Noda

Noda
Kepribadian Ganda


__ADS_3

Seorang gadis sedang duduk sendiri sambil memangku buku. Dia terus memainkan penanya tanpa peduli dengan keberadaan orang-orang di sekitar. Entah apa yang ditulisnya, mungkin sesuatu yang sangat istimewa.


"Dia kan cewek kemarin," batin Kaivan.


Lantas, Kaivan menurunkan kameranya dan menilik sosok gadis yang kali ini memakai jaket putih dan celana panjang warna hitam. Rambutnya digulung tinggi, entah sengaja tidak disisir atau karena tertiup angin, yang jelas sekarang sangat berantakan.


Kali ini bukan detak jantung yang membuat Kaivan terpaku, melainkan raut wajah sang gadis yang seakan-akan menyimpan kesedihan. Walau dalam jarak yang cukup jauh, tetapi Kaivan dapat melihatnya dengan jelas. Pasalnya, gadis itu sering mendongak sambil melayangkan tatapan kosong.


"Sangat berbeda dengan kemarin," ucap Kaivan masih dalam hatinya.


"Kai, ngopi yuk!" teriak Kennan. Kala itu, dia sedang membawa air dalam panci.


Kaivan tersenyum dan kembali bergabung dengan kawan-kawannya. Dia meninggalkan gadis aneh yang masih setia dengan aktivitasnya.


Beberapa menit kemudian, Kennan sudah selesai menyeduh lima cangkir kopi. Karena keterbatasan peralatan, satu cangkir untuk dua orang. Hanya Nakula yang tidak bergandengan dengan siapa pun.


"Mantap, Guys!" seru Elbi sambil menyeruput secangkir kopi yang masih mengeluarkan uap.


"Action dulu dong," timpal Vicki. Dia mengangkat ponselnya dan mengambil jepretan untuk diunggah di media sosial.


Di tengah canda dan gelak tawa, Kaivan mengeluarkan bekal yang dibeli di Desa Sembalun—roti dan biskuit. Di tengah semilir angin yang makin dingin, memang cocok menikmati kopi dan sedikit camilan.


"Dari sekian banyak tempat, Rinjani inilah yang paling aku impikan. Dulu, aku sering browsing di internet, lihat-lihat gambar dan membaca semua artikel yang memuat tempat ini. Masih nggak nyangka hari ini benar-benar menginjakkan kaki di sini," ungkap Kaivan di sela-sela kunyahan.

__ADS_1


"Kalau aku lebih penasaran sama Gunung Kerinci," sahut Karel.


"Puncak Jaya Wijaya dong, tertinggi se-Indonesia, Cuy." Andre turut menyela.


"Susun rencana lagi yuk, kapan-kapan go sana," ajak Nakula.


"Kalau dalam waktu dekat kayaknya aku belum bisa. Mendekati wisuda tugasnya makin mengerikan." Kennan tersenyum lebar. "Kalian gimana?" sambungnya sambil menatap Kaivan dan Elbi.


"Kayaknya sependapat sama kamu," jawan Elbi.


"Betul, apalagi otakku payah gini. Kayaknya harus break dulu." Kaivan ikut menyahut sambil menyeruput kopi yang mulai dingin.


Di antara mereka, hanya Kaivan, Kennan, dan Elbi yang masih kuliah. Selebihnya sudah punya pekerjaan yang mapan. Mereka mendaki gunung hanya sebatas hobi untuk mengisi waktu luang.


"Gue laper," ujarnya sebelum Kaivan melayangkan protes.


Untuk sekian detik Kaivan terdiam, tak bicara dan sekadar menilik wajah gadis yang duduk di sebelahnya. Dia adalah gadis aneh yang beberapa menit lalu mencuri perhatian. Satu hal yang membuat Kaivan keheranan, raut wajahnya tampak ceria, tak ada gurat kesedihan sedikit pun. Sangat bertolak belakang dengan apa yang Kaivan lihat sebelumnya. Mengapa bisa demikian? Mungkinkah dia berkepribadian ganda?


"Lo terpesona, ya?" Gadis itu menatap Kaivan sekilas. "Nggak heran, gue emang cantik, manis lagi," sambungnya.


"Aku cuma heran, kenapa ada makhluk yang nggak punya urat malu seperti kamu." Kaivan bicara tegas, lengkap dengan tatapan tajamnya.


Gadis itu memutar bola mata, "Biarin ajalah nggak ada urat malu, penting urat kema**an masih ada."

__ADS_1


Kaivan langsung membuang pandangan, sangat kaget dengan jawaban gadis itu. Namun, bukan hanya Kaivan saja, melainkan kawan-kawan lain juga tersentak. Bahkan, Nakula sampai tersedak dibuatnya.


"Sebenarnya kamu siapa?" tanya Kennan beberapa saat kemudian. Melihat tatapan dan reaksi Kaivan, dia yakin bahwa gadis itu adalah orang asing—bukan kenalan Kaivan.


"Nadhea," jawabnya singkat.


"Terus, ngapain kamu di sini?" Kali ini Nakula yang bertanya.


"Mengejar Babang Tampan." Nadhea menjawab asal sambil mencomot biskuit yang ada di hadapan Kaivan.


"Kami lagi bicara serius!" tegas Nakula.


"Gue juga serius. Asal kalian tahu ya, dia udah seenak jidat nyium bibir gue di bandara. Nggak salah, kan, kalau sekarang gue meminta pertanggungjawaban?" Nadhea bicara sambil menatap Kaivan, yang ditatap pun mulai gusar dan tak nyaman.


"Apa maksudmu?" tanya Kaivan dengan pelan.


"Jangan pura-pura lupa, kemarin lo nyium gue, kan?" Nadhea menjawab santai, sembari mengunyah biskuit yang tinggal sedikit.


"Jangan sembarangan, ya! Justru kamu yang kurang ajar, seenaknya mengambil minumanku tanpa permisi dan___" Umpatan Kaivan menggantung begitu saja karena Nadhea dengan cepat memotongnya.


"Dan kamu merebut paksa minuman yang sudah ada di mulutku. Apa itu namanya kalau bukan mencium?"


Kaivan gelagapan. Pasalnya, Nadhea bicara cepat dan tegas, seolah hal itu merupakan kebenaran. Ketika melayangkan pandangan ke arah kawan-kawan, mereka sedang menatapnya tanpa kedip, seakan-akan menuntut jawaban atas pernyataan barusan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2