Noda

Noda
Perintah Ke Bandung


__ADS_3

Empat hari setelah bertandang ke Kota Bandung, Nadhea berencana pergi ke Kota Malang—hendak menemui Kaivan dan membicarakan kasus Arsen. Kemarin, Nadhea telah berdiskusi dengan ayahnya. Awalnya, pria itu menolak, tetapi setelah diberi penjelasan panjang akhirnya meluluskan keinginan Nadhea.


Sebelum pergi ke Malang, Nadhea terlebih dahulu menghubungi Kaivan—memastikan bahwa kedatangannya tidak menggangu pekerjaan Kaivan. Namun, hingga tiga kali panggilan tidak ada jawaban. Entah ke mana lelaki itu. Akhirnya, Nadhea berhenti menghubungi dan berjalan menuju teras rumah. Dia duduk di sana menikmati angin malam sembari memandangi bulan separuh.


"Masih nggak nyangka, beban hidupku akan selesai dalam satu waktu. Aku bisa bebas dan bisa merasakan kasih sayang Papa. Semoga, Kaivan nanti tidak keberatan membantu Mas Arsen. Aku pun ingin dia bahagia, kembali menjadi pebisnis besar yang disegani banyak orang." Nadhea membatin sambil tersenyum lebar.


Ketika dirinya masih larut dalam lamunan, tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata Kaivan yang menelepon. Sembari menghela napas lega, Nadhea mengusap tombol hijau.


"Hallo, assalamu'alaikum," sapa Nadhea.


"Wa'alaikumussalam." Kaivan menjawab dari seberang sana. "Sorry, aku tadi masih di jalan, jadi nggak sempat angkat telpon kamu," sambungnya.


"Iya, nggak apa. Mmm, sekarang udah sampai rumah kah?" tanya Nadhea.


"Udah, ini lagi di kamar. Tadi ... ada penting atau sekedar tanya kabar?"


"Sebenarnya ada sedikit penting, tapi nggak terlalu penting juga." Nadhea sedikit tertawa ketika melontarkan jawaban.


"Ada apa?" Kaivan bertanya ramah.


"Mmm, besok kamu kerja?" Nadhea balik bertanya.


"Kerja, tapi nggak full. Paling cuma setengah hari."


"Empat hari lalu aku ke Bandung, menemui Mas Arsen. Kami sempat bicara, mmm baik-baik sih. Rencananya, tiga hari lagi aku ke sana. Tapi sebelum itu, aku pengin bicara dulu sama kamu. Kalau kamu ada waktu, besok aku mau ke sana, sekalian mau berterima kasih sama keluarga di sana, udah bersedia menolong Papa," jawab Nadhea dengan panjang lebar.


"Hubungan kami dengan Om Wira cukup baik, jadi nggak ada alasan untuk tidak membantu, Nadhea. Tapi, kalau kamu mau ke sini, boleh banget. Aku ada waktu kok, kamu datang aja, atau kalau misalkan butuh dijemput, aku juga bisa."


"Nggak perlu, aku bisa sendiri, Bang," sahut Nadhea.


"Baiklah. Mmm, kalau boleh tahu kamu pengin bahas apa sama aku? Apa ... Arsen menyulitkanmu?" tanya Kaivan.

__ADS_1


"Enggak. Dia baik-baik aja, kok, nggak macem-macem." Nadhea menjawab cepat. "Bahkan, dia lebih baik dari yang kuduga," sambungnya dalam hati.


"Oh, syukurlah."


"Iya."


"Oh ya, Nadhea, aku tadi cek novelmu kok nggak ada?" tanya Kaivan. Sejak kemarin, dia berencana membaca ulang novel Sayap-Sayap Patah. Namun, novel itu sudah menghilang dari aplikasi.


"Iya, novelku udah dihapus," jawab Nadhea.


"Kenapa? Lagi ada masalah, ya?" tanya Kaivan dengan cepat.


"Enggak, enggak. Semua baik-baik aja, aku sendiri yang minta hapus. Di penerbit juga aku minta berhenti edar. Ya, gimana ya, sekarang udah ada beberapa orang yang tahu kalau Grey itu aku, sedangkan novel itu, ceritanya nyata, aku nggak mau orang-orang tahu tentang aib orang terdekatku. Jadi, biarkan saja Grey dan Sayap-Sayap Patah berhenti di sini," ungkap Nadhea yang lantas membuat Kaivan terkejut.


"Tapi, performa novel itu sangat bagus, pun dengan branding-nya Grey. Peluang kamu untuk meraup keuntungan dari sana sangat banyak. Apa nggak sayang, Nadhea?"


"Sekarang keadaan udah membaik, Bang Kai. Papa udah sayang sama aku dan Mas Arsen juga udah berhenti mengekang. Jadi, sudah tidak ada alasan untuk mengumbar aib mereka, walau hanya dalam tulisan yang berlabel fiksi. Apa pun yang pernah terjadi, sudah kuanggap berlalu. Sekarang, aku ingin menjaga nama baik mereka," terang Nadhea.


"Rencana Tuhan adalah yang paling indah. Aku percaya rezeki tak akan ke mana. Kalau memang jalanku ada di novel, pasti ada peluang lagi meski aku menulis dengan akun baru. Tapi jika tidak, berarti ada jalan lain untukku mencari rezeki," sambung Nadhea sebelum Kaivan bicara.


"Pemikiran yang sangat bijak. Aku harus belajar banyak darimu," ucap Kaivan.


Nadhea tertawa, "Jangan sembarangan! Aku tidak lebih baik dari kamu."


"Tapi Nadhea, bukankah novelmu itu sudah kontrak, ya?" Kaivan kembali pada topik.


"Iya."


"Lalu?"


"Alhamdulillah, masih diberi kemudahan. Aku ada sedikit tabungan dan kebetulan cukup untuk membayar kompensasi," jawab Nadhea dengan perasaan getir.

__ADS_1


Sebelum Arsen berubah kejam, Nadhea sempat membuat rekening dan hasil dari menulis ia simpan di sana. Beruntung, Arsen tidak tahu tentang itu. Namun, ketika menarik novelnya dari peredaran, Nadhea harus mengikhlaskan hampir semua tabungan. Kini, hanya ada sedikit sisa yang entah cukup atau tidak untuk memenuhi kebutuhan selama satu bulan.


"Nggak boleh sedih lagi. Hanya uang, kan? Allah selalu ada. Pasti ada jalan untuk mendapatkan rezeki," batin Nadhea.


Di sisi lain, Kaivan juga larut dalam batinnya sendiri. Untuk kesekian kali dia dibuat kagum dengan sifat Nadhea yang amat istimewa.


"Sekarang aku makin percaya kalau dia dan Luna beda ibu. Ahh, andai saja Luna bisa seperti dia," batin Kaivan.


_______________


Keesokan harinya, Nadhea bangun lebih pagi dari biasanya. Dia memasak dan kemudian siap-siap pergi ke Malang. Nadhea melakukannya dengan cepat. Bahkan, ketika makan pagi dia sudah rapi dalam balutan jeans panjang dan kaus putih yang dipadukan dengan balzer hitam.


"Nadhea, maaf ya Papa nggak bisa antar kamu. Hari ini ada janji dengan relasi. Mau batalin secara sepihak takutnya mereka kecewa. Kita lagi butuh mereka, Nak," ucap Prawira dengan penuh sesal.


"Nggak apa, Pa, aku bisa naik travel." Nadhea tersenyum.


"Maafkan Papa, Nak. Setelah sekian lama dinomorduakan, sekarang kamu malah merawat Papa yang miskin. Nggak ada pelayan yang bantu masak dan ngurus rumah, nggak ada mobil untuk kamu jalan-jalan, juga ... nggak ada banyak uang untuk kamu bersenang-senang. Papa___"


"Pa." Nadhea menggenggam tangan ayahnya. "Aku senang bisa masak dan nyuciin baju Papa, juga membantu menyiapkan keperluan Papa. Sejak aku bayi Ibu sudah tiada, aku nggak bisa berbakti pada beliau. Jadi, aku akan sangat beruntung kalau bisa berbakti sama Papa. Jangan membahas mobil atau uang lagi ya, Pa. Selama masih ada mobil untuk Papa bekerja, itu sudah cukup, toh aku juga jarang keluar. Dan soal uang ... bagiku bersenang-senang bukan hanya tentang uang. Makan pagi bareng Papa misalnya, ini sangat menyenangkan," sambungnya.


Bibir Prawira bergetar. Dia tak bisa berkata-kata ketika menyaksikan sikap Nadhea yang luar biasa baiknya. Entah dari mana Nadhea mendapatkan sifat itu, keturunan ibu atau mungkin jalan hidup yang berliku.


Sebelum Prawira membuka suara, Nadhea sudah melepaskan genggaman karena ponselnya berdering. Ternyata kepolisian Bandung yang menghubungi.


"Hallo," sapa Nadhea.


"Bu Nadhea, ada pesan dari suami Anda. Beliau ingin bertemu dengan Anda hari ini."


"Hari ini?"


"Iya, Bu. Kami harap Anda bisa meluangkan waktu, karena kami juga ingin menyampaikan sedikit hal terkait kasus yang menjerat Pak Arsen."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2