Noda

Noda
Kabar Buruk Tentang Athreya


__ADS_3

Detik waktu hampir menyentuh tengah malam. Banyak insan yang sudah terlena dalam alam mimpi. Namun, tidak dengan Kaivan dan Kennan. Mereka baru menginjakkan kaki di kamar hotel karena tuntutan pekerjaan.


Hari ini, jadwal mereka lebih padat dari kemarin. Sejak pagi sudah berangkat dan pulangnya pun larut malam. Sampai-sampai Kaivan tak sempat membawa ponselnya—yang tadi pagi masih diisi daya.


"Kamu nggak mandi, Kai?" tanya Kennan ketika melihat Kaivan mengempaskan tubuh di sofa.


"Duluan aja!" jawab Kaivan dengan malas.


Kennan mengedikkan bahu sambil menggeleng-geleng. Dia tahu seharian ini mood Kaivan sedang ambyar. Namun, Kennan tak tahu pasti apa yang menjadi penyebabnya, Luna atau Nadhea.


"Ternyata masalah percintaan serumit ini." Kennan membatin sambil mengulas senyum lebar. Lalu, tanpa bicara melangkah pergi menuju kamar mandi.


Pada waktu yang sama, Kaivan mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Perbincangannya dengan Luna kemarin malam, menyisakan rasa tak nyaman yang terus merongrong dalam benak. Namun, entah tidak nyaman karena sikap tak acuh Luna, atau justru rasa khawatir terhadap Nadhea.


"Aku dan Nadhea terlahir dalam keadaan yang hampir sama, hal wajar jika aku khawatir padanya," gumam Kaivan.


Tanpa menunggu perasaan membaik, Kaivan mengambil ponsel dan menyalakannya. Ada delapan panggilan tak terjawab dari Luna, juga puluhan chat dari beberapa kontak—Luna, Reyvan, Athreya, dan tiga nomor asing.


Pertama, Kaivan membuka chat dari Reyvan, isinya tentang Romantic Resto. Kedua, chat dari Athreya, isinya hanya kalimat 'aku sayang Kakak'. Kaivan mengernyit heran, tak biasanya Athreya seperti ini. Lantas, Kaivan langsung mengusap icon telepon yang tertera di sana. Namun, nomor Athreya tidak aktif.

__ADS_1


"Ada apa dengan Reya?" gumam Kaivan dengan perasaan yang berkecamuk. Usai melihat waktu chat—pukul 07.00 pagi, juga nomor yang sekarang tidak bisa dihubungi, mendadak terselip firasat buruk terkait adiknya.


Sembari berusaha berpikir positif, Kaivan mencoba menghubungi Reza, hendak memastikan bahwa Athreya baik-baik saja di sana. Akan tetapi, niat Kaivan gagal karena terlebih dahulu ada telepon masuk, sang ayah yang menghubungi.


"Assalamu'alaikum, Pa," sapa Kaivan dengan cepat. Dia mendadak cemas mendapat telepon larut malam dari ayahnya.


"Waalaikumsalam. Kai, pergilah ke Jakarta! Athreya___"


Dunia Kaivan seakan berhenti berputar ketika mendengar penjelasan Darren. Dia tak bisa menerima atas apa yang terjadi pada adik kesayangannya. Dalam kepanikan, Kaivan berharap itu semua sekadar penggalan mimpi buruk. Akan tetapi, rasa sakit ketika meremas jemari menyadarkannya bahwa semua adalah nyata.


"Tidak, ini tidak mungkin!" Jantung Kaivan berdetak cepat seiring tenaga yang perlahan menguar entah ke mana.


"Kai, ada apa?" Kennan kembali berteriak, kali ini sambil menepuk-nepuk bahu Kaivan.


Berkat sentuhan Kennan, Kaivan mendapatkan kembali kesadarannya. Namun, separuh tenaga masih menghilang dari tubuhnya.


"Kai___"


"Aku akan ke Jakarta, tolong sampaikan izinku pada Pak Chandra!" pungkas Kaivan.

__ADS_1


Kemudian, dia menyambar dompet dan kunci mobil. Lantas, berlari keluar tanpa melontarkan penjelasan yang detail. Kennan kebingungan dibuatnya. Lalu, Kennan turut mengejar tanpa memedulikan tubuhnya yang hanya dililit celana pendek.


"Ada sesuatu dengan Reya, aku harus pergi!" Jawaban singkat dari Kaivan, sebelum mobilnya meluncur meninggalkan area hotel.


Kennan menatap nanar sambil berkacak pinggang, antara kesal dan khawatir. Tanpa mengetahui kejadian yang sebenarnya, pikiran Kennan dipenuhi prasangka-prasangka buruk, yang membuat rasa khawatirnya makin memuncak. Di sela-sela doa yang ditujukan untuk Athreya, Kennan merutuki tingkah Kaivan yang menurutnya amat salah.


"Bisa kan bicara sebentar. Athreya sakit kah, kecelakaan, atau apa gitu. Udah bela-belain keluar tanpa baju, malah main nyelonong. Kebiasaan buruk dari dulu dipiara mulu," gerutu Kennan saat kembali ke kamar.


Setibanya di sana, Kennan bergegas mengambil ponsel dan menghubungi Darren—hendak bertanya tentang Athreya. Namun, dalam beberapa kali panggilan tak ada jawaban dari seberang.


"Nggak ayah nggak anak sama aja. Nggak ngerti apa kalau aku ini juga khawatir dan waswas," ucap Kennan. Kendati jarang bertemu, tetapi dia sangat menyayangi Athreya. Dia menganggap Athreya seperti adiknya sendiri. Mungkin, karena persahabatan dengan Kaivan yang terlampau dekat.


Usai mengusap wajah yang tiba-tiba berkeringat, Kennan menghubungi Reyvan. Lelaki itu adalah harapan terakhirnya.


"Hallo, Kak Kennan!" sapa Reyvan beberapa detik kemudian.


Kennan bernapas lega, lalu dengan cepat menanyakan keadaan Athreya.


"Dia___"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2