya mungkin benar, aku buta dan bodoh karena cinta.


"Dari awal kamu tidak pernah memberiku kesempatan untuk bicara, dan ternyata sampai akhir pun kesempatan itu memang tidak ada untukku. Maaf aku tidak bermaksud membuatmu menangis, tapi asal kau tahu, aku juga akan melakukan hal yang sama jika itu pantas untuk kaumku. Semoga kamu bahagia." Kak Darren berlalu pergi, setelah mengusap air mataku dengan selembar tisu.


Sekian detik lamanya aku masih terpaku. Aku berusaha keras memahami sikap Kak Darren yang teramat aneh.


Mengapa ia marah, ada apa gerangan?


Aku terjaga setelah seseorang menepuk bahuku. Aku menoleh dan menatap wajah Tante Nia yang berada tepat di sebelahku.


"Tante," sapaku dengan gugup.


"Sudah jangan dipikirkan, anggap saja angin lalu." Tante Nia mengusap kedua lenganku.


Oh tidak, Tante Nia tahu apa yang terjadi antara aku dan Kak Darren. Kalau beliau mengadu pada Bu Fatimah, bagaimana? Aku berniat membantu, tapi malah membuat beliau malu. Ahh, betapa payahnya diriku.


"Maaf, Tante. Saya ... saya membuat keributan di tempat Tante, saya membuat pengunjung tidak nyaman. Saya benar-benar minta maaf," ucapku dengan kepala yang tertunduk.


"Apa yang kamu katakan itu? Sudah, tidak perlu minta maaf, Tante paham kok. Lupakan saja kejadian barusan, sekarang ayo ikut Tante, kita makan sama-sama. Tante sudah menyiapkan banyak sajian yang sangat istimewa." Tante Nia berkata sambil tersenyum.


Lalu beliau merangkulku dan mengajakku singgah di kediamannya, yang berada tepat di samping restoran. Awalnya aku menolak, karena takut Dara menangis. Namun beliau terus membujukku, sampai aku tak punya kata-kata lagi untuk menolak.


Sebelum duduk di ruang makan, aku terlebih dahulu meminta izin ke kamar mandi. Aku ingin mencuci muka dan menghapus semua sisa air mata.


Sekitar sepuluh menit kemudian, aku keluar dari kamar mandi. Aku berjalan pelan dan menuju ke ruang makan. Akan tetapi, langkahku terhenti sebelum tiba di tempat tujuan. Aku mendengar Tante Nia sedang menelepon seseorang. Bukan maksudku mencuri dengar obrolan beliau, namun aku sangat penasaran saat mendengar namaku disebutkan. Siapa yang sedang berbincang dengan beliau?


Ini adalah proyek yang paling besar sepanjang sejarah. Kita harus menyusun rencana yang matang. Jangan sampai kita kehilangan Kirana, rugi besar lho.


Jantungku berdetak cepat. Aku berpikir keras, mencoba menebak rencana apa yang dimaksud Tante Nia. Mungkinkah dia orang yang buruk?

__ADS_1


Dilihat dari tawanya yang terdengar renyah, sepertinya rencana ini sangat menguntungkan bagi beliau. Ahh, mengapa kerap kali aku bertemu dengan orang yang bermuka dua?


Bersambung...


__ADS_2