Noda

Noda
Kebenaran Masa Lalu


__ADS_3

Detik waktu sudah mengantarku pada tengah malam, tetapi mata ini masih enggan terpejam. Pikiranku terus menerawang, mencerna kalimat yang kudengar beberapa jam lalu. Reza, lelaki yang pernah mematahkan kepercayaanku. Kini kami kembali bertemu dengan keadaan yang berbeda. Jika dia memang mencintaiku, apa yang harus aku lakukan?


Masih adakah jalan untuk memperbaiki keadaan, tanpa menyakiti pihak mana pun?


Kutarik napas dalam-dalam, lantas kuembuskan perlahan. Habis cara kulakukan untuk menenangkan perasaan, namun nyatanya tetap saja bergejolak.


"Tidur, tidur, harus tidur," ucapku pada diri sendiri.


Kututup wajahku dengan selimut, lalu kupejamkan mata dan aku berusaha terlena. Namun, baru beberapa detik waktu berjalan, tiba-tiba aku dikejutkan oleh getar ponsel.


"Siapa yang menghubungiku malam-malam." Aku bergumam sambil beringsut ke samping.


Kuraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Ada satu pesan dari Kak Darren.


[Aku nggak bisa tidur]


Aku membelalak lebar kala membaca pesannya. Mengapa kami mengalami hal yang sama?


[Kenapa?]


[Kok langsung dibales? Kamu nggak tidur, ya?]


Aku bangkit dari tidurku, kemudian duduk sambil memangku bantal.


[Lagi terjaga] balasku padanya.


Cukup lama tak ada balasan darinya. Lantas kuletakkan kembali ponselku dengan kesal.


"Baru juga mau seneng, malah ditinggal. Nyebelin." Aku menggerutu sambil memandang layar ponsel yang masih menyala.


Aku hendak merebahkan tubuh, tetapi lagi-lagi dikejutkan oleh suara ponsel. Kali ini bukan hanya bergetar, melainkan berdering. Ternyata Kak Darren yang menelepon.


Tanpa menunggu lama, bibirku langsung mengulum senyum. Entah mengapa suasana hatiku bergantung padanya.


"Assalamu'alaikum," sapaku dengan pelan.


Pasalnya, aku sedang menginap di rumah Ibu. Ruangannya tidak terlalu luas, sehingga suara mudah didengar dari ruangan lain.


"Waalaikumsalam. Kok, nggak tidur?" tanya Kak Darren.


"Tadi terjaga, Dara bangun." Aku sengaja berbohong, karena tidak mungkin aku menjawab 'karena memikirkan Reza'.


"Oh."


"Kakak sendiri kenapa nggak tidur?" Aku balik bertanya.


"Nggak bisa."


"Kenapa?"


"Banyak beban."

__ADS_1


"Beban?" Kuulangi ucapannya.


"Iya." Kak Darren menjawab singkat.


"Beban apa?" tanyaku.


Hening. Tak ada sahutan dari seberang sana. Entah apa yang Kak Darren pikirkan.


"Kak," panggilku.


"Andai saja aku tidak bersikeras menahanmu, siapa yang kamu pilih, Ra? Aku ... atau Reza?" tanya Kak Darren.


"Kenapa kamu masih menanyakan hal ini, Kak? Bukankah aku sudah menjawabnya dengan tegas?" Aku balik bertanya.


"Iya, tapi sekarang kamu sudah tahu 'kan apa yang terjadi sama Reza. Awalnya aku nggak tahu, jika gadis yang dimaksud itu adalah kamu ... dan aku baru tahu tadi. Kulihat cara pandangnya ke kamu berbeda, dan ternyata tebakanku benar," terang Kak Darren.


Kini, aku yang terdiam. Aku masih bingung harus menjawab apa.


"Dia menjadi pribadi yang berbeda sekarang. Kerap kali dia mabuk, dan beberapa waktu lalu dia nyaris pakai narkoba. Beruntung ada Om dan Tante yang memergoki tindakannya. Dia frustrasi," sambung Kak Darren.


"A ... apa?" Aku terperangah. Tak menyangka jika sosok Reza akan berubah drastis.


"Apa salah jika aku tetap menahanmu, Kirana? Apa kamu akan terbebani dengan keadaan yang seperti ini?" tanya Kak Darren.


"Tidak, tapi___"


"Tapi apa?"


"Bolehkah aku menemuinya sekali saja? Bukan untuk membalas rasanya, tapi untuk meluruskan segala perkara yang pernah ada. Aku ingin kita menikah dengan tenang, dengan dukungan banyak orang. Aku tidak ingin ada yang tersakiti di hari bahagia kita," jawabku pada Kak Darren.


_____________


Laju mobil yang membawaku mulai melambat. Lantas berhenti tepat di halaman kafe. Pagi ini, aku dan Reza memiliki janji sua. Kak Darren yang mengantarku ke tempat temu.


"Ayo, Kak," ajakku.


"Aku ... menunggu di sini saja," jawab Kak Darren.


"Kenapa?" Aku mengernyit heran.


"Kau perlu bicara empat mata dengannya, jadi ... aku tidak ikut ke sana." Kak Darren mencengkeram kemudi mobil.


"Kalau begitu, aku tidak perlu bicara dengannya," sahutku.


"Sayang, kamu___"


"Kak, kamu calon suamiku. Aku menghargai kamu, jadi aku tidak akan menemui lelaki lain tanpa dirimu." Aku menjawab tegas.


Kak Darren diam tanpa kata. Dia hanya menunduk sambil tetap mencengkeram kemudi. Entah apa yang dia pikirkan.


"Kak, aku hanya ingin meluruskan masalah, kenapa keberatan menemaniku?" tanyaku ketika ia masih diam.

__ADS_1


Kak Darren menghela napas panjang, lantas ia menoleh dan menatapku.


"Baiklah, ayo." Dia tersenyum sembari membuka pintu mobil.


Aku pun mengikuti gerakannya. Lalu kami melangkah bersama memasuki kafe. Kebetulan Reza sudah tiba terlebih dahulu.


Aku dan Kak Darren menuju meja di sudut ruangan. Di sana, Reza sedang duduk sembari menyesap white coffe. Mata Reza memicing, ketika melihat kedatangan kami, mungkin dia tidak suka dengan kehadiran Kak Darren.


"Maaf membuatmu menunggu," ucapku pada Reza.


"Kau ingin bicara denganku, atau ingin pamer kemesraan di hadapanku?" Reza menyindir sambil membuang pandangan.


"Kamu jangan salah paham, Za. Aku ke sini untuk mendengarkan penjelasanmu, dan meluruskan semua masalah yang berkaitan dengan hal itu." Aku duduk di hadapan Reza, bersebelahan dengan Kak Darren.


Cukup lama Reza tak membuka suara. Dia hanya membuang muka dan sesekali melirik Kak Darren dengan sinis.


"Sayang, aku akan pindah meja. Kau silakan bicara dengannya," kata Kak Darren.


"Tapi, Kak___"


"Aku hanya pindah ke sana, tidak jauh, Sayang." Kak Darren menunjuk meja yang berada di dekat jendela. Jaraknya hanya beberapa langkah dengan meja Reza.


"Apa yang membuatmu memilih dia?" tanya Reza, ketika Kak Darren sudah pindah tempat.


"Kenapa kamu menanyakan hal itu?" Aku balik bertanya.


"Dia bukan lelaki yang baik. Kamu jangan tertipu dengannya," kata Reza.


"Apa Reza tahu masa lalunya Kak Darren, tapi dari mana? Bukankah dia hanya membaginya denganku?" ucapku dalam hati.


"Aku pun bukan perempuan baik, dan aku yakin kamu paham akan hal itu," ucapku pelan.


"Aku___"


"Katanya kamu ingin menjelaskan masalah dulu. Aku sudah siap mendengarnya," pungkasku dengan cepat. Aku ingin mengganti topik pembicaraan.


Reza menghela napas panjang, "sesungguhnya, sedari dulu aku mencintaimu. Sejak Daniel belum kuliah di kampus kita."


"Benarkah?"


Aku tidak percaya dengan penjelasan Reza. Jika sejak itu dia mencintaiku, tidak mungkin dia bekerjasama dengan ibunya Daniel.


"Iya." Reza mengangguk. "Berkaca dari sikapku, wajar jika kamu tidak percaya. Akan tetapi, aku melakukan itu demi kebaikanmu," sambungnya.


"Demi kebaikanku, apa maksudmu?" tanyaku, penasaran.


"Daniel sangat mencintaimu, tapi keyakinanmu membuat ibunya tidak suka. Daniel bersikeras mempertahankan kamu, meskipun ibunya sudah berulang kali melarang. Hal itu membuat ibunya murka, dan beliau mencari orang untuk mencelakai kamu. Berpura-pura mencintai, lantas memisahkan kamu dengan Daniel, dan kemudian ... meniadakan anak kalian. Menurut beliau, anak itulah yang membuat Daniel tidak bisa melepasmu. Aku tidak mungkin membiarkan pekerjaan itu jatuh ke tangan orang lain. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada kamu dan juga anakmu. Itu sebabnya, aku sendiri yang mengambil pekerjaan itu," terang Reza yang lantas membuatku menganga lebar.


Oh Tuhan, kenyataan macam apa ini?


"Kenapa dulu kamu tidak mengatakan apapun padaku?" bisikku pelan, tetapi aku yakin Reza dapat mendengarnya.

__ADS_1


"Itu kabar buruk, dan keadaanmu sedang hamil. Aku takut kamu stres dan mengganggu kesehatan bayimu. Aku hendak jujur di saat kamu sudah melahirkan, tapi ... kamu keburu salah paham," jawab Reza.


Bersambung...


__ADS_2