Noda

Noda
Berpisah


__ADS_3

"Kamu Anggara, kan?" tanya Kaivan tanpa basa-basi.


Setelah memandang lekat, dia ingat bahwa rupa lelaki itu sama persis dengan foto yang diberikan oleh Nicko. Dia juga ingat mengapa pertama kali melihat fotonya merasa familiar—wajah Gara sedikit mirip dengan Rega. Kaivan menebak, mereka memiliki hubungan, itu sebabnya sekarang Gara ada di hadapannya.


"Iya. Kamu siapa?" Kini berganti Gara yang menatap lekat. Dia bingung karena sama sekali tak mengenali wajah Kaivan. Maklum, Kaivan dan Athreya memang tidak mirip. Kaivan menyerupai Darren, sedangkan Athreya menyerupai Kirana.


"Kamu asli Jakarta, kan?"


"Iya," jawab Gara.


"Kamu ada hubungan darah dengan Rega?" Kaivan kembali bertanya.


Gara memutar bola mata dengan jengah, "Iya, aku adiknya. Lalu kenapa? Aku nggak kenal kamu, jadi nggak usah basa-basi. Katakan saja apa maumu! Jangan banyak tanya, apalagi memberikan tatapan yang memuakkan itu! Aku nggak suka!"


Melihat Gara yang mulai emosi, amarah Kaivan seketika memuncak. Selain sudah merusak adiknya, Gara juga punya hubungan dengan lelaki yang pernah menyentuh Luna. Tertutup sudah celah maaf di hati Kaivan. Sampai kapanpun dia akan benci dengan lelaki yang bernama Gara.


"Kamu jadi ngomong, nggak? Aku___"


"Ini yang kumau!" Kaivan membentak sambil mencengkeram baju Gara. Lantas, dia mendaratkan pukulan keras di wajah Gara sebelum lelaki itu sempat bicara.


Gara hendak melawan, tetapi tenaganya kalah kuat dengan Kaivan. Alhasil, kepalan tangan Kaivan kembali mengenainya dan menyisakan memar di sudut bibir.


Setelah menghadiahi tiga pukulan, Kaivan melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Pada saat yang sama, dua orang polisi datang dan melerai. Mereka juga mengintrogasi Gara dan Kaivan. Dengan cepat, Gara mengadukan tindakan Kaivan yang tiba-tiba menyerang tanpa alasan.


"Dia sudah memperkosa adik saya, Athreya. Athreya depresi dan sampai bunuh diri, sekarang dia koma di rumah sakit Jakarta. Dokter tidak bisa memastikan dia akan sembuh atau tidak," terang Kaivan ketika polisi meminta penjelasannya. "Saya rasa, tiga pukulan masih tidak sebanding dengan perbuatannya. Pak Polisi, saya menuntut keadilan untuk adik saya."


"Kamu jangan sembarangan! Aku tidak pernah memerkosa Athreya. Walaupun dia bunuh diri dan koma, itu bukan urusanku!" kilah Gara.


"Dasar lelaki pengecut! Sudah memerkosa, tapi tidak berani mengakui. Kamu tidak pantas disebut lelaki, Brengsek!" bentak Kaivan.


"Jaga mulutmu! Aku tidak pernah memerkosa Athreya. Kami melakukannya suka sama suka. Kalau sekarang hamil, itu karena dia yang bodoh dan murahan!" jawab Gara dengan penuh emosi. Dia sampai tak sadar jawabannya dapat menjadi boomerang bagi dirinya.


"Oh, jadi aku benar. Memang kamu yang menghamili Athreya." Kaivan mengepalkan tangan. Apa pun keadaan adiknya, dia tak rela ada seorang pun yang merendahkan, apalagi sampai mengatainya murahan.


"Aku ... aku___" Gara kesulitan bicara. Dalam keadaan mendadak, dia terjebak dalam omongannya sendiri.

__ADS_1


"Saya ingin keadilan untuk Athreya. Dia sampai bunuh diri, rasanya mustahil jika melakukan hal itu atas dasar suka. Bisa saja lelaki brengsek ini menggunakan ancaman agar adik saya menurut," ujar Kaivan.


"Kami akan memeriksa kasus ini, Pak Kaivan," jawab polisi.


Gara langsung pucat, terlebih saat polisi membawanya ke dalam. Berulang kali dia melontarkan sumpah serapah, juga menegaskan bahwa itu bukan salahnya. Dia tak sadar hal itu justru memperburuk citranya.


"Rega mengancam Luna, tapi perbuatannya tidak terungkap. Karena selain tidak ada bukti, Luna juga tidak bisa mengumbar aibnya. Sekarang, kamu yang harus membayar semuanya. Gara, aku tidak akan melepaskanmu. Kamu harus menua di penjara. Tak peduli meski harus menyewa pengacara ternama, aku akan melakukannya," batin Kaivan masih dengan tatapan tajam.


Kemarin, Luna tertangkap karena rekaman CCTV yang dipasang di depan pintu kamar villa. Tak ada yang tahu apa yang terjadi di dalam kamar, yang terungkap hanya Luna membunuh Rega. Pun dengan ancaman Rega terkait video mereka yang tak senonoh, sampai saat ini masih tertutup rapat. Luna tak bisa membeberkan hal itu karena akan merusak nama baiknya, apalagi bukti yang dia punya tidak kuat—hanya riwayat chat sebelum mereka bertemu pada malam itu. Ketika diintrogasi, Luna mengaku bahwa Rega adalah rival yang baru saja menjegal bisnisnya. Bagi Luna, hal itu lebih baik daripada kelakuan liarnya diketahui publik.


"Reya, kemarin Kakak gagal menjagamu. Sekarang, biarkan Kakak mencari keadilan untukmu," ucap Kaivan dengan lirih.


_________________


Isak tangis menjadi satu-satunya suara yang mengisi keheningan. Di dalam ruangan yang penuh pengawasan, Luna menunduk. Baginya, borgol di tangan jauh lebih sedap dipandang daripada wajah sang kekasih yang penuh dengan gurat kecewa. Niat hati ingin mempertahankan Kaivan, tetapi justru terjerumus dalam masalah yang lebih pelik. Kemungkinan besar, dia akan kehilangan karier dan juga cinta.


"Om Wira sudah menjelaskan semuanya." Kaivan mengembuskan napas kasar. "Kenapa kamu tidak jujur dari awal?" sambungnya.


"Maaf," bisik Luna dengan kepala yang tetap menunduk.


"Maaf." Lagi-lagi hanya kata maaf yang keluar dari mulut Luna.


"Apa kamu berencana menyembunyikan masa lalumu selamanya? Menipuku dengan selaput dara hasil operasi?" Kaivan kembali bicara.


"Aku mencintaimu, Kai. Aku takut kamu pergi jika tahu kekuranganku," bisik Luna.


"Cinta bukan seperti ini, Luna. Cinta itu dilandasi kejujuran, lalu menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Saling mengerti dan tidak menuntut satu sama lain. Bukan cinta namanya jika dilandasi kebohongan."


"Maafkan aku, Kai. Aku mengaku salah."


"Kamu membuatku kecewa, Luna, sangat kecewa," kata Kaivan yang lantas membuat Luna mendongak sesaat.


"Kai___"


"Satu lagi yang membuatku kecewa, yaitu Nadhea. Kamu tahu, sekarang dia dirawat di rumah sakit Bandung. Saat aku ke sini, dia belum sadar. Dia kurus, wajah dan tubuhnya penuh lebam. Dia menjadi korban KDRT. Andai waktu itu kamu mau mendengarku dan mengunjunginya, dia tidak mungkin mengalami hal yang sefatal ini. Dia saudaramu, Luna, tapi tanpa rasa iba kamu membiarkannya begitu saja. Kamu keterlaluan!" pungkas Kaivan.

__ADS_1


"Dia sudah menikah, kupikir hidupnya baik-baik saja. Selama ini, Mas Arsen juga kelihatan baik." Luna berusaha membela diri.


"Aku sudah menjelaskan panjang lebar, tapi kamu tidak mau dengar. Kamu sangat angkuh, Luna. Kamu terlalu meninggikan kemampuanmu dan merendahkan orang lain yang tak sehebat dirimu. Makin ke sini aku makin sadar, kita sebenarnya sangat tidak cocok satu sama lain, karena aku juga tidak jauh beda dengan Nadhea." Kaivan menghela napas panjang, kemudian memejam. "Luna, sebaiknya kita berakhir saja," sambungnya.


"Kaivan___"


"Maaf, tapi aku tidak bisa lagi meneruskan hubungan ini," potong Kaivan.


"Kita akan menikah. Kamu jangan menodai cinta kita, Kai!" Luna berteriak sambil beranjak. Air matanya luruh makin deras ketika Kaivan mengatakan perpisahan. Walaupun hal itu sudah dipikirkan sejak semalam, tetapi nyatanya Luna merasa sesak saat hal itu benar-benar terjadi.


"Menodai? Apa aku tidak salah dengar? Bukankah kata itu lebih pantas untuk dirimu sendiri, Luna?" Kaivan turut beranjak, matanya menatap Luna dengan lebih tajam.


"Aku tidak ingin pisah, aku mencintai kamu," jawab Luna.


"Dengan pengkhianatan dan kebohongan yang kamu lakukan, bukankah egois jika kamu memintaku tetap bertahan? Apalagi dengan sikapmu yang tidak bisa menghargai Nadhea, aku sama sekali tidak suka, Luna. Kalaupun nanti ada pengacara hebat yang membuatmu bebas dalam hitungan hari, tidak ada lagi yang bisa kuharapkan. Aku sudah kecewa, sangat kecewa!" ucap Kaivan dengan panjang lebar.


"Kamu tega bicara seperti ini karena Nadhea, kan? Ada perasaan kan sama dia, makanya kamu sangat peduli?"


"Aku peduli dengan Nadhea karena dia tertindas, juga karena keadaanku tidak jauh beda dengan dia. Jika aku ada rasa terhadap Nadhea, kita tidak akan pernah menjalin cinta, Luna. Asal kamu tahu, aku mengenal Nadhea jauh sebelum aku mengenalmu. Kami pernah bertemu di Puncak Rinjani, itu terjadi ketika aku masih kuliah."


Luna menganga mendengar jawaban Kaivan. Dia sama sekali tak menyangka bahwa Kaivan dan Nadhea pernah saling mengenal.


"Tapi, dengan keadaan yang seperti ini, maaf jika suatu saat nanti aku benar-benar jatuh cinta padanya. Jangan salahkan siapa-siapa, kamu yang ikut mendorongku ke posisi itu," sambung Kaivan.


"Kamu gila, Kai! Apa hebatnya dia, hanya gadis bodoh yang tidak tahu apa pun. Meski keadaanku sekarang sedang buruk, tapi aku masih jauh lebih baik dari dia. Jika bisa berpikir, kamu tidak akan jatuh cinta padanya!" ujar Luna dengan intonasi tinggi.


Kaivan mencondongkan wajah hingga jaraknya dengan Luna hanya sejengkal, "Dalam keadaan seperti ini pun sifat aslimu masih nggak berubah, Luna."


"Apa maksudmu?"


"Kamu memang pintar, tapi sayang akhlakmu nol besar. Luna, satu hal yang paling kusesali dalam hidup adalah mencintaimu dan memimpikan kamu menjadi pasangan halalku."


Tanpa menunggu tanggapan Luna, Kaivan langsung membalikkan badan dan melangkah pergi. Sebelum jauh berjalan, Kaivan melepas cincin dan membantingnya ke lantai. Dentingannya terdengar keras, menyisakan rasa nyeri di hati Luna.


Setelah melakukan itu, Kaivan melangkah cepat dan meninggalkan ruangan tempat Luna berada. Entah apa yang membuat emosinya benar-benar memuncak, pengkhianatan Luna dan status Rega—kakak dari seseorang yang telah menghancurkan Athreya, atau karena ucapan Luna yang berulang kali merendahkan Nadhea. Entahlah! Kaivan pun tak bisa menemukan jawaban yang jelas. Satu hal yang pasti, setelah ini dia akan membuat Gara mendekam lama di penjara.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2