
Tanpa basa-basi, kutepiskan tangan Reza yang masih menempel di pipi. Lantas aku menghampiri Mayra dengan langkah cepat. Kulihat deru napasnya tak beraturan, mungkin dia salah paham dengan kejadian barusan. Mayra membuang muka, saat aku tiba di hadapannya. Namun aku tak marah, aku tahu dia kecewa.
"May, dengarkan penjelasanku, ini tidak seperti yang kamu bayangkan." Aku mencoba menenangkan Mayra.
"Semua sudah jelas, Ra. Sekarang aku paham, kenapa kemarin kamu menyuruhku berhenti berharap, karena kamu sudah berhubungan dengan dia, iya 'kan! Aku kecewa sama kamu, Ra, aku nyesel udah percaya. Aku pikir kamu berbeda, tapi ternyata sama aja. Kamu tidak beda jauh dengan Nindi, sama-sama pengkhianat!"
Rahangku mengeras mendengar makian Mayra. Bukan tingginya intonasi yang menyulut emosi, melainkan nama Nindi. Lukaku kembali menganga, ketika mendengar namanya. Dia adalah pengkhianat yang menjelma dalam sosok sahabat.
Sekarang aku semakin yakin, bahwa dugaanku adalah benar. Malam itu, benar-benar Nindi yang kulihat. Dia benar-benar menjalin hubungan dengan Daniel, di belakangku.
"Cukup, May! Jangan sekali pun membandingkan aku dengan Nindi! Aku tidak menjalin hubungan dengan Reza, aku juga baru tahu jika dia mencintaiku. Aku___"
"Benarkah kamu tidak menjalin hubungan dengannya? Melihat kedekatan kalian, siapa yang akan percaya, Ra?" pungkas Mayra sebelum aku meneruskan ucapan.
__ADS_1
"Cukup, Mayra!" Bukan aku, melainkan Reza. Dia membentak Mayra sambil menghampiriku.
"Kamu membentakku, Za? Baiklah, aku akan pergi. Aku telah salah datang ke sini." Mayra memicingkan mata, terlihat jelas jika ia sangat kesal dan kecewa.
Tanpa menunggu jawaban kami, Mayra melenggang pergi. Aku berteriak memanggilnya, namun ia sama sekali tak peduli. Aku berusaha mengejar, tapi raga ini terlalu lemah untuk kuajak berlari. Aky nyaris terjatuh, dan lagi-lagi Reza yang mendekap tubuhku.
"Berhentilah jika kamu masih punya hati! Berlari tanpa mau mendengarkan penjelasan adalah sikap seorang pengecut!" teriak Reza dengan lantang.
Mayra menghentikan langkahnya, perlahan ia membalikkan badan dan menatap ke arah kami.
Mayra masih bergeming di tempatnya, ia belum membuka suara.
"Kenapa hanya diam, cepat marahi aku! Jika menurutmu perasaan ini salah dan tidak adil, aku-lah orang yang pantas kamu salahkan, bukan Kirana. Aku yang mencintainya, bukan dia yang mencintaiku! Apa kamu sudah lupa, siapa lelaki yang Kirana cintai?" sambung Reza.
__ADS_1
Dalam dekapan Reza, aku melihat bibir Mayra gemetaran, entah apa yang dia pikirkan. Perlahan dia mengayunkan kakinya dan berjalan ke arahku.
"Ra, kamu ... kamu sudah tahu?" tanya Mayra dengan terbata.
"Ayo duduk di sana, kondisi Kirana masih lemah, dia tidak boleh berdiri terlalu lama," ajak Reza. Lantas dia membimbingku kembali ke sofa.
Kini, kami bertiga duduk bersama. Mayra berada tepat di sebelahku, sedangkan Reza, dia duduk di depan kami.
"Ra, maafkan aku yang menutupi semua ini darimu. Bukan apa-apa, aku hanya takut kamu sakit dan kecewa, Ra." Mayra menggenggam jemariku.
"Tapi menyembunyikan seperti ini juga membuatku sakit, May. Aku sempat salah paham, dan menganggap kamu yang punya hubungan dengan Daniel. Kamu tahu 'kan, sebulan terakhir ini aku mencari tahu tentangnya. Harusnya kamu katakan saja kebenarannya," ucapku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sebenarnya, aku sedang berusaha menyadarkan Daniel. Aku mencoba membujuk dia dan memberikan pengertian padanya. Apa yang dia lakukan itu salah, dan aku ingin meluruskannya. Aku tahu, kalian tak mungkin bersama, tapi bukan berarti ia bebas meninggalkanmu tanpa tanggung jawab. Selain itu, aku juga tidak setuju dengan pilihannya. Nindi adalah sahabatmu, memilihnya itu sama saja dengan menghancurkan persahabatan yang telah terjalin. Tapi Daniel tak mau mendengarkan aku, Ra." Mayra menunduk, raut penyesalan tampak jelas di wajahnya.
__ADS_1
Bersambung....