
Denting sendok yang beradu dengan piring, menjadi satu-satunya suara yang terdengar di ruang makan. Aku, Mayra, dan Daniel, sedang makan siang bersama. Entah karena terlalu menikmati makanan yang tersaji, atau karena ada alasan lain, Daniel dan Mayra sama sekali tak membuka suara. Aku pula ikut diam, aku terus mengunyah makananku sambil sesekali melirik ke arah mereka.
Mayra terlihat lebih tenang, tidak seperti Daniel yang jelas gugup dan salah tingkah. Berkali-kali ia menatapku, dan selalu gelagapan saat tahu bahwa aku meliriknya.
"Apa setelah ini kalian langsung berangkat?" tanya Mayra, memecah kekosongan.
"Iya," jawab Daniel, singkat.
"Kamu sudah mencari tempat yang tepat untuk Kirana?"
Kulihat Mayra menatap Daniel, namun Daniel sama sekali tak membalas tatapannya.
"Sudah," jawab Daniel.
"Ra, nanti kirimkan alamat lengkapmu, ya. Biar aku juga bisa mengunjungimu." Mayra berkata sembari menoleh dan menatapku.
"Iya." Aku mengangguk.
Aku segera melahap sesuap nasi yang masih tersisa di piring. Lantas aku beranjak dan pamit undur diri, dengan alasan mengganti baju agar Daniel tidak terlalu lama menunggu. Namun sebelum pergi ke kamar, aku terlebih dahulu berdiri di balik dinding penyekat. Aku berharap, Mayra dan Daniel saling berbincang, agar aku tahu apa yang mereka sembunyikan di belakangku.
Sekitar dua menit menunggu, aku mulai mendengar suara Daniel. Aku semakin menajamkan indera pendengaran, aku tak ingin melewatkan barang sepatah kata pun.
__ADS_1
"Aku tidak tahu apa saja yang kamu katakan pada Kirana, tapi satu hal yang harus kamu tahu, Mayra. Jangan pernah ikut campur urusanku, paham!"
Aku mengernyitkan kening, masih kurang paham dengan maksud Daniel. Dari kata-kata dan nada bicaranya, aku mulai ragu jika mereka menjalin hubungan. Namun aku tetap yakin, jika Mayra tahu sesuatu tentang Daniel.
"Bagaimana bisa aku diam dan tidak ikut campur. Kamu sudah menghancurkan kami, Daniel."
Aku membuka mulut lebar-lebar, aku sangat kaget mendengar jawaban Mayra. Menghancurkan seperti apa kira-kira. Mayra menyebut kata 'kami', itu artinya yang dimaksud adalah aku dan dia. Mungkinkah Mayra juga___?
Kuusap wajahku dengan kasar, kucoba mengontrol emosi yang hampir hilang kendali. Mataku mulai berkaca-kaca, terlalu takut menyadari kenyataan jika kekasih dan sahabat berkhianat.
Kendati hati teriris sakit, aku tetap berdiri di tempat semula. Menanti apa yang mereka perbincangkan selanjutnya. Namun hingga beberapa menit berlalu, aku tak juga mendengar suara mereka. Aku menyerah dan beranjak dari tempatku. Aku menuju kamar dan bersiap-siap pergi dari rumah Mayra.
________
"Kirana!"
"Hmmm," gumamku tanpa menoleh.
"Kamu kenapa sih, kok dari tadi diem terus? Kamu masih marah ya sama aku?" Daniel bertanya sembari menggenggam jemariku.
Gimana nggak marah, kamu saja menyembunyikan hal penting dariku. Aku sudah kehilangan masa depan, hanya demi menuruti keinginanmu. Kamu pikir perasaan ini hanya mainan, Daniel. Berengsek kamu! Dasar lelaki tidak punya hati!
__ADS_1
Ingin sekali aku melontarkan umpatan itu di depan wajahnya. Namun sayang, nyaliku terlalu ciut untuk melakukannya. Alhasil, umpatan itu hanya terpendam dalam batin.
"Kirana!"
"Tidak," jawabku singkat.
"Percuma aku terus mendesakmu, Niel, kamu tidak akan mau mengaku. Jadi aku akan mencari tahu sendiri, apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dariku," batinku.
"Maafin aku, ya. Lain kali aku janji, tidak akan mengecewakan kamu lagi."
Kurasakan sentuhan Daniel mengusap puncak kepalaku, namun meski demikian, aku enggan menjawab ucapannya.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Daniel melambatkan laju mobilnya, dan akhirnya berhenti tepat di depan rumah minimalis bercat kuning. Di sebelahnya, ada butik yang cukup besar dan mewah.
Aku mengernyitkan kening sambil menilik butik yang berdiri kokoh di hadapan. Kupastikan jika aku tidak salah mengenali. Tiga tahun silam, aku pernah masuk ke sana dan membeli sebuah gaun yang sekarang pun masih ada.
"Kita sudah sampai." Ucapan Daniel membuyarkan lamunanku. Memaksaku untuk menoleh dan menatap ke arahnya.
"Niel, kenapa kamu membawaku ke sini? Kamu tahu 'kan ini tempat siapa?" tanyaku dengan cepat.
"Iya, aku tahu." Daniel menjawab sembari mengulas senyum tipis. Aku tidak tahu apa maksud dari senyum itu.
__ADS_1
Bersambung...