
Di lain tempat, Kaivan pun belum terlelap. Dia masih fokus dengan ponselnya, membaca dan mencerna barisan aksara yang terangkai menjadi kalimat dan paragraf. Ebook 'Sayap-Sayap Patah' yang dibeli beberapa jam lalu, kini sudah dia baca hingga halaman terakhir. Bukan karena ceritanya yang singkat, melainkan Kaivan tidak membaca keseluruhan. Detail adegan sengaja dia abaikan karena sangat penasaran dengan garis besar cerita.
Intinya, Aruna Gita adalah seorang gadis yang berotak payah. Karena kekurangannya itu, dia diabaikan oleh keluarganya, bahkan hobi melukis pun harus ditepis jauh dari angannya. Perlakuan yang makin hari makin tidak adil membuat Aruna kerap murung. Alhasil, nilainya merosot hingga jauh di bawah rata-rata. Sebuah kenyataan yang membuat keluarganya murka. Akhirnya, Aruna terpaksa berhenti sekolah dan bekerja sebagai asisten rumah tangga. Kala itu, usianya baru genap 17 tahun.
Karena sejak kecil tidak pernah diakui, maka ketika bekerja pun tidak ada yang mengenal identitasnya dan Aruna pun memilih bungkam. Dia justru mengaku sebagai anak yatim kepada majikannya.
Walau sudah bekerja dan tidak tinggal di rumahnya, Aruna masih dipersulit oleh keluarga, terutama Vivian—adiknya. Setiap bulan, Vivian selalu menemui Aruna dan merampas gajinya. Jika menolak, maka Vivian akan melaporkannya kepada orang tua. 'Turuti adikmu atau namamu akan kucoret dari daftar keluarga!' ancam sang ayah kepada Aruna. Karena sejak kecil sering ditindas, Aruna tidak ada keberanian untuk melawan atau sekadar membuka suara kepada orang lain. Dia hanya menangis dan menuruti keinginan mereka.
Pada tahun berikutnya, Aruna mengenal Karendra, lelaki tampan yang berasal dari keluarga mapan. Lelaki itu datang dengan membawa cinta dan janji manis. Dia bersedia menikahi Aruna apa pun keadaannya. Aruna sangat senang, bahkan berani berterus terang tentang identitas aslinya. Hubungan mereka berjalan hingga lima tahun lamanya.
Kala itu, Karendra sudah menjabat sebagai direktur. Namun, sejak setahun terakhir tak pernah lagi membahas pernikahan. Akan tetapi, Aruna tetap berpikir positif. Sampai akhirnya, kenyataan pahit menampar Aruna dan menggoreskan luka yang amat dalam di hatinya—Karendra menjalin hubungan dengan Vivian.
'Kamu hanya anak yang dibuang, apa yang bisa kuharapkan? Selain cantik, Vivian adalah anak yang disayang. Bukan mustahil dia akan mewarisi seluruh aset milik orang tuamu. Haruskah aku menyia-nyiakan kesempatan itu, Aruna?' ucap Karendra ketika Aruna memergoki tindakan buruknya.
Bertepatan dengan hari itu, sang majikan mengetahui identitas Aruna. Gadis itu langsung menangis dan berlutut di depan majikannya, memohon agar rahasia itu tidak dibeberkan kepada pihak lain. Sang majikan pun menurut. Entah karena tidak ingin ikut campur urusan orang lain, atau takut karena kekayaan keluarga Aruna jauh di atasnya.
Satu bulan setelah kejadian, seorang lelaki mendatangi Aruna. Dia adalah Jeevan Alister, pengusaha kaya raya yang tak lain adalah teman sang majikan. Jeevan menawarkan pernikahan palsu. Dia berjanji akan memberikan kehidupan yang layak untuk Aruna, juga menjanjikan perceraian ketika sang kekasih pulang dari luar negeri. Tanpa pikir panjang, Aruna menerima tawaran itu. Selain lelah ditindas, dia juga ingin melupakan sakit hatinya atas perlakuan Karendra.
Tanpa Aruna duga, pernikahan itu membawa dampak yang amat buruk. Dengan alasan 'sudah dewasa dan mapan' sang ayah benar-benar mencoret namanya dari daftar keluarga. Ke depannya, tidak ada lagi hubungan di antara mereka. Seluruh aset yang tak terhitung jumlahnya adalah milik Vivian, sedangkan Aruna sedikit pun tak mendapat bagian.
'Jangan sedih! Walaupun aku tidak mencintaimu, tapi aku peduli denganmu. Aku akan memberimu banyak harta, anggap saja imbalan karena kamu sudah bersedia membantu. Selain itu, aku juga akan mengajarimu menjadi wanita yang kuat, yang bisa melawan ketika ditindas', kata Jeevan ketika mereka baru saja menikah.
Sedikit simpati dan peduli yang tanpa dipinta membuat hati Aruna berdebar. Namun, sebelum segalanya telanjur jauh, Aruna menepis rasa itu dan menguburnya dalam-dalam.
Bagaimanakah kelanjutan kisah mereka? Akankah ada cinta antara Jeevan dan Aruna, atau justru ada orang lain yang hadir mengulurkan cinta untuk Aruna?
Nantikan kisahnya dalam novel 'Sayap-Sayap Patah Season 2.
Tulisan di akhir halaman.
__ADS_1
"Jika pernikahan Nadhea seperti ini, nggak heran tadi berani bersikap barbar. Tapi, benarkah Grey ini Nadhea dan yang ditulis adalah kisah hidupnya?" gumam Kaivan.
"Benarkah Luna pernah menjalin hubungan dengan pacar Nadhea? Ah, aku jadi bingung sendiri," sambung Kaivan.
Sebelum meletakkan ponselnya, Kaivan terlebih dahulu mengamati akun media sosial milik Grey yang tertera di sana. Lantas, Kaivan membuka aplikasi lain dan mencari akun dengan nama 'CahayaGrey'. Tanpa pikir panjang, Kaivan mengikuti akun itu dan juga mengirimkan pesan singkat untuknya.
[Follow balik, yah]
Akan tetapi, pesan Kaivan diabaikan hingga beberapa menit lamanya. Jangankan dibalas, dibaca pun tidak.
"Mungkin dia sudah tidur," batin Kaivan.
Kemudian, dia kembali membuka aplikasi yang sebelumnya. Maksud hati ingin membeli ebook 'Sayap-Sayap Patah Season 2', tetapi buku itu belum tersedia. Cerita yang Kaivan maksud belum selesai, masih on going di sebuah aplikasi berbayar.
"Coba instal aplikasinya deh, nanti kubaca perlahan," batin Kaivan.
Keesokan harinya, Kaivan sedikit terkejut ketika makan pagi bersama, tidak ada Arsen dan Nadhea di sana. Menurut keterangan pelayan, mereka sudah pulang sejak semalam. Hati Kaivan mendadak gelisah, seakan khawatir, tetapi tidak tahu apa yang dikhawatirkan.
Selama makan, Kaivan lebih banyak diam meski Luna dan Rania berulang kali mengajaknya bicara. Kaivan hanya menyahut sepatah dua patah saja.
"Luna, aku ingin bicara banyak denganmu," ujar Kaivan ketika selesai makan.
"Oke, aku juga punya hal penting yang ingin kutanyakan padamu," jawab Luna.
Lantas, Luna mengajak Kaivan ke taman belakang rumah. Sembari membawa minuman hangat, Luna dan Kaivan duduk berhadapan di kursi rotan.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Kaivan mengawali pembicaraan.
Luna menghela napas panjang, "Setelah tahu Nadhea pulang, kenapa kamu langsung diam?"
__ADS_1
"Tidak baik banyak bicara saat makan."
"Aku bukan anak kecil, Kai, yang akan percaya dengan alasan payah." Luna menatap Kaivan.
"Lalu, menurutmu kenapa?" Kaivan balik bertanya.
"Mungkin kamu tertarik dengan dia." Luna membuang pendangan. "Tapi, sungguh lucu jika kamu tertarik dengannya, sementara sudah ada aku yang berdiri di sampingmu," sambungnya.
Bukan tanpa alasan Luna berpikir demikian. Sejak menanyakan keberadaan Nadhea dan Arsen, Kaivan langsung diam dan terlihat gelisah, bahkan sampai mengabaikan dirinya. Selama menjalin hubungan, baru tadi Kaivan bersikap tak acuh. Selain itu, Luna juga ingat masa lalu. Dirinya pernah merebut kekasih Nadhea, Luna tak ingin kejadian yang sama terjadi padanya.
"Pikiranmu terlalu dangkal, Luna. Sangat bertolak belakang dengan kecerdasanmu yang dikagumi banyak orang," ujar Kaivan yang lantas membuat Luna kembali menatapnya.
"Apa maksudmu?"
"Begitu mudahnya kamu menuduhku tertarik dengan Nadhea, padahal kamu jelas tahu bagaimana sikapku selama ini," jawab Kaivan.
"Lalu kenapa kamu diam dan terlihat gelisah?"
"Yang kupikirkan bukan Nadhea, tapi sikapmu terhadap dia. Kamu ingin tahu apa alasanku memikirkannya?"
Luna tidak menjawab, tetapi menatap Kaivan dengan lebih lekat.
"Karena aku juga sama seperti Nadhea. Seseorang yang terlahir dengan otak payah. Seseorang yang penuh dengan kekurangan, yang menurutmu hanya menjadi beban hidup."
"Kai___"
"Aku sama seperti orang yang kamu anggap parasit, Luna," pungkas Kaivan.
Bersambung...
__ADS_1