Noda

Noda
Doa Kirana


__ADS_3

Kumenatap datar ke arah air kolam yang beriak pelan. Tepat di tengahnya, sinar surya memantul keemasan. Berkali-kali kuhela napas panjang, suara embusannya lebur bersama desir angin. Semakin lama, mataku semakin berkaca-kaca.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang, namun Daniel belum juga memberi kabar. Ada apa dengannya? Satu pertanyaan yang terus kulontarkan, namun tak sedikit pun tak kutemukan jawaban.


"Apakah dia akan berlari?" gumamku pada diri sendiri.


Tak terasa air mataku menetes, meratapi diri yang terhempas dalam nestapa. Kendati harapan kami hanya perpisahan, namun tidak bisakah Daniel bertanggung jawab untuk anaknya. Aku bukan orang kaya, dan sekarang aku sudah meninggalkan keluargaku. Tanpa bantuan Daniel, apa yang bisa kuberikan untuk anakku kelak?


"Kirana, maaf aku terlambat."


Kudengar suara Daniel beriringan dengan derap langkah yang mendekat. Perlahan kuseka air mata, dan aku menoleh ke arahnya.


"Kirana, maaf ya, aku___"


"Bukan kata maaf yang ingin kudengar, Daniel! Tapi penjelasan! Ke mana kamu? Puluhan kali aku menelepon, tapi sekali pun tak kamu jawab. Kenapa?" bentakku dengan napas yang memburu. Amarah ini terlalu membuncah hingga aku tak sabar menanti Daniel menyelesaikan kalimatnya.


"Aku ... aku ada sedikit urusan, Kirana," jawab Daniel.


Aku memalingkan muka, mendengar ucapannya yang gugup, kecurigaan ini kian bertambah.

__ADS_1


"Urusan apa?" tanyaku.


"Urusan keluarga."


"Lalu kenapa kamu tidak mengangkat teleponku? Tidak bisakah bicara setengah menit saja, atau kalau tidak, kirimkan pesan singkat. Apa itu terlalu sulit, Daniel? Atau kamu memang berniat lari dariku?" Lagi-lagi kucecar dia dengan berbagai pertanyaan.


"Kirana, tenanglah! Aku tidak pernah berniat meninggalkanmu. Tadi ada Om dan Tante, dan aku tidak punya kesempatan untuk memegang ponsel. Maafkan aku, Kirana. Maaf sudah membuatmu menunggu lama." Daniel mengusap sisa air mataku, lantas menggenggam jemariku.


"Lalu, kenapa Mayra tahu jika kamu akan terlambat? Dia bilang kamu akan datang tengah hari, dan ternyata ucapannya terbukti. Jelaskan, kenapa bisa seperti itu, Daniel!" kataku dengan tegas.


"Aku ... aku juga tidak tahu, mungkin ... mungkin hanya kebetulan saja." Daniel kembali gugup, ia kelihatan salah tingkah ketika aku menyebut nama Mayra.


Aku yakin jawaban Daniel adalah salah. Tidak mungkin Mayra sekadar menebak, aku lihat dia juga gugup saat aku bertanya lebih lanjut.


"Kirana, aku bicara apa adanya. Tidak ada apa-apa antara aku dan Mayra. Aku tidak berniat lari darimu, meskipun aku belum tahu seperti apa hubungan kita nantinya." Daniel berkata sembari menyelipkan rambutku ke belakang telinga.


Kalimat terakhir Daniel menyadarkanku tentang hubungan kami, yang sepertinya tidak ada jalan lain, selain perpisahan. Aku menggigit bibir sambil merangkai kata yang tepat untuk bicara.


"Aku tahu, akhir kita pastilah perpisahan. Aku tidak memaksamu untuk menikahiku, karena aku tahu keyakinan kita berbeda. Tapi Daniel, kamu tahu keadaanku seperti ini. Jika kamu tak mau membantuku, bagaimana bisa aku menghidupi anakmu. Boleh saja kau tega padaku, tapi apa kau juga tega pada darah dagingmu?" ucapku dengan nada yang tertahan. Kulirik Daniel yang masih berjongkok di sebelahku.

__ADS_1


"Mungkin di suatu saat nanti, masing-masing dari kita akan menikah ... dengan orang lain. Entah kamu dulu, atau aku dulu. Tapi Daniel, bolehkah aku meminta satu hal?" Aku bertanya sambil menatap ke arahnya. Menyelami manik cokelat yang semakin lama semakin menyimpan kemelut.


"Apa?" bisiknya.


"Menikahlah dengan seseorang yang tidak kukenal, agar aku juga bisa menganggapmu asing dalam hidupku. Jangan menikahi perempuan yang dekat denganku, terlebih mereka yang keyakinannya sama dengan diriku," ujarku.


Dadaku kian sesak, kala membayangkan sosok Mayra. Dia sahabat, mungkinkah berkhianat? Ahh entahlah, banyak memang sahabat yang sangat setia, baik dalam suka maupun duka. Namun juga tak jarang yang suka menikam, menusuk dari belakang tanpa belas kasihan. Aku tak tahu, Mayra ada di kubu yang mana.


"Kenapa kamu mengatakan hal itu, Kirana?" tanya Daniel.


"Berjanjilah, Daniel!"


"Jangan berpikiran yang macam-macam. Cukup denganmu aku menjalin hubungan beda keyakinan. Jangan dulu bicara tentang pernikahan, aku masih belum memikirkannya. Saat ini, hanya kamu gadis yang kucintai. Tidak peduli seperti apa hubungan kita, aku akan tetap di sisimu, melindungimu, dan menjagamu. Aku akan bertanggung jawab atas biaya hidupmu dan juga anakku."


Kurasakan tangan hangat Daniel menyentuh pundakku, lantas meraih tubuhku dan membawanya ke dalam pelukan. Dia mengusap punggungku dan menenangkan aku dengan bisikan-bisikan merdunya.


"Ya Allah, sekeras apapun hamba mengatakan tidak, hati ini tetap mengharapkan kehadirannya. Cinta ini masih bersemi, dan Engkau yang maha tahu apa yang hamba rasa. Ya Allah, berikanlah jalan untuk hubungan ini. Gerakkan hatinya agar mau mengenal-Mu. Jadikan kami, dua insan yang sejalan, agar tak ada lagi kendala untuk kami bersama," doaku dalam hati.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2