Noda

Noda
Oligospermia


__ADS_3

Azan subuh sudah berkumandang, tetapi mataku belum sedetik pun terpejam. Sejak menemukan lembaran menyesakkan, pikiranku kacau tak karuan. Selama delapan jam, aku hanya duduk di tepi ranjang sambil menatap wajah Kak Darren yang lelap dalam tidurnya. Entah sampai kapan obatnya akan bereaksi, rasanya sudah tidak sabar menunggu dia terbangun dan menanyakan semuanya.


Karena azan sudah berakhir, aku beranjak dan melangkah menuju kamar mandi, membersihkan diri sekaligus mengambil air wudhu.


Setelah itu, aku menggelar sajadah dan menunaikan salat subuh.


Beberapa menit kemudian, aku bersimpuh sambil menengadahkan tangan. Mengucap syukur atas segala kenikmatan, juga memohon ampunan atas segala kesalahan. Kemudian, aku mulai memanjatkan bai-bait doa.


"Ya Allah, berikanlah kemudahan untuk urusan ini. Lindungilah hamba dan Kak Darren. Peliharalah hubungan kami, jangan dibiarkan retak, apalagi terpisah." Kuusap wajah dengan telapak tangan.


Ketika aku masih bersimpuh dan memikirkan Kak Darren, tiba-tiba dia memanggilku dari belakang.


Aku menoleh dengan cepat dan mendapati dia sedang duduk di sofa sambil memijit pelipis.


"Kak Darren, sudah bangun, Kak?" Aku beranjak dan segera menghampirinya, bahkan rok mukenah sekadar kusingkap, belum sempat untuk melepas.


"Kepalaku sakit, Sayang. Aku ... sepertinya aku___"


"Minum dulu, Kak." Kuraih botol air di atas meja, lalu kusodorkan padanya.


"Apa yang terjadi, Sayang?" tanya Kak Darren seusai minum.


Aku duduk di sebelahnya sambil membuang napas kasar, "Mandilah, lantas salat, setelah itu kita bicara. Ada hal penting yang ingin kutanyakan padamu, Kak."


"Hal penting apa, Sayang?" Kak Darren menatapku.


"Mandilah dulu, Kak!"


"I-iya." Kak Darren melepas selimut, lalu bangkit dari duduknya.


Ekspresinya terlihat bingung saat melihat handuk yang menutupi sebagian tubuhnya. "Sayang, semalam ... kenapa aku tidur? Bahkan, aku belum ... belum___"


"Kak, mandi!" pungkasku dengan cepat dan tegas.


Kemudian, aku beranjak dan melangkah menuju ranjang, Kak Darren pun turut berjalan menuju kamar mandi. Usai melepas mukenah, aku duduk di atas ranjang, menunggu Kak Darren dengan harap-harap cemas.


Beberapa menit kemudian, Kak Darren keluar dari kamar mandi dan sempat menanyakan apa yang ingin kubicarakan. Namun, aku menolak dan menyuruhnya salat. Meskipun raut wajahnya sedikit kesal, tetapi Kak Darren menuruti ucapanku.


"Aku sudah selesai. Sekarang, katakan apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Kak Darren setelah menunaikan salat Subuh.


"Duduklah!" ucapku karena dia bertanya sambil berdiri.


Kak Darren berdecak pelan dan kemudian duduk di hadapanku. Sebelum bicara, kupandangi wajahnya yang masih sedikit basah. Hatiku bergetar dan perih saat teringat kembali dengan apa yang dia sembunyikan selama ini.


"Sayang___"

__ADS_1


"Jelasakan ini apa, Kak? Kenapa kamu menyembunyikannya dariku?" Kusodorkan lembaran yang kutemukan semalam—hasil tes darah yang menunjukkan bahwa dia menderita oligospermia* tingkat berat.


"Sa-sayang, kamu ... kamu." Kak Darren meraih lembaran itu dengan gugup.


"Itu bukan masalah sepele, Kak, tapi kenapa kamu menyimpannya sendiri? Kak Darren lupa dengan janji kita dulu? Atau memang sengaja belajar bohong? Mungkin ada hal lain yang lebih besar dari ini, yang ingin terus Kakak simpan sendiri." Aku mulai meninggikan intonasi.


"Sayang tidak seperti itu," kata Kak Darren. "Maafkan aku yang tidak jujur sama kamu. Aku tidak sempurna, Sayang. Aku takut kamu kecewa dan pergi. Aku tidak sanggup kehilangan kamu." Kak Darren menelungkupkan wajahnya di pangkuanku.


Aku salah tingkah dengan sikapnya. Selain menelungkupkan wajah dan menggenggam erat, dia juga terus meminta maaf.


"Kak___"


"Ini kudapat karena kebiasaan yang salah. Aku berlebihan mengonsumi alkohol dan akhirnya seperti ini. Maafkan aku yang tidak sempurna, Sayang. Aku terlalu bodoh di masa lalu," pungkas Kak Darren.


"Kak, bangunlah! Kita bicara baik-baik, jangan seperti ini!" ucapku.


"Tolong jangan pergi, Sayang, aku sangat mencintai kamu." Kak Darren masih tetap pada posisi semula.


"Serendah itu kah penilaianmu padaku, Kak?" tanyaku dengan tegas. Jujur, aku sangat kesal mendengar alasannya—sengaja tidak jujur karena takut aku kecewa dan pergi. Apakah dimatanya aku serendah itu?


"Sayang___"


"Bangunlah!"


Perlahan, Kak Darren bangkit dan menatapku dengan lekat. Bola matanya sedikit memburam dan bibirnya pun gemetaran, tampak jelas bahwa hal ini adalah sesuatu yang menyakitkan baginya.


"Kenapa___"


"Aku sering pulang telat juga karena ini, mampir dulu di rumah dokter. Maaf, Sayang, aku benar-benar takut kamu kecewa," pungkas Kak Darren.


"Aku mencintai kamu dengan tulus, Kak, seharusnya kamu tahu itu. Aku akan lebih senang jika hal ini kamu bicarakan sejak awal. Dengan begitu, aku tidak akan berburuk sangka sama kamu," jelasku.


"Kamu ... tidak kecewa sama aku?" Kak Darren menggenggam lenganku.


"Selagi hatimu tidak berubah, aku tetap mencintaimu apa pun keadaannya. Tapi ... aku sedikit kecewa karena Kak Darren terlalu lama menyembunyikannya." Kubalas tatapannya dengan lekat.


"Terima kasih, Sayang. Doakan saja semoga kondisiku lekas membaik agar buah cinta segera hadir di antara kita." Kak Darren memelukku dengan erat.


Aku tak membalas, justru tubuhnya sedikit kudorong agar pelukannya terlepas.


"Sayang___"


"Masih ada hal lain yang ingin kubicarakan," pungkasku.


"A-apa lagi, Sayang?" Ekspresinya mulai gugup.

__ADS_1


"Nama dokter yang tercantum di lembaran itu adalah laki-laki, bukan perempuan. Selain itu, dokter punya jam kerja walaupun dia buka praktik di rumah. Pelayanan 24 jam hanya IGD dan orang melahirkan." Kujeda ucapanku untuk melihat reaksi Kak Darren. Namun, dia hanya menunduk sambil mengeratkan genggaman.


"Kak Darren sering keluar malam dan pulang dini hari, sering juga menerima telepon pada waktu yang tidak wajar. Aku yakin itu tidak ada hubungannya dengan oligospermia ini," sambungku.


"Sayang, aku___"


"Siapa Angel? Kenapa waktu itu langsung dimatikan saat aku menerima teleponnya?" pungkasku dengan cepat.


"Sayang, itu ... itu ... itu tidak seperti dugaanmu. Dia hanya ... hanya ..., ahh." Kak Darren memijit pelipisnya.


"Karena Kak Darren sudah paham dengan dugaanku, jadi tolong jelaskan!" ujarku.


"Aku ... aku belum bisa menjelaskannya sekarang."


"Kenapa? Mau sampai kapan lagi kamu menyembunyikannya, Kak?" Intonasiku kembali tinggi.


"Sayang, tenanglah!" Kak Darren mencoba menenangkan, tetapi aku justru beranjak dan turun dari ranjang.


"Aku akan sangat kecewa jika kamu tidak mau bicara jujur, Kak. Seburuk atau sabaik apa pun itu, katakan!" Aku berucap sambil melipat tangan di dada.


"Beri aku sedikit waktu, Sayang."


"Tidak! Sudah cukup lama aku dibayang-bayangi prasangka. Katakan sekarang atau aku akan pulang ke rumah Ibu!" gertakku.


"Sayang, jangan bicara sembarangan!"


"Kenapa? Kamu saja boleh sembrangan menyembunyikan sesuatu," protesku.


"Sayang, ini___"


"Katakan atau aku akan pulang!" Lagi-lagi kupotong ucapannya.


"Baiklah." Kak Darren membuang napas kasar. "Sebenarnya, sebenarnya___"


"Cepat katakan, Kak!"


"Sebenarnya Angel adalah___"


Bersambung....


*Oligospermia adalah suatu kondisi di mana sel s****a yang terkandung dalam *** **** sangat sedikit (<15 juta per mili).


Tingkat ringan, 10-15 juta per mili.


Tingkat sedang, 5-10 juta per mili.

__ADS_1


Tingkat berat, 0-5 juta per mili.


Makin berat tingkatan, makin sedikit pula peluang untuk memiliki keturunan.


__ADS_2