Noda

Noda
Tersandung Kasus


__ADS_3

"Kak, ada masalah di restoran, lumayan rumit. Sekarang aku dan Papa ada di kantor polisi," terang Reyvan.


"Hah!" teriak Kaivan dengan mata yang memelotot tajam.


"Cepat pulang, Kak, agar masalahnya segera kelar," ujar Reyvan.


"Ini ... ini sebenarnya ada apa, Rey? Kenapa kamu dan Papa di kantor polisi?" Kaivan makin panik, pun dengan Kennan. Mendengar kata 'kantor polisi', Kennan mendadak tegang.


"Ceritanya panjang, Kak. Akan membuang waktu kalau kuceritakan sekarang. Intinya, kita dicurigai polisi dan ... ah, cepat pulang, Kak!" jawab Reyvan.


"Ba-baik, aku akan pulang." Usai memberikan jawaban, Kaivan langsung mengakhiri sambungan telepon dan kemudian menatap Kennan. "Aku akan pulang, Ken," ucapnya.


"Kita, Kai, bukan kamu aja," ralat Kennan.


"Kamu___"


"Ya kali aku biarin kamu pulang sendiri, Kai. Mana lagi ada masalah. Udah yuk, buruan!" kata Kennan sambil berdiri dan menyambar tas yang berisi barang-barang.


Kaivan mengangguk. Usai memastikan bahwa tak ada barang yang tertinggal, Kaivan memakai jaket dan melangkah keluar ruangan, Reyvan mengikutinya di belakang. Sebelum menuju parkiran, Kaivan terlebih dahulu meminta izin pada Chandra. Atasannya itu mengiakan dan memberi semangat pada Kaivan.


Tak lama kemudian, Kaivan dan Kennan tiba di parkiran. Lantas, keduanya menaiki mobil dan duduk di depan kemudi. Dengan gerakan cepat, Kaivan menghidupkan mesin dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.


______________________

__ADS_1


Tepat tengah malam, Kaivan dan Kennan tiba di kantor polisi. Di sana sudah ada Darren, Kirana, Reyvan, dan juga Fia—karyawan restoran. Kaivan langsung mendekati mereka dan menanyakan perihal kejadian yang sebenarnya.


"Ada pembunuhan di restoran," jawab Reyvan.


"Pembunuhan?" Mata Kaivan membelalak seketika.


"Mau tidak mau polisi mencurigai kita. Pasalnya, kejadian itu di restoran kita, alat yang digunakan adalah pisau steak dari kita, dan ... Nessa terlibat," terang Reyvan.


Kaivan kesulitan menelan ludah, sungguh tak menduga bila Nessa—karyawannya akan terlibat dalam tindakan kriminal.


Kaivan belum sempat bertanya lebih lanjut, tiba-tiba polisi sudah mendekatinya. Lantas, Kaivan di bawa ke dalam ruangan untuk menjalani pemeriksaan. Di sana, sudah ada Nessa yang duduk sambil menunduk. Wajahnya terlihat pucat dan keringat terus mengucur di pelipis.


Sebenarnya, dalam hal ini Kaivan tidak bersalah. Namun, karena peristiwa itu terjadi di tempatnya dan bawahannya ikut terlibat, maka Kaivan pun dicurigai.


Romantic Resto adalah restoran berkelas dengan nuansa romantis. Pengunjung didominasi oleh pasangan, baik yang masih muda dan dalam tahap pendekatan, maupun yang sudah dewasa dan sudah menikah. Karena hanya tempat makan dan minum, Romantic Resto tidak pernah menanyakan status. Entah mereka sepasang kekasih, atau suami istri, atau justru selingkuhan, yang penting dilayani dengan maksimal.


Melihat istrinya makan romantis dengan lelaki lain, sang suami langsung murka. Tanpa banyak kata, dia menarik istrinya dan menamparnya hingga tersungkur di lantai. Lelaki yang berstatus selingkuhan emosi seketika. Dia tidak terima wanita yang dicintai diperlakukan demikian. Karena sudah dikuasai amarah, dia langsung menyambar pisau steak dan menancapkannya ke leher lawan, kebetulan saat itu lelaki yang berstatus suami sedang membungkuk—hendak meraih tubuh istrinya. Dia tidak menyangka akan diserang dari belakang.


Pengunjung lain langsung beranjak sambil menjerit. Ada sebagian lelaki yang mendekati mereka dan bermaksud melerai. Namun, gagal. Si selingkuhan menancapkan pisaunya dengan membabi buta, hingga korban tewas di tempat. Darah segar mengalir dan menggenang di antara kaki-kaki kursi. Tubuhnya yang kekar bersimbah darah, pun dengan wajahnya.


Karena panik, sang pelaku langsung melarikan diri, bahkan pisau steak dibawa serta. Salah satu pengunjung yang mencoba menahan, justru ditusuk lengannya tanpa rasa iba. Sementara sang wanita, dia shock dan tidak sadarkan diri.


Ketika polisi datang, para pengunjung menceritakan kronologi kejadian. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang mengenali identitas pelaku, justru identitas korban yang dikenali. Dia adalah Pak Adhi Permana, kepala keuangan di Kantor Victoria, kantor milik Luna.

__ADS_1


Semua pengunjung telanjur panik. Jadi, tidak ada yang berpikiran untuk mengambil foto atau video. Polisi hendak memeriksanya dari rekaman CCTV, tetapi sayang, saat itu CCTV dinonaktifkan. Dari sanalah, polisi mencurigai campur tangan sang pemilik restoran.


Usai mendengar detail kejadian, Kaivan menghela napas panjang. Dia mengucap bait-bait doa, semoga Tuhan selalu melindunginya. Lantas, Kaivan menerangkan bahwa hari ini tidak mengawasi restoran karena sedang memotret di Kota Batu. Namun, sebagai pemilik tempat, Kaivan tidak bisa cuci tangan begitu saja.


"Sebelum Anda datang, kami sudah menginterogasi karyawan Anda, Saudari Nessa Cahyani dan Saudari Fia Agustina. Saudari Fia kami nyatakan tidak bersalah, sedangkan Saudari Nessa kami tetapkan sebagai tersangka. Dia telah mengakui perbuatannya, dengan sadar mengenonaktifkan CCTV dengan tujuan tertentu," terang polisi.


Kaivan langsung menoleh dan menatap Nessa. Namun, yang ditatap hanya menunduk sambil meremas ujung rok.


"Saudari Nessa, sekarang atasan Anda sudah hadir di sini. Silakan berikan keterangan terkait hal ini. Apa tujuan Anda dan apa hubungan Anda dengan pelaku?" tanya polisi.


Nessa tak menjawab. Dia sekadar diam sambil menggigit bibir.


"Jika Anda bisa menerangkan dengan jelas, tanpa berbelit-belit, hukuman bisa kami ringankan!" Polisi bicara dengan lebih tegas.


"Terangkan identitas lengkap pelaku!" Polisi kembali bicara karena Nessa masih diam.


"Ma-maaf, Pak, sa-saya tidak tahu identitas pelaku dan korban. Sa-saya hanya orang suruhan. Saya melakukan ini atas perintah Pak Kaivan," sahut Nessa dengan gugup.


Sebuah kalimat yang bagaikan sambaran petir bagi Kaivan. Dia tidak tahu apa-apa dan tiba-tiba Nessa menyeret namanya. Sanggupkah dirinya menyanggah semua tuduhan? Sanggupkah dia mengumpulkan bukti-bukti agar terbebas dari kasus itu?


Bersambung....


Tebak-tebak lagi, yuk!

__ADS_1


Mengapa Nessa mengaku sebagai orang suruhan Kaivan?


Kalau jawabannya ada yang benar, nanti aku kasih crazy up.


__ADS_2