Noda

Noda
Beri Aku Waktu Dua Bulan


__ADS_3

Kutatap wajah Daniel yang semakin menunduk. Bintik-bintik keringat tampak membasahi kening dan pelipisnya. Aku menghela napas panjang, sedikit-banyak aku bisa menebak apa yang ia rasakan. Ragu dan bimbang.


"Aku berubah pikiran atau tidak, itu tergantung alasanmu," ucapku, tanpa mengalihkan pandangan.


"Apa maksudmu?" Daniel mengangkat wajahnya. Untuk sekian detik, mata kami saling beradu.


"Kamu ingin memeluk agama Islam, karena meyakini agama itu, atau karena mencintai diriku?" tanyaku dengan serius.


Daniel tersenyum kaku, lantas ia mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menghela napas panjang, sebelum menjawab pertanyaanku.


"Apa itu penting?" Daniel balik bertanya.


"Sangat penting," jawabku.


"Apakah lebih penting dari kebahagiaan Dara?" tanya Daniel dengan cepat, yang lantas membuatku menatapnya semakin lekat.


"Kirana, kita saling mencintai, dan kita juga sudah memiliki buah hati. Aku rela ikut keyakinanmu, demi kebahagiaan kita. Aku ingin menjaga kalian berdua. Aku ingin memberikan masa depan yang cerah untuk Dara. Apa alasanku ini masih kurang tepat?" sambung Daniel.


Kupejamkan mata ini dengan rapat, kutata hati untuk merangkai kata yang tepat. Daniel, sebenarnya dia lelaki yang baik, meskipun pernah salah dalam mengendalikan hasrat. Ahh, tapi bukan murni kesalahannya, aku pun juga ikut andil salah dalam hal itu. Mungkin saat ini dia sedang kalut, jadi tak bisa berpikir dengan jernih.


"Daniel, dengarkan aku." Kutarik napas dalam-dalam, sebelum mengutarakan uraian panjang.


"Mana boleh kamu meninggalkan Tuhan demi cinta dan masa depan, sedangkan Tuhan adalah pemilik cinta dan kehidupan yang sesungguhnya. Tuhan yang maha membolak-balikkan hati, Tuhan pula yang menggariskan takdir. Apa kamu yakin, cinta dan masa depan akan tetap indah, jika kamu saja meninggalkan Sang Pemiliknya?" Kujeda kalimatku sembari menunggu jawaban Daniel, namun dia tetap bergeming.


"Manusia hanya makhluk ciptaan Tuhan, tidak seharusnya kita mencintai makhluk lain, melebihi rasa cinta kita pada Sang Pencipta. Hati manusia mudah berubah, tapi Tuhan, dia selalu bersama kita. Masihkah kamu ingin meninggalkannya demi cinta? Renungkan itu, Daniel," sambungku, masih dengan kalimat panjang.


"Lalu apa yang kamu mau, Kirana? Kamu seolah tidak memberikan kesempatan untukku. Apa memang perasaan itu sudah pudar? Apa kamu sudah tidak mencintaiku dan tidak mau memikirkan masa depan Dara, iya?" Suara Daniel naik satu oktaf.


"Rasa cinta itu masih ada, Daniel. Asal kamu tahu, saat ini aku sedang berusaha keras meredam keinginan untuk memelukmu seperti dulu. Rasa rindu ini teramat menyiksa, menuntut balas saat kamu hadir di depan mata. Tapi ... kesalahan di masa lalu memberiku banyak pelajaran, membuka pintu hatiku untuk lebih dekat dengan Tuhan. Aku mau menerima kamu, jika kamu benar-benar menerima keyakinanku. Nanti, setelah hatimu percaya pada Tuhanku dan membenarkan ajaran dalam agamaku, aku bersedia menjadi makmummu. Aku akan menikah denganmu, berbakti padamu, dan menghabiskan sisa waktuku bersamamu," ungkapku padanya. Aku bernapas lega karena berhasil mengungkapkan semua isi hati.


"Kenapa kamu memberikan syarat yang seberat itu, Kirana?" tanya Daniel dengan sangat pelan, nyaris seperti bisikan.


"Karena aku ingin pernikahan yang suci, pernikahan yang benar-benar diridhoi Ilahi. Aku sedang berusaha menapaki jalan yang benar, aku butuh suami yang benar-benar siap menjadi imam," jawabku.


Cukup lama Daniel bergeming. Dia menunduk dengan pandangan mata yang kosong. Secangkir kopi hitam yang kusuguhkan, dibiarkan dingin tanpa diteguk setetes pun. Berkali-kali aku memanggil namanya, namun tak ada sahutan sedikit pun darinya.


Sehancur itukah dia?


"Aku mencintaimu, Kirana, sangat mencintaimu," bisik Daniel dengan gemetaran.

__ADS_1


Dadaku sesak, seakan tak ada ruang untuk bernapas. Setetes demi setetes buliran bening, berjatuhan dari sudut netranya. Hatiku terkoyak perih. Luka ini jauh lebih sakit, dari saat dia bersama Nindi. Setulus itu cinta kami, namun terhalang dinding pemisah yang teramat besar. Oh Tuhan, mengapa harus serumit ini?


Tanpa terasa, air mataku pula ikut menetes. Cinta yang masih jelas ada, amat menyiksa dan meninggalkan luka yang menganga. Perasaan dan keadaan sedang berada di titik persimpangan, membuat hatiku retak dan kepingannya pun terserak.


"Ya Allah, Engkau yang Maha tahu bagaimana perasaan hamba. Peliharalah hati hamba dari salah dan khilaf, jangan biarkan hamba terjatuh dalam kubang dosa untuk yang kesekian kali," doaku dalam hati.


"Beri aku waktu dua bulan, aku ingin mengenal keyakinanmu." Daniel berkata sembari mengusap wajahnya.


"Aku menunggumu. Aku berharap kamu bisa mencintai keyakinanku, seperti kamu mencintaiku," jawabku dengan penuh harap.


Aku tidak tahu ini salah atau tidak. Aku sangat berharap perasaan ini secepatnya berujung. Selama ini aku berusaha melupakan, namun gagal. Sekarang, aku sangat berharap dia mau beriman pada Tuhanku.


"Ya Allah, semoga dia menjadi mu'allaf yang tulus," ucapku dalam hati.


_________


Satu minggu kemudian.


Gemerisik angin yang berembus di antara dedaunan, bak bisikan alam yang menenangkan. Di atas ayunan yang bergerak pelan, kupandangi sosok mungil yang hampir terlena dalam tidurnya.


Dari waktu ke waktu, wajahnya semakin serupa dengan ayahnya. Manik bening yang kecokelatan, hidung mancung, serta rambut hitam yang bergelombang. Setiap kali menatapnya, aku teringat dengan sketsa wajah Daniel yang kerap kali muncul dalam ruang rindu. Ahh cinta, sungguh ia tak punya malu.


"Bantu Bunda berdoa ya, Nak. Semoga ayahmu berhasil memenuhi syarat yang Bunda ajukan, agar kelak kita bisa hidup bersama-sama." Kuusap pipinya yang lembut dan lunak.


"Kirana."


Aku menoleh dan menatap Bu Fatimah yang sedang berjalan ke arahku.


"Dara sudah tidur?" tanya Bu Fatimah.


"Sudah, Bunda," jawabku.


"Mmmm."


"Ada apa, Bunda?" Kutatap wajah Bu Fatimah yang sepertinya hendak mengatakan sesuatu.


"Sebenarnya ... Bunda mau minta tolong," jawab Bu Fatimah, tampak ragu.


"Minta tolong apa, Bunda?" tanyaku pada beliau.

__ADS_1


"Kamu ingat nggak sama Tante Nia, yang punya restoran di dekat SMA Tunas Bangsa?" Bu Fatimah menatapku.


"Ingat Bunda, kenapa?" Aku balik bertanya.


"Kemarin 'kan dia pesan kosmetik sama Bunda, suruh kirim hari ini, dan Bunda sudah oke. Tapi barusan aja, keponakan Bunda telfon, katanya mau ke sini. Mau Bunda tinggal ya nggak enak, nanti dia kecewa. Soalnya kalau ke tempat Nia itu pasti lama. Dia selalu mengajak makan bersama sambil bincang-bincang, aku selalu gagal menolak ajakannya," jawab Bu Fatimah.


"Ya sudah, Bunda di rumah saja. Biar aku yang ngirim kosmetiknya." Aku berkata sambil tersenyum. Bu Fatimah seakan enggan mengutarakan niatnya.


"Kamu nggak capek?" tanya Bu Fatimah.


"Enggak, Bunda." Aku menggeleng. "Ya sudah, aku tidurin Dara dulu ya, Bunda, sekalian ganti baju," sambungku.


"Iya, makasih ya, Ra."


"Iya, Bunda." Aku beranjak turun dari ayunan. Lantas kami berdua melangkah memasuki rumah.


____________


Kuhentikan motorku di halaman restoran, di antara mobil-mobil mewah yang berjajar rapi. Tanpa peduli dengan keadaan sekitar, aku langsung melepaskan helm dan bergegas masuk menemui Tante Nia.


"Tante Nia, ada?" tanyaku pada salah satu karyawan yang sedang sibuk bekerja.


"Bu Nia baru saja keluar, saya tidak tahu beliau mau ke mana. Mbak siapa, ya?"


"Saya Kirana, anaknya Bu Fatimah. Saya ke sini untuk mengantarkan ini." Aku menunjukkan kantong plastik hitam yang berisi kosmetik.


"Saya tidak tahu beliau lama apa tidak, tapi ... jika Mbak mau, silakan tunggu saja," katanya padaku.


"Tidak usah, Mbak, saya titipkan saja, ya. Tolong nanti berikan sama Tante Nia, saya pamit dulu." Aku berucap sambil menyerahkan kantong plastik yang kubawa. Kemudian aku melangkah keluar.


"Kirana," panggil seseorang, yang lantas membuat langkahku terhenti.


Aku mendongak dan menatap seseorang yang berdiri tepat di hadapanku. Lelaki berperawakan tinggi yang kadar ketampanannnya di atas rata-rata. Dia mengulas senyum manis. Sikapnya kali ini sangat kontras dengan terakhir kali kami bertemu.


"Jangan menatapku seperti itu, nanti jatuh cinta lho," ucapnya secara tiba-tiba.


Bersambung...


Terima kasih banyak untuk semua doanya, maaf belum bisa balas satu-satu.

__ADS_1


Hari ini, Noda mulai up lagi. Semoga selalu berkenan di hati Kakak-kakak semua.


Terima kasih untuk dukungannya.


__ADS_2