
Lelaki bertubuh tegap dengan rahang yang ditumbuhi rambut-rambut halus tersenyum miring. Lantas melangkah maju dan mengikis jarak dengan Luna. Melihat Luna melangkah mundur, senyumannya makin melebar. Sembari melipat tangan di dada, lelaki yang bernama Rega kembali bicara.
"Yang tunangan itu rekanku. Jadi, apa salah jika aku datang?" Rega menaikkan kedua alisnya. "Tapi, kok kamu sangat kaget, Gadis Kecil? Bukan karena ingat dengan malam pertama kita, kan?" sambungnya diiringi tawa renyah.
"Diam! Jangan pernah membahas masa lalu!" Luna memelotot tajam.
Dia tak habis pikir mengapa Rega ada di sana. Usai putus dengannya, lelaki itu pergi ke Ibu Kota bersama kekasihnya. Kalaupun pulang, seharusnya ada di Surabaya, bukan di Malang. Apakah hubungan Rega dengan sang pemilik acara benar-benar dekat, atau justru Rega sedang menyimpan maksud lain? Entahlah, Luna sama sekali tak bisa menebak.
"Katamu itu sangat indah, kenapa tidak boleh dibahas?" Rega terkekeh-kekeh.
"Dasar laki-laki berengsek!" umpat Luna.
Dia sangat kesal karena ucapan Rega mengingatkannya pada masa silam, ketika dirinya dengan rela hati menyerahkan kesucian dan harga diri. Dalam beberapa bulan lamanya, Luna terlibat hubungan terlarang, padahal saat itu dia masih menjadi mahasiswi.
Sebenarnya, Rega tidak memiliki banyak kelebihan. Walau pekerjaannya memang mapan, tetapi tampang tidak terlalu rupawan, pun dengan usia, Rega jauh lebih dewasa darinya. Hanya saja, Luna merasa bangga karena lelaki itu adalah kekasih Nadhea. Berhasil merebutnya merupakan satu bukti bahwa dirinya lebih baik dari Nadhea, begitulah pikir Luna. Namun, siapa sangka bahwa lelaki yang telah diberi segalanya malah pergi bersama wanita lain, meninggalkan Luna dan semua noda yang ditorehkannya.
__ADS_1
"Aku nggak berengsek. Kan kamu sendiri yang bersedia melayaniku," sahut Rega tanpa perasaan bersalah.
"Aku sudah melupakan masa itu dan aku pun sudah menghapus semua kenangan tentangmu. Jadi, jangan pernah menemuiku lagi!" Luna memicing sambil melemparkan tatapan tajam. Lantas, membalikkan badan dan siap pergi meninggalkan Rega.
"Aku penasaran, bagaimana tanggapan Kaivan setelah tahu kalau kamu sudah tidak suci," ujar Rega yang lantas membuat langkah Luna terhenti.
"Jangan ikut campur urusanku!" Luna menolah sekilas dan membentak Rega.
"Oke, tapi___" Rega kembali mendekati Luna, "___aku butuh uang," bisiknya tepat di telinga Luna.
"Apa maksudmu?"
"Jangan mimpi! Aku tidak akan pernah memberikan sedikit pun uang pada lelaki berengsek seperti kamu!" kata Luna masih dengan intonasi tinggi.
"Jangan sombong, Gadis Kecil. Takutnya, nanti menangis kalau kehilangan calon suami," ancam Rega.
__ADS_1
"Aku bukan anak kecil yang bisanya diam dan menangis. Jangan kira ancamanmu membuatku takut dan lantas mau diperas olehmu. Ingat, aku cerdas! Aku bisa membalikkan keadaan jika kamu berani macam-macam denganku. Paham!" bentak Luna.
Sebelum Rega menyahut, Luna sudah berpaling dan kembali melanjutkan langkahnya. Niat awal sekadar keluar untuk mengusir kebosanan, tetapi kini Luna langsung menuju mobil dan menenangkan diri di sana. Kendati beberapa detik lalu mampu bicara tegas, tetapi semua itu hanyalah gertakan. Jauh di dalam hatinya, Luna sangat khawatir Rega akan berbuat macam-macam. Dia tidak akan sanggup jika kehilangan Kaivan.
"Tidak mungkin, Kaivan tidak akan percaya dengan ucapan Rega. Selama ini dia sangat mencintaiku, pasti mau mendengarkan kata-kataku. Terlebih lagi, sekarang aku juga perawan. Dia tidak akan tahu kalau ini palsu," ucap Luna menenangkan diri sendiri.
Namun, bukan ketenangan yang dia dapat, melainkan kegelisahan yang makin menjadi. Mengingat hubungannya dengan Kaivan yang sedikit hambar, bukan mustahil akan kandas bila ada masalah lain.
"Apa aku harus meminta maaf pada Nadhea dan memperbaiki hubungan dengannya? Tapi, jika itu kulakukan, besar kemungkinan hubungannya dengan Mama dan Papa juga membaik. Lantas, dia kembali menjadi bagian keluarga dan mendapatkan aset Papa." Luna menggeleng cepat. "Tidak! Aku tidak akan melakukan itu! Aset Papa adalah milikku, Nadhea tidak boleh memilikinya sedikit pun," sambungnya.
Luna sibuk berpikir, sampai tak sadar bahwa Rega menatapnya dari kejauhan—lewat kaca mobil yang sedikit terbuka. Sembari tersenyum miring, Rega menyusun rencana liciknya.
"Aku tidak bisa hidup dalam kekurangan, tapi bisnisku tidak seberuntung punyamu. Jika kamu tidak bisa memberikannya dalam wujud uang, maka kamu akan menyerahkannya dalam bentuk aset. Luna, kamu tidak akan bisa lepas dariku," batin Rega tanpa mengalihkan tatapan.
Meninggalkan Luna adalah tindakan yang cukup disesali, tetapi semua sudah telanjur. Dulu, dia tergoda wanita lain yang jauh lebih cantik dan lebih kaya. Namun, sejak bisnisnya bermasalah, wanita itu pergi dan tidak peduli lagi dengannya. Kini, satu-satunya jalan untuk memperbaiki ekonomi adalah Luna. Maka dari itu, Rega menyusun segala rencana untuk mendapatkan keuntungan dari Luna.
__ADS_1
"Dari sekian banyak wanita yang pernah kukenal, sebenarnya hanya Nadhea yang punya kepribadian baik. Tapi, sayang sekali kehidupannya kurang beruntung. Jadi, dengan terpaksa aku harus berhenti mencintai. Dunia sangat keras, tanpa uang napas akan kandas. Itu sebabnya, aku tidak mau bodoh karena cinta," sambung Rega, lagi-lagi dalam batinnya.
Bersambung...