
Darren mendekat dan mengambil barang yang berhasil mendebarkan jantungnya—botol vodka yang sudah kosong. Wajah Darren memanas seiring genggaman yang makin mengerat. Dia tak pernah membayangkan bahwa putranya akan mengonsumsi minuman laknat itu.
Di sela-sela emosi yang mulai tersulut, Darren menyimpan rasa takut yang cukup besar. Dirinya pernah terjerat minuman itu dan akhirnya menderita oligospermia. Dia khawatir suatu saat nanti Kaivan akan mengalami hal yang sama. Tidak! Itu tidak boleh terjadi!
Dengan langkah cepat Darren menuju balkon kamar dan mendapati sosok Kaivan di sana. Namun, amarah tak mereda melainkan makin membuncah. Pasalnya, Kaivan sedang duduk sambil mengisap rokok dan di hadapannya terdapat botol vodka yang tinggal setengah.
Tanpa basa-basi Darren menghampiri anaknya dan membanting botol vodka dengan keras. Dentingannya saat beradu dengan lantai marmer cukup menggema, hingga membuat Kaivan tersentak dan gelagapan.
"Pa-Papa," gumam Kaivan terbata-bata.
Dia tak menyangka bila ayahnya akan menyusul ke balkon. Seingatnya pintu kamar sudah dikunci, tetapi entahlah. Tadi dia sangat kalut dan tidak bisa berpikir jernih. Dia bergegas menyendiri guna mencari pelampiasan—alkohol dan rokok—yang menurutnya bisa meringankan sedikit beban.
"Apa yang kamu lakukan, Kaivan?" Darren meraih kerah seragam Kaivan dan mencengkeramnya dengan erat.
"Pa, aku___"
"Siapa yang mengajarimu seperti ini, hah?" bentak Darren lengkap dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
Detik berikutnya, Darren mengangkat tangan dan siap menampar wajah Kaivan. Akan tetapi, gerakannya terhenti karena mendengar bisikan hati, 'kamu tidak pantas menamparnya karena masa mudamu jauh lebih parah darinya'. Alhasil, Darren melepaskan cengkeramannya dengan kasar dan membiarkan tubuh Kaivan terhuyung. Sementara dirinya langsung membalikkan badan dan berusaha menenangkan diri yang mulai hilang kendali.
Di belakangnya, Kaivan menunduk sambil menatap serpihan-serpihan botol yang berserakan di lantai. Perlahan, jemarinya melepaskan rokok yang masih setengah batang.
"Aku juga tidak ingin seperti ini, tapi___" Kaivan makin menunduk dan menitikkan air mata. Dia sudah tak bisa menahan karena semua itu sungguh menyakitkan baginya.
"Bundamu adalah wanita yang lembut. Tidak tahu berapa lama dia akan menangis, andai tahu apa yang kamu lakukan, Kaivan," ucap Darren.
Kaivan masih bergeming. Bukan tidak ada jawaban, melainkan tidak ada keberanian untuk mengutarakan jawaban.
"Andai saja Papa tahu bagaimana perasaanku," batinnya.
"Apa yang ada dalam pikiranmu, Kaivan, hah? Kamu pikir barang-barang itu bisa menyelesaikan masalah, bisa membuatmu cerdas? Tidak, Kaivan! Justru barang-barang itu akan menjerumuskanmu pada kerugian, paham!" Darren kembali bicara dengan intonasi yang lebih tinggi.
Karena Kaivan sekadar diam, Darren memutuskan untuk pergi. Pikirnya, mungkin Kaivan butuh waktu untuk menenangkan diri, jadi sekarang bukan waktu yang tepat untuk bicara.
"Aku tidak bisa, Pa. Sekeras apa pun aku berusaha, tetap saja hasilnya nol. Aku tidak bisa seperti Reyvan atau Athreya, dan mungkin selamanya tidak akan bisa. Entahlah. Tuhan memang tidak adil padaku, menciptakan pribadi yang bodoh di tengah keluarga yang cerdas," ucap Kaivan ketika Darren mulai meninggalkannya.
__ADS_1
"Jika kekuranganku ini menjadi beban bagi Papa, aku akan pergi. Aku sadar, tidak punya kecerdasan seperti yang Papa inginkan. Namun, di samping otak yang payah, aku masih punya tenaga untuk mencari sesuap nasi. Aku yakin hidup di luar sana lebih mudah, daripada bertahan di sini dengan keadaan yang seperti ini," sambung Kaivan.
"Jaga bicaramu, Kai!" bentak Darren. Dia menghentikan langkahnya dan kembali menatap Kaivan.
"Maaf, Pa, aku memang tidak bisa. Aku berusaha sampai hampir gila, tapi kemampuanku tetap sebatas itu. Aku tahu rokok dan alkohol bukan hal yang benar, tapi hanya itu yang bisa membantuku melupakan semua beban ini. Aku sangat lelah, Pa," jawab Kaivan.
"Sejak kapan kamu mengonsumsi itu?" tanya Darren masih dengan intonasi tinggi.
"Sudah dua tahun lebih." Kaivan makin menunduk karena ayahnya makin mendekat.
"Kamu menodai kepercayaan Papa, Kaivan! Papa benar-benar kecewa!" geram Darren. Dia merasa dikhianati oleh Kaivan. Anak yang dianggap berakhlak baik ternyata bertingkah buruk di belakangnya.
"Bukankah sejak dulu Papa sudah kecewa?"
Kendati suara Kaivan lirih, tetapi berhasil memancing amarah. Emosi Darren yang belum reda, kini makin membuncah hingga mencapai batas maksimal. Untuk kedua kalinya Darren mencengkeram kerah seragam Kaivan.
"Kamu___"
__ADS_1
"Jika Papa punya rasa bangga dan tidak menyimpan rasa kecewa, maka Papa tidak akan merendahkan cita-citaku. Walaupun fotografer bukan profesi yang menjanjikan, tapi di sanalah kemampuanku. Dalam hal lain aku bodoh, Pa. Sudah berusaha pun tetap bodoh." Kaivan memotong ucapan Darren sambil menangis.
Bersambung...