Noda

Noda
Hari Pernikahan


__ADS_3

Waktu adalah sebuah hal yang cepat berlalu, apalagi bagi seseorang yang sedang mabuk asmara. Melewati waktu bersama kekasih yang dicintai, tentu saja jalannya waktu terasa lebih cepat dari biasanya.


Hal itulah yang sedang dirasakan Kennan saat ini. Mengisi hari dengan mempersiapkan pernikahan, diiringi senyuman dan ucapan selamat pagi dari calon istri, tentu saja sangat menyenangkan. Sampai-sampai ia tak sadar waktu telah mengantarnya pada hari sakral. Detik ini—dua bulan setelah meminang gadis impian, Kennan dituntut untuk mengikrarkan janji sucinya sebagai lelaki. Dia dan Athreya akan melaksanakan akad nikah.


Akad dilangsungkan pada pagi hari—pukul 10.00, dihadiri beberapa kerabat dan teman terdekat. Sementara resepsinya akan dilangsungkan nanti malam. Sejak pukul 09.00, Kennan dan keluarganya sudah tiba di kediaman Darren. Mereka menunggu penghulu sembari berbincang dan menikmati jamuan yang sudah disediakan.


Canda dan gelak tawa terdengar nyaring memenuhi ruang tamu, yang sudah disulap dengan dekor indah nan mewah. Sementara itu, calon mempelai wanita sedang dirias di dalam kamar. Berbalutkan gaun panjang putih dengan taburan batu permata aneka warna, rambut panjang nan hitam digulung dan ditutup kerudung panjang berenda, wajah ayu nan manis dipoles mekap hingga menyerupai sang dewi.


"Bunda, apakah ini benar-benar aku?" ucap Athreya ketika memandangi pantulan dirinya di dalam cermin, sangat cantik, bahkan ia tak percaya itu adalah dirinya.


"Menurutmu siapa lagi?" Kirana tersenyum sambil mengusap lembut pipi Athreya.


Ketika mereka masih berbincang, MUA memberikan sentuhan terakhirnya—mahkota kecil dan roncean bunga melati. Bertepatan dengan itu, Kaivan mengetuk pintu dari luar.


"Bunda, apa Reya sudah selesai? Penghulunya sudah datang," teriak Kaivan.


Usai menyahut teriakan Kaivan, Kirana membantu Athreya mengambil high hells yang disimpan dalam rak, sedangkan Athreya menyemprotkan parfum ke tubuh.

__ADS_1


Setelah itu, Kirana dan Kaivan membimbing Athreya ke ruang tamu—mempersiapkan ijab kabul.


Setibanya di sana, Athreya sukses membuat Kennan tak berkedip, bahkan memudarkan rasa percaya diri yang ada pada lelaki itu. Diam-diam Athreya juga tersipu, jantungnya pun berdetak cepat ketika membayangkan sosok yang saban hari kerap merayu, sebentar lagi menjadi pasangan halalnya.


"Ken, jaga mata, belum sah!" tegur Kaivan dengan diiringi senyum miring.


Kennan tak menanggapi, hanya menunduk sembari menenangkan hati yang terus berdebar, terlebih saat wangi parfum Athreya mulai menyeruak di hidung.


Setelah semuanya siap, penghulu mulai mengucap basmallah. Lantas, menjabat tangan Kennan dan mengucap ikrar dengan lantang.


"Saya nikahkan engkau Kennan Zay Verdan Bin Setyo Adi dengan Athreya Azzahra Binti Darren Alfando dengan mas kawin tiga puluh gram emas dibayar tunai."


"Bagaimana Saksi, sah?"


"Sah!"


Usai terdengar gema teriakan 'sah' dari para saksi, penghulu memimpin doa dan selawat. Selepas itu, Kennan melafazkan doa sembari menyentuh ubun-ubun Athreya dan kemudian mencium keningnya, dilanjut dengan tukar cincin khas pengantin.

__ADS_1


Senyum dan tangis haru mewarnai jalannya acara, terlebih lagi saat kedua mempelai meminta restu pada orang tua. Kirana tak bisa menahan air mata, Athreya adalah anak gadis yang amat disayangi, kini telah dewasa dan melepas masa lajang. Tak cukup lima menit Kirana menasihati Kennan, mewanti-wanti agar tidak menyakiti putrinya. Begitu pula dengan Darren.


Usai meminta restu pada Darren dan Kirana, Kennan menghampiri Kaivan, sosok sahabat yang kini menjadi kakak ipar. Mereka saling berpelukan dan menepuk punggung masing-masing.


"Jaga dia! Aku nggak akan segan kalau kamu menyakitinya," ujar Kaivan.


"Dalam mimpi pun aku tidak akan melakukan itu, Kai," sahut Kennan.


____________________


Dentuman musik romantis yang terus mengalun, tampak serasi dengan gemerlap lampu kristal yang menggantung di antara kain-kain renda. Bising tawa dan perbincangan, juga sanjungan serta ucapan selamat, menggambarkan betapa bahagia suasana saat itu.


Resepsi pernikahan antara Kennan dan Athreya sudah digelar. Beberapa tamu undangan sudah datang dan menikmati jamuan, mereka turut senang atas hari bahagia antara dua insan. Namun, ada satu orang yang menyendiri dan merenung. Bukan patah hati atau iri, melainkan merenungi nasibnya sendiri.


Seorang lelaki tampan dengan balutan kemeja dan celana putih, sedang duduk di kursi, di dekat kolam renang. Matanya menatap datar, sedangkan bibirnya asyik menyesap rokok yang tinggal setengah batang.


Tak lama kemudian, ketenangannya terusik. Ada suara wanita yang datang mendekat, yang sontak saja membuyarkan kenangan dan harapan.

__ADS_1


"Apa kabar?"


Bersambung...


__ADS_2