Noda

Noda
Tiba Di Rumah


__ADS_3

Hujan mengguyur dengan derasnya, berulang kali halilintar menggelegar melanglang buana. Angin bertiup kencang membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Karena alam tidak bersahabat, Kaivan dan kawan-kawannya gagal mendirikan tenda. Mereka berteduh di gazebo.


Sebenarnya, jarum jam baru menunjukkan pukul 07.00 malam. Namun, suasana terasa mencekam karena di mana-mana sekadar kegelapan. Pendar sinar hanya ada di dalam gazebo, itu pun tidak benderang.


"Kai, nasib cewek tadi gimana?" celetuk Nakula. Usai mendengar cerita Kaivan, dia menaruh sedikit simpati pada Nadhea.


"Entahlah." Kaivan menjawab asal. Bukan karena tidak peduli, melainkan berusaha menepis rasa khawatirnya.


Lantas, mereka semua saling berpandangan. Tidak ada lagi yang bersuara, sekadar mengucap bait-bait doa untuk seseorang yang bernama Nadhea.


"Walaupun tidak mengharapkan pertemuan ketiga, tetapi aku berharap kamu baik-baik saja. Jika kamu memang mencintaiku, tolong kabulkan harapanku," batin Kaivan sembari menatap guyuran hujan, seolah dia menitipkan pesannya di sana.


Jarum jam terus berputar hingga tiba di angka dua belas. Hujan sudah mereda, pun dengan halilintar dan tiupan angin. Nakula dan yang lainnya mulai memejam, tetapi tidak dengan Kaivan. Kendati dia turut berbaring, tetapi matanya tetap terbuka lebar. Dia masih memikirkan keadaan Nadhea. Apakah dia selamat? Ataukah justru mengalami nasib malang?


Kaivan menutup wajahnya dengan kedua tangan, sebisa mungkin mengusir prasangka-prasangka buruk.


"Kamu harus selamat! Ingat, kamu sudah janji untuk mengembalikan jaketku," batinnya.


Pada saat yang sama, di tempat yang berbeda, Nadhea sedang duduk di depan cermin sambil menatap pantulan dirinya. Wajah manis dipoles mekap tipis, rambut panjang digerai begitu saja, serta kaus hitam dan blazer warna merah membalut tubuhnya. Usai menilik wajahnya sendiri, Nadhea beralih menatap layar ponsel yang ada digenggaman. Di sana, terpampang jelas foto Kaivan yang sedang tersenyum sambil memandangi kamera.


"Kamu lucu kalau marah-marah," ucap Nadhea.


"Sorry, ya, Kai, kalau sikapku bikin kamu jengkel. Aku sedang menghibur diri dengan kebohongan. Aku ingin orang-orang tahu bahwa aku ini perempuan tegar." Nadhea mengusap foto Kaivan dengan pelan. "Aku sangat kagum dengan sifatmu," sambungnya dengan senyum yang mengembang.


Setelah puas memandangi foto Kaivan, Nadhea mematikan ponselnya dan menunduk. Lantas, memijit pelipis dan berusaha melupakan orang-orang yang membuat hidupnya tidak nyaman. Tak lama kemudian, pintu ruangan dibuka dari luar. Nadhea mendongak dan menatap sosok yang datang menghampirinya.


"Kita terbang malam ini!"


"Iya." Nadhea menjawab sambil beranjak. Lantas, menyambar tas selempang dan ponsel. Kemudian, keduanya melangkah meninggalkan ruangan.


_____________________


Keesokan harinya, Kaivan dan kawan-kawannya meneruskan pendakian. Meski terpaksa berangkat siang karena hujan semalam, tetapi perjalanan mereka lancar hingga Pos 4 atau Pos Pelawangan Sembalun. Dari Pos 2 ke Pos 3 menghabiskan waktu selama 4 jam, sedangkan dari Pos 3 ke Pos 4 menghabiskan waktu hampir 5 jam. Dalam perjalanan menuju Pos 4, Kaivan dan teman-temannya sering beristirahat di bawah pohon cemara yang berjajar indah di sana. Selain untuk mengatur napas, mereka juga memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil foto.

__ADS_1


Setibanya di Pos 4, mereka disuguhi pemandangan yang menakjubkan—Danau Segara Anak. Kebetulan, saat itu tidak turun kabut, sehingga panoramanya dapat dinikmati secara sempurna. Kaivan dan kawan-kawannya tiba di sana pukul 04.00 sore. Lantas, mereka memutuskan untuk beristirahat dan melanjutkan pendakian esok hari.


Dari Pos 4 ke Puncak Rinjani membutuhkan waktu antara 5 sampai 6 jam. Track-nya sangat terjal dan udara pun makin dingin, sehingga membutuhkan stamina ekstra dan bekal yang ektra pula untuk mencapai sana. Itu sebabnya, Nakula mengajak teman-temannya beristirahat sambil menyiapkan bekal.


Setelah bermalam di Pos 4, mereka melanjutkan perjalanan sejak pukul 02.00 pagi. Beruntung, kala itu cuaca sangat bersahabat.


Pada pukul 09.00, mereka tiba di Puncak Rinjani. Senyum puas terkulum di bibir masing-masing. Walaupun lelah, tetapi sekarang berbayar sudah. Mereka tiba di posisi tertinggi dan bisa menikmati keindahan alam dengan leluasa.


Setelah puas menikmati segala pesona yang ada di puncak, Kaivan dan kawan-kawannya kembali pulang. Walau jaraknya sama, tetapi menurun jauh lebih cepat dibandingkan saat mendaki. Mereka hanya membutuhkan waktu sehari semalam untuk tiba di Desa Sembalun.


Keesokan harinya, mereka kembali ke hotel dan melancarkan agenda kedua, yakni menikmati kuliner dan membeli oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Penat dan lelah tak mereka rasa, biarlah memudar bersama rasa puas atas tercapainya sebuah keinginan.


Saat ini, jarum jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Elbi dan Kennan sudah terlelap, tetapi Kaivan masih terjaga. Hatinya terlalu bahagia, sehingga tidak ada keinginan untuk terlena. Selain mimpinya mendaki Rinjani sudah tercapai sempurna, perasaannya lega karena Nadhea baik-baik saja. Terbukti dari kiriman jaket yang mendarat sempurna di tempatnya.


"Syukurlah, kamu mau mengabulkan harapanku," gumam Kaivan sembari memandangi jaketnya yang dibungkus rapi dengan plastik bening. Menurut tebakan Kaivan, Nadhea tidak mencucinya sendiri, melainkan memakai jasa laundry.


________________________


"Kak Kai! Aku kangen." Athreya berlari dan menghambur ke pelukan Kaivan, yang kala itu baru saja menginjakkan kaki di rumahnya.


"Aku khawatir banget waktu itu, takut Kak Kai kenapa-napa. Jangan pergi-pergi lagi ya, Kak," pinta Athreya.


"Kakak pasti baik-baik saja, Reya." Kaivan mengusap puncak kepala Athreya sambil tersenyum lebar.


"Syukurlah Allah masih melindungimu, Nak. Rasanya hati Bunda sudah copot waktu itu," timpal Kirana.


"Maafin aku ya, Bunda, Papa, Reya. Aku sudah membuat kalian khawatir." Kaivan menatap orang tua dan adiknya secara bergantian.


"Sudahlah, tidak perlu mengingat-ngingat hal buruk. Ayo cepat masuk, Bibi sudah menyiapkan makanan kesukaanmu!" kata Darren.


"Aku akan mandi dulu, Pa," jawab Kaivan.


Hari ini, dia sudah kembali dari Lombok dan tadi orang tuanya yang menjemput di bandara. Kini, mereka mengajak makan bersama, tetapi Kaivan akan membersihkan diri terlebih dahulu.

__ADS_1


"Bunda, Reya!" panggil Kaivan ketika melihat ibu dan adiknya hendak menuju meja makan.


"Iya, Kak."


"Aku ada sedikit oleh-oleh. Dibuka yuk!" ajak Kaivan sambil mengulum senyum.


Athreya mengiakan ajakan kakaknya dengan antusias dan Kirana mengikutinya. Tak lama kemudian, Darren pun turut serta. Daripada seorang diri di meja makan, pikirnya.


Sesaat kemudian, mereka berempat tiba di depan kamar Kaivan. Ketika pintu sudah terbuka lebar, senyum manis Kaivan merekah sempurna. Setelah berkelana jauh hingga berhari-hari, akhirnya dia kembali ke istana pribadi.


"Aku mandi dulu ya, Bunda." Kaivan berujar sambil meletakkan tas besar ke atas sofa.


"Iya."


"Oleh-olehnya di sini, Kak?" Athreya bertanya sambil menunjuk tas milik kakaknya.


"Iya, buka aja!" Kaivan melepaskan kemeja dan berlalu menuju kamar mandi.


Kaivan berendam sebentar di dalam air hangat untuk melepaskan penat akibat perjalanan panjang. Sembari menatap langit-langit ruangan, dia mengingat beberapa oleh-oleh yang dibeli semalam. Kain songket, kaus nuansa Lombok, dodol rumput laut, dan yang paling istimewa adalah gelang mutiara Lombok, yang dibeli khusus untuk ibu dan adiknya.


"Semoga Bunda dan Reya suka," gumam Kaivan.


Ketika Kaivan masih menikmati rendaman, tiba-tiba pintu diketuk keras, lengkap dengan suara Kirana yang melengking tinggi.


"Iya, Bunda," sahut Kaivan. Meski sedikit enggan, tetapi dia beranjak dan membalut tubuhnya dengan handuk.


"Aku belum mandi loh, Bunda. Kenapa nggak nanti aja sih?" protes Kaivan setelah membuka pintu.


"Apa yang kamu lakukan di Rinjani?" tanya Kirana dengan keras dan tegas.


"Ya, mendaki, Bunda." Kaivan menggaruk kepala, merasa heran dengan pertanyaan ibunya. Dia tidak melakukan kesalahan, tetapi tatapan itu seolah menyudutkan.


"Jelaskan ini apa, Kaivan!" Darren yang angkat bicara. Dia menatap tajam sambil menunjukkan dua barang yang membuat Kaivan mati langkah.

__ADS_1


"Oh tidak," batin Kaivan. Bintik-bintik air hangat yang membasahi tubuhnya, kini luruh dan berganti dengan kucuran keringat dingin.


Bersambung...


__ADS_2