Noda

Noda
U—3


__ADS_3

Aku menggeliat sambil menarik selimut hingga menutupi dada. Dari atas ranjang, kupandangi lekuk tubuh Kak Darren yang sedang menyisir rambut. Hari ini, dia akan pergi ke Kota Batu untuk memeriksa pembangunan proyek.


Aku hanya bisa menatap kecewa karena gagal ikut ke sana, bukan karena apa-apa, melainkan kondisi badanku yang kurang sehat.


Sejak kemarin kepalaku pening, badan nyeri, dan perut pun sesekali melilit. Entah apa penyebabnya, pola makan yang kurang teratur atau kompensasi untuk Kak Darren yang sedikit berlebihan. Ah, padahal kue brownis itu ada karena sikapnya yang tidak mau terbuka. Namun, justru aku yang membayar kompensasi. Benar-benar tidak adil, tetapi anehnya, aku juga menyukai ketidakadilan itu.


"Sayang, kamu bener nggak apa-apa aku tinggal?" Kak Darren bertanya sambil melangkah ke arahku.


"Nggak apa-apa, aku cuma butuh istirahat aja kok. Lagi pula ... juga ada Bunda di rumah," jawabku.


Kak Darren duduk di sampingku sambil mengusap keningku "Kamu masih panas," ucapnya.


"Tapi pusingnya udah berkurang kok." Kuulas senyum lebar agar dia tidak khawatir. Pekerjaan ini penting, jangan sampai ditinggalkan hanya demi aku.


"Ke rumah sakit aja ya, Sayang," bujuknya. Entah sudah berapa kali dia mengajakku ke sana.


"Nggak usah, Kak. Hanya pusing biasa, nanti juga mendingan."


Kak Darren membuang napas kasar, "Kalau aku pulang nanti masih belum baikan, harus mau kuajak ke rumah sakit."


"Iya, Kak."


Senyumku makin lebar ketika tangannya mengusap-usap pipiku, hangat dan menenangkan. Andai saja boleh egois, aku tak akan mau ditinggal walau hanya sedetik. Aku ingin dia terus ada di sampingku, lantas menyentuhku dan memelukku dengan erat. Ahh, betapa damainya dunia dengan adanya dia.


"Maafkan aku ya, Sayang. Kemarin ... terlalu rindu, jadi ... sulit dikendalikan," ucapnya beberapa saat kemudian.


"Nggak yakin kalau beneran rindu. Buktinya, kemarin-kemarin dicuekin," godaku.


"Sayang, aku nggak bermaksud bergitu. Aku ... aku___"


"Sengaja 'kan biar aku nggak bisa ikut ke Batu?" pungkasku dengan cepat.


"Sayang, nggak begitu. Kamu jangan salah paham. Demi Allah aku nggak ada niat seperti itu." Kak Darren terlihat cemas. "Baiklah, aku tunda saja pekerjaan ini. Aku akan ke sana setelah kamu sembuh," sambungnya.


"Kalau udah niat jangan ditunda-tunda, nggak bagus," ujarku.

__ADS_1


"Lebih bagus daripada meninggalkan istri yang sedang sakit." Kak Darren menyahut dengan cepat.


"Aku hanya bercanda, Kak, jangan dikira serius," ucapku dengan sedikit tawa.


Kak Darren menatapku tanpa kedip, entah apa yang sedang dipikirkannya.


"Kak!" panggilku karena dia tak jua bicara.


"Sayang, katakan dengan jujur! Kamu mengizinkan aku pergi atau tidak?" tanya Kak Darren tanpa mengalihkan pandangan.


Aku merasa geli menatapnya, tak menyangka bila dia akan sekhawatir ini. Lantas, aku bangkit dan duduk di hadapannya. Kemudian, kugenggam tangannya dengan erat.


"Pergilah, aku tadi hanya bercanda, Kak. Aku tahu ini pekerjaan penting, jadi jangan ditunda-tunda. Aku masih bisa ikut di lain waktu," ucapku dengan serius.


"Kamu ... beneran?"


"Iya."


"Baiklah. Selama di sana nanti, aku akan video call kamu agar kamu tahu apa yang kulakukan di sana," kata Kak Darren yang lantas membuatku tertawa lepas.


"Tapi, Sayang___"


"Seriuslah dalam bekerja dan aku akan istirahat di rumah," pungkasku.


Kak Darren menghela napas panjang, "Baiklah. Nanti jika kamu sudah baikan, aku akan mengajakmu ke sana."


Aku tersenyum dan mengangguk pelan. Lantas, kami saling memeluk sebelum dia beranjak pergi.


_______________


Dua bulan kemudian.


Sejak mengetahui bisnis Kak Darren waktu itu, sampai saat ini aku belum menginjakkan kaki di sana. Rancangan proyek sekadar kutatap lewat ponsel ketika Kak Darren video call. Setiap kali terselip niat untuk ikut ke sana, selalu saja ada kendala, entah itu sakit, keberangkatan yang mendadak, atau bersamaan dengan acara di rumah Ibu.


Saat ini, proyek sudah hampir finish. Tinggal hitungan hari rumah-rumah yang berjajar sudah siap dihuni. Dari 47 unit, 30 di antaranya sudah terjual, 6 dalam penawaran, dan 11 lainnya masih belum diminati. Kak Darren dan Fahri terus meningkatkan promosi demi mencapai target.

__ADS_1


Hari ini, Kak Darren sedang senggang dan dia mengajakku ke sana. Namun, sebelum itu kami makan pagi terlebih dahulu sambil mendengarkan nasihat-nasihat Bu Fatimah perihal bisnis yang baru ditintis.


"Kirana, kok nggak dimakan?" tegur Bu Fatimah di sela-sela nasihatnya.


Aku tak menjawab dan sekadar tersenyum hambar. Entah mengapa akhir-akhir ini na*su makanku berkurang, bahkan berat badanku sampai menurun drastis.


"Kirana!"


"Entahlah, Bunda, hanya melihat saja sudah kenyang," ujarku.


"Kamu sakit, Sayang?" tanya Kak Darren.


"Enggak, Kak. Aku sehat, kok, tapi ... kayak males aja mau makan." Aku menjawab sambil menatap seonggok nasi yang sedari tadi tak kusentuh.


"Tapi kamu harus makan, Sayang. Kita akan menempuh perjalanan jauh, tidak baik jika perutmu kosong," kata Kak Darren.


"Nanti bisa makan di jalan, Kak. Aku bener-bener nggak lapar," jawabku.


"Kirana, boleh Bunda berpendapat?" Kali ini Bu Fatimah yang menimpali.


"I-iya, Bunda."


"Tolong jangan remehkan kesehatan. Satu bulan terakhir, kamu tidak enak makan dan sering sakit. Badanmu kurus dan wajah pun memucat. Kirana, kali ini tolong jangan menolak lagi! Periksakan dirimu ke dokter. Jangan sampai menyesal karena terlambat berobat, Kirana," kata Bu Fatimah.


"Ta-tapi, Bunda, aku tidak apa-apa. Aku tidak merasa sakit," protesku.


"Maaf, bukannya Bunda hendak menakut-nakuti. Bunda akan bicara ini karena sayang sama kamu. Kirana, almarhumah ibumu ada riwayat ... penyakit kanker," terang Bu Fatimah yang lantas membuatku tersentak.


"Bunda bicara fakta, jika kamu tidak percaya ... bisa tanyakan sendiri pada Mbak Ambar." Bu Fatimah menggenggam tanganku. "Itu sebabnya, Kirana, sejak jauh-jauh hari Bunda membujukmu ke rumah sakit. Bunda ingin melakukan yang terbaik untuk kamu," sambung beliau.


Aku tak bisa menjawab, nyaliku mendadak ciut setelah mendengar penuturan Bu Fatimah. Sebenarnya, aku pun merasakan sesuatu yang tidak beres dalam diriku, tetapi aku tak berpikir sejauh itu. Pasalnya, sedikit pun tak ada rasa sakit yang mendera, sekadar tidak lapar dan berat badan menurun.


"Ya Allah, tolong lindungilah hamba," batinku dengan gemetaran.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2