
Di antara denting sendok yang beradu dengan piring, Kaivan menatap orang tuanya dengan harap-harap cemas. Ada sedikit hal yang ingin disampaikan, tetapi sulit karena ditekan keraguan. Berulang kali Kaivan melirik jarum jam yang melingkar di tangan, hampir mendekati angka tujuh. Sebentar lagi ayahnya akan berangkat ke kantor, pun dengan dirinya, harus berangkat ke tempat pemotretan.
"Pa!" panggil Kaivan setelah menyelesaikan suapan terakhir. Kali ini, dia dan keluarganya sedang makan pagi bersama.
"Iya, Kai." Darren menoleh dan menatap anaknya.
"Sebenarnya ... ada yang ingin kukatakan sama Papa," ucap Kaivan.
"Apa? Katakan saja!" jawab Darren.
Kaivan tak segera menjawab, hanya menunduk dan menatap jemarinya yang sibuk memainkan sendok. Dia terus diam, bahkan sampai Reyvan dan Athreya turut menatapnya.
"Kai!" panggil Darren.
"Papa benar, profesi ini kurang menjanjikan untuk mencari jodoh. Terkadang ... aku merasa pesimis jika mengingat kedudukan Luna. Dia direktur, sangat cerdas dan tangkas, gajinya pun ... berkali-kali lipat dari gajiku. Aku jauh di bawahnya, Pa," keluh Kaivan.
"Lalu?" Darren belum bisa memahami maksud Kaivan.
__ADS_1
"Aku tidak mampu bekerja seperti itu, otakku payah dan tidak sampai ke sana. Tapi ... aku juga ingin punya bisnis. Menjadi pemimpin dan punya bawahan." Kaivan mendongak dan menatap ayahnya. "Pa, aku ingin membuka restoran. Tapi ... aku masih awam, jadi ... nanti pasti banyak merepotkan Papa. Selain itu, aku juga tidak ada modal. Bisakah Papa meminjamiku dulu? Nanti ... akan kukembalikan perlahan," sambungnya.
Kini, berganti Darren yang diam. Modal untuk membangun restoran tidak sedikit, sedangkan kemampuan Kaivan, jujur masih diragukan. Selain itu, Darren juga ingin mendengar pendapat Reyvan dan Athreya. Dia tidak ingin anak-anaknya menganggap pilih kasih dan tidak adil.
"Kamu serius dengan Luna? Kamu sudah memikirkan hubungan yang lebih jauh, Kai?" Suara Kirana memecah keheningan.
"Iya, Bunda, aku benar-benar mencintainya. Aku ingin menjadi orang yang sepadan dengan dia, agar punya rasa percaya diri ketika meminangnya," jawab Kaivan.
Kaivan memang terbuka tentang Luna. Dia tidak ingin ada drama 'cinta terhalang restu orang tua', itu sebabnya sudah memperkenalkan Luna walau hubungan baru berjalan satu bulan. Beruntung, Darren dan Kirana bukan orang yang sulit. Mereka tidak ikut campur dalam urusan asmara, siapa pun pilihan anaknya, mereka akan menyetujui, selama tidak berbeda keyakinan. Terbukti mereka menerima Luna dengan baik walaupun gadis itu tidak berhijab. Menurut Kirana, Kaivan bisa memberikan nasihat ketika sudah sah menjadi imamnya.
"Kamu yakin dengan rencanamu, Kai? Bukannya tidak mau mengabulkan keinginan, tapi ... Papa juga sedang sibuk. Sepertinya Papa tidak punya banyak waktu untuk membantu," kata Darren.
"Kamu serius? Kamu setuju Papa meminjamkan modal untuk Kai?" tanya Darren.
"Kenapa tidak? Justru aku ikut seneng, Pa." Reyvan tersenyum. "Kalau kataku ya, Pa, lebih baik jangan kasih pinjam, tapi modalin aja. Kak Kai kan anak Papa, masa harus seperhitungan itu," sambungnya.
"Kamu___" Darren menggantungkan kalimatnya begitu saja, tidak menemukan kata yang tepat untuk bicara.
__ADS_1
"Apa Papa sedang memikirkan kami?" Reyvan bertanya sambil menunjuk Athreya.
Darren mengangguk pelan, "Papa takut ada perselisihan di antara kalian."
"Pa, kita semua keluarga. Kak Kai adalah kakakku, aku janji hal itu tidak akan pernah terjadi. Berapa pun modal untuk restoran nanti, aku tidak akan mempermasalahkannya. Aku yakin Reya juga berpikir demikian. Benar, kan, Reya?" Reyvan beralih menatap Athreya.
"I-iya, Kak. I-ya, Pa." Athreya sedikit gugup. Bukan karena modal untuk Kaivan, melainkan karena masalahnya sendiri.
"Terima kasih Reyvan, Reya, aku sangat beruntung punya kalian," timpal Kaivan.
"Sudah seharusnya, Kak. Kita semua keluarga, wajib saling merangkul dan membantu. Apa gunanya berselisih, apalagi soal harta. Toh harta bisa dicari, sedangkan saudara tidak ada duanya. Sebenci apa pun kita, hubungan darah tidak akan pernah terputus. Jadi, bukankah lebih baik menjaga hubungan tetap harmonis?" jawab Reyvan.
"Betul, setuju dengan Kak Reyvan." Athreya ikut menimpali setelah pikirannya sedikit tenang.
"Baiklah! Karena semua sudah setuju, Papa akan memberikan modal untuk Kaivan." Ucapan Darren disambut hangat oleh Reyvan, Kaivan, dan Kirana.
Sementara Athreya, dia kembali menatap keluarganya dengan nanar. Binar kebahagiaan yang mereka pancarkan, seakan-akan menyusup dan mengiris relung hati.
__ADS_1
"Keluargaku adalah keluarga yang paling harmonis. Kami saling menyayangi dalam keadaan apa pun. Tapi ... apakah ini masih berlaku, andai mereka tahu apa yang sudah kulakukan di luar sana? Ya Allah, bagaimana caranya memperbaiki semua ini, sedangkan menyudahi kesalahan saja aku tidak bisa," batin Athreya sambil menggigit bibirnya.
Bersambung...