
Satu minggu setelah melamar Athreya, Kennan benar-benar membawa orang tuanya ke rumah Darren. Karena hubungan keluarga sudah terjalin dengan baik, juga perilaku Kennan yang tak diragukan lagi, maka Darren tak mempersulit urusan. Dia menerima pinangan Kennan untuk anak gadisnya.
Tak berhenti di situ saja, seminggu setelah menerima pinangan, Darren dan orang tua Kennan kembali bersua. Mereka membahas hari pernikahan karena Kennan dan Athreya sudah pasrah dengan keputusan orang tua. Hasil dari pembahasan, Athreya dan Kennan akan melangsungkan pernikahan dua bulan lagi—tepat pada hari yang direncanakan untuk pernikahan Kaivan dan Luna.
Karena rencananya akan menggelar pesta besar, maka persiapan sudah dimulai dari sekarang. Mulai dari memilih gaun, cincin, dan juga foto prewedding. Sedangkan untuk jalannya acara, mereka mempercayakannya kepada Beauty Wedding Organizer—WO tempat Kennan dan Kaivan bekerja.
Jika hal baik terjadi pada keluarga Kaivan, maka tidak demikian pada keluarga Nadhea. Karena terlalu lelah bekerja, Prawira jatuh sakit. Sempat dirawat di rumah sakit selama dua hari, tetapi memaksa pulang. Selain karena tabungan yang makin menipis, Prawira juga memikirkan pekerjaan yang masih menumpuk. Walau sudah ada sekertaris, tetapi dia kurang nyaman. Maklum, dalam hal ini Nadhea belum bisa diandalkan.
Belum tuntas ujian yang menimpa Prawira, Nadhea pun dihampiri kenyataan yang tak mengenakkan. Hari ini—dua minggu setelah dia menemui Arsen, David datang berkunjung. Kehadirannya membuat Nadhea berdebar, khawatir jika sesuatu yang sesuatu yang buruk sudah terjadi pada Arsen.
"Apa kabar, Nadhea?" sapa David ketika sudah duduk di ruang tamu.
"Saya baik, Pak." Nadhea tersenyum sekilas.
David adalah teman sekaligus orang kepercayaan Arsen. Meski mereka menjalankan bisnis yang berbeda, tetapi tak jarang saling bekerja sama. Keduanya sangat terbuka, saling membantu, dan saling percaya layaknya saudara.
"Jangan terlalu formal! Aku adalah teman suamimu, jadi tidak perlu sungkan. Panggil saja David, tidak usah pak," ujar David.
Sejak dulu, lelaki itu enggan disapa formal. Nadhea adalah istri Arsen, jadi dia pun menganggap Nadhea seperti teman. Namun, Nadhea tak bisa demikian. Kedudukan David cukup tinggi, sudah seharusnya ia hormati.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, saya sudah terbiasa." Nadhea menunduk sambil meremas ujung dress. "Mmm, bagaimana kabar Mas Arsen?" sambungnya.
David terdiam cukup lama, membiarkan keheningan yang menjawab pertanyaan Nadhea. Sampai akhirnya, wanita itu tidak sabar dan kembali bicara.
"Pak____"
"Melihatku datang ke sini, seharusnya kamu sudah tahu bagaimana kabar Arsen. Aku tahu kamu tidak bodoh, Nadhea," pungkas David.
Nadhea tersentak. Mendadak jantungnya berdetak cepat, juga mata yang mulai memanas. Perlahan pandangannya memburam, banyak air yang menggenang di matanya.
"Nggak mungkin!" Nadhea menggeleng. "Mas Arsen pasti masih hidup," sambungnya dengan air mata yang mulai menetes.
Nadhea menangis dan berulang kali membatin, mengharap semua ini sekadar penggalan mimpi buruk. Meski kenyataan ini sudah dibayangkan sejak jauh hari, tetapi tetap saja Nadhea merasa sedih. Dia belum siap kehilangan seseorang yang pernah ada dalam hidupnya—walau kenangan manis nyaris tertimbun kenangan pahit.
"Nadhea, aku tahu kematiannya bukan hal yang baik untuk kita, aku pun merasa sedih dan kehilangan. Tapi, tetap hidup juga bukan hal yang terbaik, entah untuk kamu atau untuk dia sendiri." David menjeda kalimatnya sembari menyulut batang rokok.
"Kamu tahu akibatnya akan sefatal apa jika tempo hari Kaivan tidak datang? Bukan tidak mungkin itu terjadi lagi di kemudian hari, dan kita tidak bisa memastikan pertolongan akan kembali datang. Melihat orang yang kita cintai tiada karena perbuatan kita, menurutmu akan sebesar apa penyesalannya?" sambung David.
Kini, berganti Nadhea yang diam.
__ADS_1
"Terkadang memang keterpurukan yang membuat seseorang sadar akan hal baik. Sejak dikurung dan dipastikan akan kehilangan kamu, dia baru sadar kalau kamu berharga dalam hidupnya, kamu adalah sosok yang dicintainya. Sejak bicara denganmu, dia mulai tertampar. Sosoknya yang begitu buruk, masih dipertemukan dengan orang sebaik kamu, yang sama sekali tidak menyimpan dendam. Dia merasa malu dan mulai merenung. Lantas belajar memperbaiki diri dan memohon ampunan Tuhan. Selama ini, dia sering menghabisi nyawa. Dia takut suatu saat hal yang sama terjadi padanya. Jika benar, maka kematiannya akan sia-sia. Tapi, lain halnya dengan begini. Dengan mengakui semua tindak kriminal, dia juga bisa menyeret beberapa oknum yang terlibat. Dia bisa membantu polisi mengungkap kejahatan. Selain itu, kesalahan sudah dipertanggungjawabkan, jadi dia bisa pergi dengan tenang." David kembali bicara panjang lebar.
"Saya mengerti." Nadhea menjawab pelan.
"Terkadang bisnis memang sekeras ini, tapi kamu tidak perlu takut, kita tidak harus memilih jalan itu. Namun, kamu juga harus tahu, semakin rendah resiko makan semakin rendah pula hasil yang didapat, begitu pun sebaliknya. Tidak udah kujelaskan panjang kenapa bisnisku kalah jauh dengan Arsen. Intinya, aku tidak berani mengambil resiko tinggi."
"Iya, saya paham," jawab Nadhea diiringi anggukan.
David tersenyum, kemudian mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Lantas, menaruhnya di atas meja dan menyodorkannya kepada Nadhea.
"Ini untukmu, kartu kredit milik Arsen. Ada sedikit tabungan untuk membiayai keseharianmu, syukur-syukur ada sisa untuk membuka usaha. Di sana juga ada tulisan tangan Arsen, ada sedikit pesan yang kemarin belum sempat diucapkan," ujar David.
Nadhea tersenyum sekilas, lalu meraih amplop cokelat yang disodorkan padanya. Sebelum Nadhea membuka, David terlebih dahulu beranjak.
"Karena kamu sudah menerimanya, maka aku pamit pergi. Ini kartu namaku, telepon saja jika butuh sesuatu, termasuk ... jika ayahmu kembali berulah!" David berkata sambil meletakkan kartu nama ke atas meja.
Nadhea mengucapkan banyak Terima kasih, lantas mengantar David hingga ke depan pintu. Setelah lelaki itu pergi, Nadhea langsung menuju kamar dan membuka amplopnya.
Bersambung...
__ADS_1