
Aroma mint yang khas menyeruak di hidung ketika Kak Darren memeluk tubuhku. Ia baru saja pulang dan kini menyusulku berbaring di ranjang. Kulingkarkan lenganku di pinggangnya, juga kusandarkan kepala di dadanya. Kucari kenyamanan di sela-sela perasaan yang tak karuan.
"Sudah makan?" tanya Kak Darren. Tangannya yang hangat mengusap pipiku dengan lembut.
"Menunggu Kak Darren." Aku menjawab sambil menggeleng.
"Harusnya duluan aja, Sayang. Tadi 'kan sudah kukabari kalau hari ini ada rapat mendadak, jadi pulangnya telat," kata Kak Darren.
"Nggak apa-apa, aku juga belum lapar kok, Kak." Aku tersenyum sambil menatap matanya yang menyiratkan kekhawatiran.
"Ya sudah makan sekarang yuk!" ajak Kak Darren.
"Sudah shalat?" tanyaku.
"Sudah, di kantor."
"Kak, tunggu!" Kutahan tangannya yang hendak mengajak bangkit.
"Kenapa, Sayang?" Kak Darren menyelipkan rambutku yang sedikit berantakan di wajah.
"Ada yang ... ingin kubicarakan," jawabku dengan gugup.
Entah mengapa aku sangat terbebani dengan ucapan Daniel. Tak ingin menjadi dosa, aku berniat mengatakannya pada Kak Darren. Siapa tahu pula, ia bisa meringankan beban itu.
"Apa?"
"Tadi ... Daniel telfon," jawabku mengawali perbincangan.
__ADS_1
"Telfon? Apa yang dia katakan?" tanya Kak Darren dengan intonasi tinggi. Mungkin, mulai cemburu.
"Bilang masih cinta dan mengajak nikah, tentu saja kutolak mentah-mentah. Lalu ... dia mengatakan sesuatu yang aneh," ucapku.
"Masih cinta, menikah? Belum tahu rasanya bogem dia, awas aja ya___"
"Jangan marah-marah!" Aku tersenyum sambil menggenggam tangannya yang mengepal.
"Sayang, dia kurang ajar. Kamu istriku, bisa-bisanya bilang masih cinta dan ngajak nikah. Aku nggak rela, Sayang, kamu itu milikku!" sungut Kak Darren.
"Aku juga nggak rela dimiliki dia, Kak. Aku udah bahagia dengan pernikahan ini, dan ... aku juga mencintai Kak Darren, jadi tidak akan pergi ke lain hati." Kuusap rahangnya dengan mesra. "Hanya saja ... ada sedikit hal yang membuatku terbebani," sambungku.
"Apa itu?" tanya Kak Darren. Suaranya melunak, mungkin emosinya mulai reda.
"Setelah kutolak, dia bilang akan memutuskan akhir hidupnya, juga minta maaf jika nanti tidak bisa menghubungi lagi. Apakah ... dia akan bunuh diri, Kak?" Kuungkap unek-unek yang sedari tadi mengganjal di hati.
Kak Darren sekadar menatap dengan lekat, tanpa mengucap sepatah kata.
"Aku paham, Sayang. Tapi ... Daniel bukan lelaki yang seperti itu. Dia cukup cerdas, tidak mungkin mengorbankan nyawa hanya karena cinta. Kita doakan saja, semoga dia ikhlas dan sabar menghadapi semua ini. Semoga ada jalan yang mengantarnya pada kebahagiaan," ucap Kak Darren diiringi senyuman manis.
"Doa itu pasti, Kak. Tapi ... kira-kira apa maksudnya?"
Kak Darren membuang napas kasar, "aku juga tidak paham, tapi ... menurutku bukan bunuh diri yang dimaksud. Aku tahu dia lelaki yang tegar, dan kamu pun pasti mengakui hal itu."
Kini, berganti aku yang diam.
"Percayalah, dia pasti baik-baik saja!" sambung Kak Darren.
__ADS_1
"Semoga saja." Kuhela napas panjang dan kuembuskan perlahan. Kulakukan berulang kali agar beban hati turut menguar bersamanya.
"Sayang!" panggil Kak Darren. Bibirnya menyunggingkan senyum dan jemarinya mengusap ujung bibirku.
"Kamu memang cantik, hatimu pun sangat baik. Tak heran banyak yang menyukaimu, Sayang. Beruntungnya aku bisa memilikimu dalam ikatan halal," sambung Kak Darren.
"Aku juga___"
"Sayang, aku sangat mencintaimu, tolong jangan tinggalkan aku, ya," pungkas Kak Darren.
Aku tersenyum, "tidak akan pernah, Kak. Bagiku ... kamu adalah satu-satunya suami dalam hidupku."
Kak Darren tak menyahut, sekadar membalas senyuman sambil mendekatkan wajah, bahkan hangat napasnya sampai kurasakan dengan jelas. Perlahan, tangannya bergerak turun, mengusap leherku dan kemudian berhenti di tengkuk.
"Sayang, apa keburu lapar jika aku memintanya sebentar saja?" bisik Kak Darren.
"Tidak." Aku menggeleng sambil melebarkan senyuman. Aku paham kata 'sebentar' hanyalah pemanis saja.
"Aku sudah rindu," ucap Kak Darren.
"Aku juga. Maaf ya, sudah cukup lama mengabaikan Kakak," jawabku.
"Aku paham bagaimana kondisimu. Seharusnya aku yang meminta maaf karena memintanya terlalu cepat. Aku___"
Kutempelkan jari telunjuk di bibir Kak Darren agar ia berhenti bicara. Lantas, aku tersenyum manja sambil mengimbangi gerakannya. Detik berikutnya, melodi cinta mulai mengalun merdu.
Kali ini, berbeda dari biasanya. Benih cinta yang selalu diabaikan, sekarang ditanam indah di taman impian. Untuk pertama kalinya kami melakukan ini, dan hal itu membuatku tersenyum penuh harap.
__ADS_1
"Semoga dia segera ada," batinku di dalam dekapannya.
Bersambung...